Lupa Sandi?
/ Front

Malaysia yang Tidak Arogan

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Malaysia yang Tidak Arogan

Oleh Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Membaca buku kumpulan tulisan Liew Chin Tong anggota parlemen muda Penang Malaysia yang berjudul: “Speaking for the REFORMASI GENERATION” saya ingat kondisi Indonesia semasa Orde Baru dulu. Pak Chin Tong - begitu saya menyebutnya menulis tentang hiruk pikuk politik di negeri Jiran dengan segala dinamikanya persis yang pernah kita alami di Indonesia pada masa lalu. Misalnya dia menulisL “we were a generation growing up without knowing any other Prime Minister except Dr Mahathir “. Di negeri kita dulu anak-anak muda generasi tahun 66 sampai 90 an – selama 36 tahun mengalami seperti yang dialami politisi muda Malaysia ini yakni tumbuh sebagai generasi yang hanya tahu presidennya cuma satu yaitu Suharto-selain itu tidak ada.




Pak Chin Tong juga menulis “In the kampung, the headman is also UMNO branch chairman. His wife is typically the branch wanita chief and occasionally, his son the youth chief…In typical Kampung, the village head cum UMNO branch chairman would know everyone by name; his wife may even know the names of the villagers’ cats”. Saya membacanya kalimat –kalimat itu sambil tertawa karena ingat persis jaman Orde Baru dulu dimana semua kepala desa, bupati walikota dan gubernur berasal dari satu partai yang berkuasa, seperti juga yang ditulis Pak Tong, disini juga kepala desa adalah ketua partai berkuasa, istrinya ketua perkumpulan wanita partai itu dan anaknya ketua organisasi pemuda partai itu. Kalau Pak Tong menulis – bahwa kepala kampung itu mengetahui nama-nama orang dibawah kekuasaannya bahkan istrinya bisa tahu nama-nama kucing penduduk, maka di Indonesia dulu kita ingat bahwa pohon-pohon di alun-alun dan diseluruh kota pun di cat dengan warna bendera partai politik yang berkuasa.

Syukur Alhamduilllah, kita di Indonesia sudah meninggalkan kondisi seperti itu sementara teman-teman kita di negeri jiran masih mengalaminya. Dinamika politik di negeri itu sangat mirip dengan yang terjadi di Indonesia dimana lawan-lawan politiknya di singkirkan dan dipenjara seperti yang dialami Datuk Anwar Ibrahim. Kita bersyukur bahwa se-jahat2nya polisi kita dalam era keterbukaan ini tidak pernah memukul babak belur seorang pimpinan nomor dua di negeri yang dipenjara. Sementara Datuk Anwar Ibrahim beberapa tahun yang lalu pernah di pukuli bertubi-tubi oleh kepala polisi sampai kedua matanya merah biru. Kita bersyukur bahwa era diktatorisme di negeri ini sudah berlalu dan kita bisa bernafas lega untuk menatap Indonesia yang lebih maju kedepannya.

Saya sendiri bertemu dengan Pak Chin Tong bersama penulis Malyasia terkenal Karim Raslan (seorang pecinta Indonesia) bulan 20 Desember 2011 yang lalu. Saya dan Akhyar Hananto (penggagas goodnewsfromindonesia ini) berdiskusi dengan dia tentang Pesantren, tentang NU dan Muhammadiyah, tentang politik Indonesia, tentang media dan ekonomi Indonesia dan Jawa Timur. Saya kenalkan dia dengan kolega saya Pak Aribowo Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang juga pengamat politik. Saya perhatikan Pak Chin Tong ini adalah anggota DPRD Penang yang sangat aktif dan mau belajar banyak dari pengalaman Indonesia. Dia sangat menyimak betul penjelasan Pak Aribowo tentang voting behavior di Indonesia, tentang swing voters, tentang pilkada, tentang partai politik dsb.

Pak Chin Tong ini adalah anggota parlemen dari DAP – Democratic Action Party. Partainya itu berkoalisi dengan PAS – partai Islam di Malaysia dan PKR – Partai Keadilan Rakyat yang didirikan Datuk Anwar Ibrahim. Ketiga partai ini berupaya memenangkan Pemilu raya di Malaysia dengan menggeser UMNO partai yang berkuasa saat ini. Pak Chin Tong ini sangat mengagumi Datuk Anwar Ibrahim dengan sering mendengarkan pidato politiknya dimana-mana. Ketiga partai koalisi ini bermaksud mengusung Datuk Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri Malaysia. Dan Pak Chin Tong mengakui bahwa dia banyak belajar dari Reformasi yang terjadi di Indonesia yang sampai menumbangkan Suharto.




Dalam wawancaranya dengan wartawan Jawa Pos setelah di bebaskan dari tuduhan kasus sodomi, Datuk Anwar Ibrahim berjanji bahwa kalau dia menjadi Perdana Menteri Malaysia dia akan menampilkan Malaysia yang tidak arogan terhadap Indonesia sebagai negeri jiran yang terdekat. Bagi kita siapapun yang akan memimpin Malaysia, maka sikap arogan tidak boleh dikedepankan terhadap negara yang serumpun ini. Kalau tidak, meskipun sama-sama memiliki akar budaya dan bahasa yang sama, akan tetap menjadi tetangga yang asing.

Semoga, Pak Chin Tong kawan baru saya ini mendapat pelajaran yang menarik dari negeri kita dengan mengambil mana-mana yang baik untuk demokrasi yang akan terjadi di Malaysia.

Penulis adalah alumni of University of London dan Universitas Airlangga Surabaya, sekarang dosen di STIE PERBANAS Surabaya.

Foto dari website Liew Chin Tong dan Anwar Ibrahim.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie