Saya sudah ratusan kali naik pesawat, namun saya hanya 2 kali naik pesawat kecil berisi beberapa orang saja, yakni pesawat Cessna C208B Caravan milik Susi Air ketika terbang dari Medan ke Pulau Simeleu di Aceh, dan DHC-6 Twin Otter dari Honiara (ibukota Solomon Islands) ke Munda. Dan saya baru sekali naik helicopter, yakni Bell 429 milik Angkatan Laut Australia ketika berputar-putar di pulau-pulau kecil di atas Solomon Islands.

Namun saya hanya akan cerita mengenai Susi Air saja, dan kekaguman saya akan pemiliknya, yakni orang Sunda, asli Pangandaran, Jawa Barat bernama Susi Pudjiastuti. Ketika sedang menunggu keberangkatan saya dari Medan ke Pulau Simeleu (Aceh), saya melihat seorang wanita yang dengan gesit ikut membantu check in, mengatur luggage, dan merapikan tas yang belum ditutup sempurna. Baru kemudian saya tahu, bahwa beliaulah pemilik Susi Air, Bu Susi. Susi Air bukanlah sembarang maskapai yang didirikan untuk mendatangkan keuntungan semata.




Saya sempat berbincang dengan para calon penumpang yang lain, bahwa meski penumpang hanya 3 orang (pesawat Cessna Grand Caravan berpenumpang 10-12 orang), pesawat tetap terbang ke tujuan. Sebagian besar rute Susi Air adalah rute-rute perintis yang tidak diterbangi maskapai lain, sehingga keberadaannya adalah urat nadi bagi perekonomian rute tujuan. Susi Air juga adalah operator Cessna Grand Caravan terbesar di Asia, dan kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka akan membeli lagi puluhan pesawat yang sama.




Susi Air juga merupakan salah satu pengguna pertama pesawat charter mutakhir Piaggio Avanti, pesawat yang baling-balingnya justru menghadap ke belakang.

Komitmen dan kesungguhan Susi Pudjiastuti yang tidak hanya mencari keuntungan, tapi juga melayani dan mengabdi pada banyak orang yang membutuhkan, patut kita puji. Bangsa ini tentu membutuhkan lebih banyak pengusaha-pengusaha yang tidak hanya bermodal besar, namun juga berhati dan berjiwa besar, seperti beliau.

Salut, Bu Susi

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu