Lupa Sandi?
/ Front

Kebangkitan yang Tidak Terelakkan

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kebangkitan yang Tidak Terelakkan
Dalam sebuah pertemuan informal dengan seorang kolega dari sebuah negara di Eropa pada paruh akhir 2010, saya mendapatkan sebuah pertanyaan yang menggelitik mengenai kesiapan Indonesia di ambang resesi dunia yang kedua dalam tahun belakangan ini. Saat itu dunia sedang dalam proses pemulihan krisis yang dipicu subprime mortgage di Amerika yang berimbas ke seluruh dunia, termasuk negara-negara tetangga Indonesia yang mencatat pertumbuhan negatif, namun PDB Indonesia tetap tumbuh 4.5% karena didukung oleh meningkatnya daya beli masyarakat yang memicu pertumbuhan konsumsi yang tetap menggerakkan ekonomi. Pertanyaan kolega saya dari Eropa itu sederhana, “Apakah Indonesia mampu keluar dari krisis saat ini?” (image by FriscoDude) Bukan hal yang mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, bukan hanya karena hantaman krisis jilid II masih belum begitu terasa efeknya, tapi juga karena seolah ekonomi Indonesia sampai dengan tulisan ini ditulis, masih baik-baik saja. Beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan Indonesia tetap solid adalah: 1. Cadangan devisa Indonesia terus mencetak rekor baru. Pada akhir bulan julim telah menembus US$122.7 milyar atau sekitar Rp.1,055.22 trilyun dengan kurs Rp.8600/USD. 2. Catatan perdagangan Indonesia makin menguat. Pada bulan Juni 2011, Indonesia mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah ekspor dalam 1 bulan, yakni sebesar US US$18.30 milyar. Secara kumulatif pada semester I 2011, tercatat ekspor hamper mencapai US$100 milyar. Indonesia menargetkan total nilai ekspor 2011 sebesar US$200 milyar, pencapaian tertinggi dalam sejarah ekonomi Indonesia. 3. Pada semester I 2011, Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan yang fantastis, yakni sebesar US$15.05 milyar, naik dari US$10 milyar pada semester I 2010. Sebagai perbandingan, angka tersebut adalah rata-rata surplus perdagangan China selama satu bulan. 4. Minggu lalu, adalah minggu yang berat bagi bursa bursa di Asia, termasuk Indonesia. Meski turun, namun dari periode 3 Januari – 9 Agustus, IHSG tetap tumbuh 0.2%, dan IHSG adalah 1 dari 3 bursa regional (Thailand dan Filipina) yang tetap mencatatkan pertumbuhan pada periode itu, bandingkan dengan Nikkei yang menghunjam -15.25%, atau KLCI (Malaysia) yang turun -3.99%, atau HangSeng (Hongkong) yang turun -17.52%. 5. Inflasi Januari- Juli 2011 tercatat hanya 4.61% meski ekonomi tumbuh 6.5%. Indikator-indikator di atas tentunya adalah indikator tangible yang bisa jadi berubah seiring pergerakan ekonomi global, namun ada dua lagi potensi sangat besar yang menjadikan Indonesia akan menjadi Negara yang mau tidak mau tetap tumbuh, yakni kekayaan alam Indonesia, dan kekayaan demografis Indonesia, dimana hampir separuh dari penduduk Indonesia berusia dibawah 29 tahun, sebuah jumlah yang besar dan sangat signifikan untuk menggerakkan ekonomi Indonesia. Kolega saya dari Eropa itu mungkin akan cukup puas dengan jawaban di atas. Sumber data: - BPS - BEI - CNN.cm - Bloomberg.com   Written for Good News From Indonesia by Akhyari Hananto

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie