Lupa Sandi?
/ MSN

Kemana perginya Vietnam?

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kemana perginya Vietnam?
By Akhyari Hananto Sekali waktu pada 2009 saya berkunjung ke sebuah desa (mungkin lebih seperti kecamatan) bernama Vinh Nguon, di Vietnam yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Kamboja. Saya sengaja tidak k eke kota-kota besarnya, karena niat saya memang ingin merasakan suasana kampong sekaligus berinteraksi dengan masyarakat pedesaan di sana. Saya dijamu oleh sebuah keluarga untuk makan siang khas Vietnam. Sang kepala keluarga menceritakan bahwa keluarganya sedang menghadapi kesulitan keuangan, panennya gagal karena banjir, anak-anaknya harus membayar keperluan sekolah, dan dia perlu modal lagi untuk memulai lagi musim tanam. Belum lagi hutang-hutang yang belum dibayar. Mirip dengan kondisi banyak orang di Indonesia. Yang mengherankan saya, dari awal dia sama sekali tidak kelihatan sedih atau suram, bahkan dia tetap bersemangat dan tertawa-tawa. Di samping itu, kami dijamu dengan berbagai macam makanan yang lebih dari cukup, saya yakin, cukup menghabiskan uangnya. Melalui penerjemah saya, saya beranikan diri untuk bertanya “Kenapa Bapak tidak kelihatan sedih, atau putus asa, atau setidaknya bingung?” Jawabnya mengejutkan saya “Vietnam adalah negara kuat. Kami mengalahkan penjajah Prancis, kami mengalahkan penyerang dari China, kami mengusir tentara Amerika, kami menguasai Kamboja selama 10 tahun. Kami bangsa pejuang.  Kalau hanya tidak punya uang, itu sama sekali bukan masalah.” jawabnya sambil tertawa lebar. Entah dia becanda atau serius, tapi jawabannya masuk akal, dan saya setuju, Vietnam adalah negara yang sedang tumbuh kuat . Tapi itu tahun 2009 Kalau anda sedikit banyak mengikuti perkembangan ekonomi Vietnam hingga menjelang akhir 2000-an, ada suatu masa ketika Indonesia dibuat khawatir dan grogi bahwa di Asia Tenggara, Vietnam akan segera melewati Indonesia dan menjadi macan Asia baru seperti Korsel, Taiwan, atau Singapura.  Karena Vietnam punya semuanya; jumlah angkatan muda yang besar, garis pantainya yang panjang (mungkin sepanjang garis pantai Thailand), kaya sumber daya alam, berhasil swasembada pangan, and yang paling menggoda adalah karena letak geografisnya yang sangat strategis. Dibandingkan dengan Indonesia, Vietnam tentu saja lebih dekat dengan pusat ekonomi di Asia, Jepang, Korsel, dan bahkan berbatasan darat langsung dengan si raksasa China. Vietnam seolah-olah menjadi jembatan (wilayahnya seperti jembatan apung berbentuk huruf “S” yang membentang dari utara ke selatan) antara raksasa-raksasa ekonomi Asia Timur (China, Korsel, Jepang, ditambah Taiwan), dan wilayah Asia lain yang tumbuh, yakni Asia Tenggara. Setelah bangkit dari jurang kehancuran akibat Perang Vietnam, pemerintah mulai proses reformasi ekonomi besar-besaran, dikenal dengan Doi Moi, yakni proses seperti terbukanya pintu ekonomi China, yakni memberlakukan liberalisasi ekonomi tapi dengan control ketat oleh negara. Ekonomi tumbuh rata-rata 7%, dan puncaknya ketika negara komunis tersebut bergabung dengan WTO pada 2007, investasi asing langsung (FDI – Foreign Direct Investment) mengalir deras ke negara tersebut. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Menurut Bank Dunia, jika seluruh FDI yang mengalir ke Indonesia, Thailand, Malaysia dan Filipina pada tahun tersebut digabung, jumlahnya masih kalah besar dibandingkan dengan dollar yang mengalir ke Vietnam yang sedang bersemangat tersebut. Vietnam waktu itu adalah anak emasnya investor Internasional.  Vietnam selalu disebut dengan ‘The Little China’ atau ‘The Next China’. Apalagi, dalam beberapa hal, Vietnam memang mirip China. Kebijakan diatur oleh pusat, media dikontrol ketat, dan kebebasan berpendapat dibatasi. Seperti juga orang China, orang Vietnam terkenal pekerja keras, mencintai negeranya, disiplin, dan tidak mudah menyerah. Yang membedakan adalah kemampuan dan kapasitas pemerintahnya. Dan inilah yang menjadi penyebab awal runtuhnya reputasi Vietnam yang dipuja-puja sekian lama. Singkatnya, Vietnam telah berubah dari anak kesayangan investasi global menjadi pesakitan karena salah kelola. Banyak yang meyakini ketidakmampuan pemerintah Vietnam(yang mengatur ekonomi) yang begitu massif membanjiri negara tersebut, dan mengarah kepada (apa yang para ahli ekonomi sebut sebagai) ‘capital misallocation’. Dalam buku “Breakout Nations” karya Ruchir Sharma, disebutkan “Its rulers were neither prepared nor competent to handle the huge inrush of foreign capital in the last decade”. Intinya, penguasa Vietnam tidak kompeten mengelola banjir modal asing selama decade terakhir. Awalnya, arus modal asing dialokasikan untuk membangun infrastuktur berupa pelabuhan, jembatan, jalan tol. Modal asing juga masuk untuk membangun apartemen-apartemen, termasuk perumahan mewah, dan terakhir membangun kawasan-kawasan industry yang luasnya beribu hektar. Sayangnya, krisis global menghentikan arus modal dan investasi asing ke Vietnam, banyak proyek-proyek tersebut gagal diselesaikan dan berhenti di tengah jalan. Hal itu kemudian memaksa pemerintah Vietnam mendorong mati-matian agar bank-bank di negara tersebut mengalirkan kreditnya untuk menuntaskan proyek-proyek mahal tersebut. Kredit perbankan naik 400% sejak 2004, dan celakanya, tersalur ke proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan(termasuk BUMN) yang terkenal tidak efisien, dan dimiliki oleh para politisi yang memiliki kedekatan dengan pemerintah. Korupsi, kolusi dan nepotisme, istilah-istilah yang dikenal baik di Indonesia, juga menggerogoti Vietnam. Inilah yang makin menjauhkan Vietnam dari kepercayaan investor global. Dan akibat selanjutnya bisa ditebak, pertumbuhan ekonomi yang turun, inflasi naik, utang perbankan yang membengkak, BUMN-BUMN yang kolaps, dan deficit anggaran. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Vietnam sejak 2001 7.1% hingga tahun 2010 ketika ‘bencana’ itu bermula.. Pertumbuhan ekonomi Vietnam melambat menjadi 4,38% pada semester I 2012, pelambatan terbesar sepanjang tiga tahun terakhir, dan diperkirakan akan tertekan menjadi 5% untuk 2 tahun ke depan. Bagi negara-negara maju, tumbuh 5% sudah sangat luar biasa, tapi bagi negara yang lahir dari kemiskinan parah seperti Vietnam, tumbuh hanya 5% sama sekali tidak cukup. Vietnam masih memerlukan pertumbuhan tinggi untuk mengentaskan jutaan penduduknya dari kemiskinan. PArahnya, tidak jarang laju inflasi lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi. Selain itu, meski pendapatan per kapita naik dari $100 pada tahun 1986 menjadi sekitar $1300 pada 2010, infratsuktur dasar negara tersebut masih kurang memadai, seperti sekolah, rumah sakit, dan lain-lain. Inflasi tinggi juga makin menyulitkan negara tersebut karena masyarakat yang kehilangan daya beli harus berhadapan dengan naiknya harga-harga. Tahun 2012, diperkirakan inflasi akan berada di kisaran 6.5%-7%. Sektor perbankan Vietnam juga memiliki angka kredit macet tertinggi di negara-negara ASEAN, dimana diberitakan bahwa BUMN-BUMN negara tersebut memiliki pinjaman lebih dari $50 milyar (sekitar Rp. 450 trilyun), atau sepertiga dari seluruh PDB Vietnam, sebuah angka yang mengkhawatirkan karena, melihat ekonomi Vietnam yang justru turun, ada potensi default (gagal bayar). Belum cukup sampai di situ, Vietnam yang membutuhkan China sebagai mitra dagang utama untuk menjaga ekonomi Vietnam tetap tumbuh, justru memilih sikap ‘bermusuhan’ dengan tetangga dekatnya tersebut karena pertikaian masalah perbatasan terutama terkait Laut China Selatan. China adalah mitra dagang terbesar Vietnam, dan permusuhan dengan China berpotensi menurunkan nilai ekspor Vietnam ke negara tersebut, pun menurunnya turis China ke Vietnam. Dua-duanya memukul ekonomi, Jangankan Vietnam, raksasa ekonomi seperti Jepang pun mulai merasakan pahitnya bermusuhan dengan China terkait sengketa pulau Senkaku. Kini, disadari atau tidak, Indonesia (dan sedikit negara lain di dunia) menjadi anak kesayangan investor global. Investasi asing yang masuk ke Indonesia sangat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga stabilitas social. Reputasi Indonesia terbangun dari kebijakan fiscal yang sangat hati-hati, ketat, dan kadang menyakitkan. Reputasi ini tentu saja bisa hilang sewaktu-waktu, dan contoh paling baik untuk hal ini adalah Vietnam. Dalam kurang dari 10 tahun, pertumbuhan PDB naik 200%, saham-saham unggulan juga naik 2 kali lipat, pendapatan per kapita juga diyakini menyentuh angka $4000 tahun ini. Indonesia sepertinya sudah belajar dari kesalahan besar masa lalu yang menghancurkan sendi-sendi ekonomi bangsa pada 1998. Dan sepertinya, pembelajaran itu diwarisi dalam bentuk kehati-hatian fiscal. Mungkinkah Indonesia akan mengalami kejadian seperti Vietnam? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun tentu saja, bila hiruk pikuk politik tidak dijaga, perselisihan industrial terus terjadi tanpa solusi, dan KKN justru tumbuh subur, maka bencana ekonomi bisa saja terjadi. Dan Vietnam sudah memberi peringatan.
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata