Tadi siang, seorang kawan di Jakarta mengirim foto saat dia sedang di sebuah jalan di Sukabumi, ternyata baru saja dari Gunung Padang, sebuah gunung dengan misteri yang hingga kini belum dipecahkan. Saya tanya padanya "Apakah benar Gunung Padang adalah sebuah Pyramid raksasa?" "Belum digali, Mas" jawabnya ringan. Mengingat Gunung Padang, saya selalu teringat benua Atlantis. Meski saya tak melihat dimana hubungannya, tapi tak ada salahnya mengait-ngaitkan ini dan itu, sekedar menyehatkan otak saya. ---- Entah berapa banyak orang Indonesia yang pernah mendengar kata “Atlantis”, entah berapa banyak yang faham apa itu Atlantis, entah berapa banyak yang paham dan tidak peduli. Saya pernah mencoba berdiskusi dengan beberapa orang yang saya anggap ahli di bidang sejarah mengenai Atlantis, namun jawabannya hampir seragam, “tidak penting bagi Indonesia”. Saya sendiri tidak begitu memikirkannya hingga ketika heboh penemuan artefak-artefak dari zaman prasejarah di situs Gunung Padang, Jawa Barat. Saya bahkan (mungkin) termasuk dari sedikit orang yang diperlihatkan gambar-gambar awal ekskavasi Gunung Padang yang ternyata penuh dengan bebatuan yang tersusun rapi layaknya piramid-piramid di Mesir atau Meksiko. Apa hubungan antara Gunung Padang, yang bentuk gunungnya saja (hampir) menyerupai piramid, dengan Atlantis, sang benua yang hilang? Mungkin ada, mungkin juga tidak. Tidak seorangpun tahu. Namun, bagi yang belum pernah mendengar atau mengetahui apa itu “benua atlantis yang hilang”, perlu difahami bahwa bisa jadi benua itu tidak benar-benar ada, dan hanya imajinasi seorang Plato saja. Namun bagaimanapun juga, mengingat reputasi Plato, banyak orang yang meyakini pada pada suatu masa, sebuah benua yang makmur bernama Atlantis memang benar ada, sebelum kemudian “hilang” entah bagaimana. Plato sendiri secara gamblang menyebutkan bahwa benua tersebut pada dialog Timaeus and Critias yang ditulisnya pada tahun 360 sebelum masehi. Di situ Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah sebuah negara maritim besar yang makmur dan begitu berkuasa, dan kekuasaannya jauh melampaui batas-batas wilayahnya. Negara itu mencapai puncak kejayaannya sekitar tahun 11.700 SM, sebelum akhirnya “ditelan laut” dalam waktu singkat. Sebelum saya bertanya "bagaimana negeri tersebut ditelat laut dalam waktu singkat", saya lebih tertarik untuk mengetahui dimana letak negara besar itu? Banyak hipotesis yang mengarah kepada beberapa tempat, misalnya di sekitar laut Mediterania, perbatasan Eropa Selatan dengan Afrika Utara, ada juga yang menyatakan bahwa Atlantis tenggelam di samudera Atlantic yang memisahkan benua Amerika dan Eropa, ada yang menduga bahwa Atlantis terletak di sekitar laut Karibia (Amerika Latin), bahkan ada yang meyakini bahwa Kutub Utara dulunya adalah Atlantis. Yang paling menarik, menurut saya adalah penelitian seorang ahli geologi Brazil, Professor Arysio Santos. Dalam bukunya yang tebal berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found ; The Definitive Localization of Plato’s Lost Continent” (Atlantis, Benua yang Hilang akhirnya Ditemukan; Lokasi Pasti Benua Hilang Plato)”, Prof Santos menulis bahwa Atlantis yang disebut-sebut Plato adalah Sundaland, atau Indonesia. Profesor Santos yang ahli fisika nuklir tersebut menyatakan bahwa satu-satunya alasan kenapa Atlantis tidak pernah ditemukan adalah karena dicari di tempat yang salah. Hmmm. Lokasi yang benar secara menyakinkan, menurutnya, adalah Indonesia. Dia mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini, dan menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Dalam buku karyanya, Prof Santos menyatakan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Entahlah..saya sendiri belum membaca bukunya. Kini buku tersebut tengah didebat di sana sini. Dr. Danny Hilman Natawidjaja, ahli geologi dari ITB pun sependapat dengan Prof Santos. Beliau menyatakan bahwa apa yang dikemukakan Plato beribu tahun lalu tentang ciri-ciri Atlantis, cukup pas dikaitkan dengan Indonesia. Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negeri tropis, dengan kekayaan alam yang luar biasa, dan peradaban yang maju. Negeri itu kemudian lenyap karena banjir yang luar biasa besarnya, mungkin karena tsunami. Dr Danny menyatakan bahwa deskripsi Plato tentang Atlantis tersebut; yakni kondisi geografis, jenis-jenis hewan, 2 musim, dan kekayaan alamnya, ‘pas’ dengan Sundaland antara 10 ribu hingga 20 ribu tahun lalu. Saya sendiri setuju dengan Dr Danny dan Prof Santos, bahwa apa yang ditulis Santos tentang Atlantis, mirip dengan ciri-ciri Nusantara. Namun saya tidak yakin bahwa Atlantis yang dimaksud Plato adalah benar-benar Indonesia di masa lalu, karena Plato sendiri tidak meninggalkan petunjuk lokasi yang jelas bahkan kisah yang ditulisnya pun tidak pernah selesai. Bisa jadi, Atlantis adalah sebuah fiksi yang diciptakan oleh Plato untuk melengkapi karya tulisnya, dimana dia memimpikan sebuah kerajaan yang makmur dan kuat. Bisa jadi juga, dia hanya mendengarnya sekilas dan kemudian menulisnya sesuai dengan ‘kebutuhan’ karyanya saat itu. Namun, saat saya menulis malam ini, penelitian artefak-artefak di Gunung Padang, Jawa Barat, masih berlangsung dan masih menarik perhatian banyak orang dan masih berlangsung. Banyak yang berharap, penelitian tersebut akan membawa penemuan dan informasi baru tentang peradaban awal Nusantara, meski tidak ada hubungannya sama sekali dengan Atlantis, namun setidaknya sejarah Indonesia yang menurut banyak buku sejarah baru dimulai dari sebuah kerajaan di Jawa Barat yang dipimpin Mulawarman akan ditulis kembali. Sungguh akan menjadi pekerjaan besar dan melelahkan. Di luar benar tidaknya Atlantis adalah Indonesia di masa prasejarah, namun kita layak memberi apresiasi kepada siapa saja yang menghubungkan keduanya, dengan berbagai data-data dari berbagai sisi. Karena, berkat mereka lah, kini diskusi-diskusi para ahli dunia tentang Atlantis, tidak pernah terlewat menyebut Indonesia. Bahkan buku prof Santos adalah salah satu buku best seller saat diluncurkan, dan hingga kini masih diburu mereka yang dilanda rasa ingin tahu. Pendapat Dr Danny pun tak kalah penting untuk kita apresiasi, karena pendapat beliau kemudian dimuat di Strait Times Singapura, Reuters, dan AFP. Sebuah promosi global yang eksotis tentang negeri luar biasa bernama Indonesia. Kapan National Geographic atau Discovery datang meliput? Mungkin kawan saya yang baru pulang dari Gunung Padang sudah berniat mengundang keduanya.  

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu