Pagi ini saya dikabari bahwa Mbak Kasmo, nenek yang mengasuh saya waktu kecil dulu, meninggal dunia. Umurnya memang sudah udzur, mungkin di atas 85 tahun, dan beliau sejak 5 hari terakhir memang sudah sakit, tidak kerso makan dan minum. Meninggalnya beliau memang sudah saya duga, meski memang tetap saja membuat saya begitu terpukul. Hampir 6 tahun saya diasuh oleh beliau, dari kecil hingga SD kelas 2. Tinggal di sebuah kampung terpencil di utara Yogyakarta, hijau, subur, dingin, dengan sungai-sungai berbatu yang berair jernih. Mbah Kasmo adalah memori masa kecil saya. Beliau yang tidak bisa baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan tak pernah pergi jauh, selalu mengajarkan pada saya, dan semua orang yang mengenalnya, akan bagaimana mencintai alam dan lingkungan sekitar, arti kerja keras tanpa lelah, dan arti welas asih terhadap sesama.   Dari beliau yang tak bisa baca tulis, saya diajari menggambar sapi, atau pohon kelapa, atau apa saja. Hingga kini, coretan2 saya di kursi, atau meja, atau pintu-pintu rumah mbah Kasmo, masih ada. Dan dari beliaulah saya belajar percaya diri akan tindakan saya.  Saya masih ingat sekali, mungkin saya berumur 3 atau 4 tahun, mbah Kasmo memasukkan saya dalam tenggok, semacam keranjang anyaman dari bambu yang biasanya digendong oleh kaum wanita untuk membawa macam-macam barang, dan menggendongnya sambil berjalan berkilo-kilo. Saya masih ingat, saya tidak tidur sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu. Entah bagaimana, mbah Kasmo yang bertelanjang kaki, dan waktu itupun tak lagi muda, mampu berjalan sejauh itu , melewati jalan berkerikil, hanya untuk mengirimkan makanan kepada suaminya yang bekerja di ladang, dan membantunya menanam benih kacang. Mbah Kasmo adalah generasi wanita-wanita Jawa yang perlahan mulai hilang. Wanita-wanita super tangguh, wanita-wanita yang jarang sekali mengeluh, tak pernah terlihat lelah. Mereka-mereka yang jarang sekali sakit, mereka yang makan hanya sedikit, mereka yang selalu menghindari konflik. Makin jarang kita menemukan orang-orang masa sekarang yang memiliki sikap dan karakter seperti generasi-generasi sebelum kita itu. Sambil menahan airmata, mohon doa dari para pembaca semua, agar arwah mbah Kasmo diterima di sisi-Nya. Sugeng tindak, Simbah..  

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu