Lupa Sandi?
/ Front

Semangat Garuda Muda, Semangat Indonesia

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Semangat Garuda Muda, Semangat Indonesia
Pagi ini saya terbangun dengan senyum. Rasanya ada sedikit rasa tergelitik di hati setiap kali saya mengingat apa yang saya saksikan tadi malam. Campuran rasa sedih, bangga, dan haru mendominasi pikiran, bahkan sulit rasanya menulis artikel ini tanpa merasakan lagi hal yang sama. Inilah pertama kalinya bagi saya, emosi begitu lekat dalam sebuah pertandingan Sepakbola. Sepengetahuan orang awam seperti saya, sudah lama rasanya tidak mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai pemenang pertandingan sepakbola bergengsi seperti Sea Games. Maka ketika Garuda Muda menunjukkan cakarnya dalam pertandingan semifinal melawan Vietnam, tidak ada keraguan sedikitpun bagi saya untuk bergabung dengan puluhan ribu supporter lainnya untuk memerahkan Gelora Bung Karno (GBK). Walau bukan pengalaman pertama kali, hati saya tetap berdebar kencang setiap kali melihat kerumunan merah di GBK. Ada sesuatu yang magis dari perpaduan Sepakbola dan masyarakat umum Indonesia, seolah kerumunan merah ini rela mati demi Garuda Muda. Saya yakin sebagian besar supporter yang datang ke GBK, termasuk saya, tahu bahwa menonton di rumah, atau di cafe, adalah pilihan yang lebih menarik dan juga lebih nyaman untuk menonton pertandingan Sepakbola dibandingkan dengan menonton langsung di GBK yang penuh sesak dengan manusia. Saya juga paham bahwa kehadiran supporter mungkin tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap kemenangan team Garuda Muda. Tetapi saya tetap datang, dan sangat jelas terlihat bahwa saya tidak sendiri. Satu hal yang membuat saya ingin lagi dan lagi untuk menonton langsung di GBK adalah moment dimana lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman menyanyikan lagu Indonesia Raya bisa begitu menggugah hati. Lirik demi lirik yang dinyanyikan membawa optimisme yang tidak terbatas pada negri ini, seolah tak ada lagi yang berarti selain kemenangan malam ini. Adrenalin yang mulai meninggi, semangat, serta haru bercampur di dalam tiap bait Indonesia Raya. Ketika bait “Hiduplah Indonesia Raya..” mengakhiri lagu, teriakan semangat supporter mencapai puncaknya dan untuk beberapa detik saya mengira stadion ini bisa meledak karena teriakan itu. Pada malam Final, tiket habis terjual sebelum saya bahkan berencana untuk kembali ke GBK. Akhirnya saya putuskan dukungan terhadap Garuda Muda harus tetap ada walau hanya dijembatani oleh layar wide screen sebuah café. Tidak ada lagu Indonesia Raya semenggetarkan di GBK, namun antusiasme penonton tidak kalah semangat. Cina, Sunda, Jawa, Batak dan Papua melebur di café itu menjadi Indonesia. Setiap langkah maju dari Garuda Muda selalu mengundang tepuk tangan dan teriakan. Luar biasa, Garuda Muda berjuang seperti layaknya seekor Garuda yang pantang menyerah. Untuk saya, satu hal yang terbaca dari pertandingan malam itu, bahwa Garuda Muda tidak menunggu siapapun untuk membanggakan negri ini. Melalui usaha, keringat dan darah mereka sendiri terciptalah prestasi. Kadang menjadi tohokan yang tajam saat komentator menyebut umur para pemain Garuda Muda, mereka telah berbuat nyata untuk negri ini di umur sebelia itu, bagaimana dengan kita? Pertandingan malam itu telah membawa makna lebih dari sekedar kekalahan dari Malaysia. Dalam kaca mata saya, Garuda Muda dengan sukses menyampaikan pada dunia bahwa mereka telah menjadi perubahan yang ingin mereka lihat dari dunia. They are the change they have been longing to see, and they are the leader they have been waiting for. Sukses selalu Garuda Muda, tegakkan kepalamu, terbanglah tinggi ke awan. Perlihatkan kepada generasi muda Indonesia, bahwa menyalakan lilin selalu lebih baik dari berkeluh-kesah tentang kegelapan. Jakarta, 22 November 2011. written on Good News From Indonesia for MSN by Askiiasari Adityanthi
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas