Lupa Sandi?
/ MSN

Saya Memilih Optimis

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Saya Memilih Optimis
Saya dibuat terperangah oleh sebuah acara dialog di televisi kemaren malam. Entah darimana produser acara mendapatkan para pembicara dalam dialog tersebut, mereka yang begitu negatif dan pesimis memandang masa depan Indonesia. Sampai pada sebuah titik, dimana dia mengatakan bahwa negeri ini sudah kehilangan harapan. Tak terasa, mata saya basah, karena gelisah kenapa acara yang ditontonkan jutaan orang justru penuh berisi pesimisme dan negativisme memandang negeri ini. Bayangkan berapa banyak orang yang akan tertular virus negatifisme dan pesimisme. Bayangkan, negara besar dan dipenuhi para manusia-manusia pemberani ini, selalu diguyur pesimisme. Bayangkan, negeri yang kaya akan sejarah panjang peradaban, dan keindahan alam tiada tara, dinihilkan dengan berita-berita negatif tentangnya. Membayangkan itu semua, sekali lagi mata saya basah. Bagaimana Indonesia akan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain bila kita tak terus menjunjung harapan? Bagaimana anak cucu kita nanti akan sejahtera bila kita, nenek moyang mereka, adalah orang-orang yang sudah kehilangan harapan? Para pendiri bangsa ini, memerdekaan Indonesia ditengah segala kesulitan, kesatuan yang masih rapuh, kemiskinan yang absolut, jalan dan jembatan tak cukup panjang dan tak cukup banyak, sekolah dan rumah sakit belum banyak dibangun, tingkat buta huruf yang sangat tinggi, dan semua hambatan lain yang tak terbayangkan bagi kita yang hidup di masa ini. Soekarno, Moh Hatta, dan para pendiri bangsa ini tak pernah hilang harap, bahwa merekalah yang akan bekerja tanpa lelah, mereka yakin mereka lah yang harus menjaga asa, merekalah yang meretas jalan dan membalik segala kesulitan menjadi tantangan. Mereka melakukan semuanya untuk kita, anak cucu mereka. Mereka tentu tak ingin kita, yang hidup di jaman yang jauh lebih baik dari masa mereka,  menjadi orang-orang yang justru kehilangan harapan ditengah berbagai kesempatan. Para pendiri bangsa ini, para pendahulu kita, bukanlah orang-orang yang mudah putus asa. Lalu apa alasan kita sekarang untuk kehilangan harapan? Saya mengantarkan anak-anak saya sekolah pagi ini, agak lama mata saya mengikuti mereka menjauh dan memasuki kelas-kelas di sekolahnya. Saya selalu menantikan moment mereka melambaikan tangan ke saya. Moment yang membuat saya takkan pernah rela kehilangan harapan, karena anak-anak saya, sepenuhnya bergantung pada terus hidupnya asa dan harapan kita akan masa depan bangsa mereka yang lebih baik dari masa kita sekarang. Dan saya memilih optimis..
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie