Lupa Sandi?
/ MSN

Terima kasih, Ternate

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Terima kasih, Ternate
Mari berterima kasih kepada Ternate Saya tidak tahu pasti, apakah sejarah mengenai Ternate (dan Tidore) masih kerap dimunculkan dalam buku-buku sejarah, karena saya tidak lagi mengikuti pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah jaman sekarang di Indonesia. Namun pada jaman saya sekolah dulu, nama Ternate (dan Tidore) selalu muncul dalam setiap buku sejarah sekolah , maupun di sesi pelajaran sejarah di kelas, dan menjadi salah satu favorit saya. Dalam imajinasi saya, Ternate adalah ‘dreamland’ (tanah impian) yang diceritakan sebagai ‘suatu daerah yang subur makmur, kaya akan rempah, hijau, dengan gunung menjulang tinggi, dan laut biru membentang, dikelilingi pulau-pulau bak butiran-butiran mutiara’. Itulah imajinasi saya. Ditambah lagi dengan kisah para pejuang Ternate yang gagah berani mengusir penjajah. Saya berkesempatan mengunjungi pulau kecil itu, pulau sangat istimewa. Pulau ini sebenarnya (menurut saya) adalah gunung api yang muncul dari permukaan laut, dan ada sedikit dataran yang cukup landai untuk ditinggali. Inilah kota Ternate. Karena kondisi geografisnya yang seperti itu, di Ternate setiap saat kita bisa melihat dua keindahan sekaligus, Gunung Gamalama yang menjulang, dan pantai biru dan hamparan pulai-pulau di seberang. Ini tergambar di uang pecahan Rp. 1000 kita, Pulau Maitara, dan Tidore dilihat dari Ternate. Keindahan yang tidak mungkin bisa saya deskripsikan dalam tulisan di sini. Namun sayangnya, tidak banyak yang menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai Ternate. Pada masa-masa perjuangan, banyak dari kita yang lebih mengenal Kesultanan Aceh, Mataram, Makassar, atau Minangkabau. Padahal peran Kesultanan Ternate sama sekali tidak kalah pentingnya dalam perjuangan melawan penjajah barat.  Sangat penting malah. Di Ternate, saya sempat mengunjungi Istana Kesultanan Ternate, saksi bisu kegagah beranian Sultan Ternate  bersama rakyatnya mengusir penjajah barat. Saya merasa berat sekali menuju tangga-tangga menuju balkon di lantai atas. Berat sekali, seolah saya merasa tidak pantas memasuki sebuah ikon sejarah yang kontribusinya tidak ternilai bagi bangsa. Percaya atau tidak, seorang teman saya harus menarik tangan saya untuk naik, balkon di lantai. Di sana, saya biarkan imaginasi saya terbang jauh ke tahun 1550-an, tahun dimana untuk pertama kalinya penjajah barat, yakni portugis menyerang Ternate untuk menguasai Ternate dan kekayaannya. Bangsa Portugis melakukan pelayaran jauh ke ‘dunia di timur’ dengan maksud untuk mencari rempah-rempah. Setelah merebut dan menguasai Malaka (kini di Malaysia), mereka juga bermaksud untuk menguasai Maluku yang merupakan penghasil rempah rempah terbesar di Nusantara. Tak ingin menjadi Malaka kedua, sultan Ternate waktu itu, yakni Sultan Khairun mendeklarasikan rencana perang dalam rangka pengusiran Portugis. Perang Ternate-Portugis pertama pecah pada tahun 1559. Sultan Khairun mengerahkan tentara-tentara terbaiknya untuk menyerang kedudukan Portugis di pulau-pulau di Maluku dan Sulawesi. Portugis, yang di saat yang sama harus menahan gelombang serangan dari Kerajaan Aceh dan Demak di Malaka, tidak bisa mengirimkan bala tentara bantuan untuk menghadapu Ternate. Sultan Khairun pun sukses menahan ambisi Portugis sekaligus justru memenangkan banyak wilayah baru. Secara licik Gubernur Portugal, waktu itu, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh Sultan yang datang tanpa pengawalnya. Portugis mengira bahwa dengan membunuh sang sultan, maka otomatis semangat rakyat Ternate akan padam. Yang terjadi justru sebaliknya. Pembunuhan Sultan Khairun semakin mengobarkan semangat perang rakyat Ternate untuk menyingkirkan portugis , dan pecahlah Perang Ternate-Portugis II pada 1570. Seluruh garnisun dan markas tentara Portugis di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku untuk selamanya tahun 1575. Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera nusantara atas kekuatan barat. Buya Hamka menyebut kemenangan rakyat Ternate ini sangat penting bagi seluruh Indonesia karena menunda penjajahan barat atas nusantara selama kurang lebih 100 tahun. Baru kemudian Belanda datang pada tahun Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibagian timur, dari Philipina (Selatan) dibagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara dibagian selatan. Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 pulau” yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah nusantara kala itu. Saya membuka mata, dan melihat dengan mata berkaca-kaca apa yang saya lihat. Dari balkon istana Ternate, di depan saya terbentang kota ternate, benteng-benteng jaman dulu, dan laut yang memisahkannya dengan pulau-pulau lain dan pulau utama, Halmahera. Dari titik tempat saya berdiri itulah, Sultan-sultan Ternate memandang ke laut dengan berani kala melihat kapal-kapal perang Portugis mulai mendekat. Dari tempat saya berdiri itulah, beratus-ratus tahun lalu sultan ternate berdiskusi dengan para panglima perangnya menyusun strategi mengusir para penjajah barat itu. Dari tempat saya berdiri itulah, seluruh Nusantara terselamatkan dari penjajahan barat selama 100 tahun ke depan. Tak kuasa lagi saya berdiri di tempat itu. “Saya tak layak berdiri di sini” pikir saya sambil bergegas turun. Dan butiran airmata pun menetes. Terima kasih, Ternate
Pilih BanggaBangga91%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau9%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie