Lupa Sandi?
/ MSN

Buah Tangan Dari Magelang

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Buah Tangan Dari Magelang

Kalau menyebutkan oleh-oleh makanan dari Magelang, orang tentu langsung berkata "Gethuk". Di posisi runner up, menyusul "Wajik".

by Dian Isnawati

Setahuku, yang mempopulerkan wajik sebagai oleh-oleh dari Magelang adalah Ny.Week. Tentu bagi semua orang yang pernah ke Magelang, Wajik Ny.Week ini sudah tidak asing lagi. Hampir di setiap toko oleh-oleh, besar maupun kecil, pasti gambar produk ini mendominasi. Namun kali ini bukan wajik yang sudah terkenal ini yang akan aku bahas, melainkan sebuah merk lain: Wajik Salaman.

Dari namanya saja, akan mudah diketahui wajik ini berasal dari mana. Yap, betul. Dari Salaman. Untuk orang Magelang pasti sudah tidak asing dengan nama Kecamatan Salaman. Salaman adalah sebuah "kota" kecamatan di sebelah selatan Magelang yang menuju arah Kabupaten Purworejo. Lokasi Wajik Salaman ini sendiri terletak di pinggir Jalan Raya Magelang-Purworejo, tepatnya di sekitar Pasar/Terminal Salaman. Kalau dari arah Magelang, dia di kanan jalan sebelum pertigaan Polsek Salaman. Sedangkan kalau dari Purworejo/Borobudur, dia di kiri jalan setelah pertigaan Polsek Salaman. Tokonya tidak megah seperti Pusat Oleh-oleh Tape Ketan Muntilan. Bahkan papan namanya pun tidak terlalu mencolok. Tapi cukup mudah dicari karena tidak ada toko wajik lain di sana. Eh, ada sih, pusatnya Ny.Week di dekat situ juga, tapi masih beberapa ratus meter lagi ke arah Krasak/Purworejo.

Papan namanya berlatar putih sehingga tidak terlalu terlihat. Untunglah sekarang ada shopblind dari sponsor sehingga lebih mencolok.

Toko sekaligus rumah produksi Wajik Salaman ini hanya ada satu, yaitu di Salaman saja. Produknya pun tidak dijual di tempat lain. Sedikit merepotkan memang. Apalagi mengingat Salaman relatif jauh dari Kota Magelang dan pusat-pusat berkumpulnya wisatawan di Magelang. Setahuku, ini dilakukan untuk menjaga kualitas produknya. Produksinya pun tidak besar-besaran, namun disesuaikan dengan kemampuan jual harian mereka. Karenanya, bisa dipastikan produk wajik di sana selalu baru.

Kenapa sih penting banget beli wajik yang baru? Tentu saja karena Wajik Salaman ini ngga pakai pengawet. Mereka mengandalkan cara memasak yang benar-benar tanak, sehingga wajik bisa tahan beberapa hari. Ketanakan saat memasak juga salah satu sebab wajiknya jadi enak dan lembut.

Wajik Salaman punya dua varian wajik. Yang pertama adalah favoritku, dengan pemanis gula jawa. Wajiknya berwarna coklat. Yang kedua adalah wajik dengan pemanis gula pasir. Wajiknya berwarna hijau.

Selain wajik, toko ini juga membuat berbagai oleh-oleh lain yang tidak kalah lezat: jenang dan krasikan. Krasikan adalah penganan yang terbuat dari beras ketan juga. Sebenarnya mirip dengan jenang, namun ada tumbukan beras ketan yang tidak terlalu halus, sehingga terasa seperti serpihan pasir. Seperti stereotipe orang Jawa yang sudah dikenal, aku suka sekali dengan makanan manis seperti  jenang dan krasikan yang rasanya khas gula jawa bercampur dengan kelapa/santan.

Jika teman-teman ingin membeli oleh-oleh khas Magelang, atau sekedar untuk camilan di rumah, cobalah wajik, jenang, dan krasikan dari Wajik Salaman ini. Memang butuh usaha lebih untuk menjangkaunya. Harganya pun lebih mahal dibanding oleh-oleh lain, seperti gethuk atau tape ketan. Terakhir aku beli kalau tidak salah Rp35.000 per kotak. Dan harganya ini tidak segan-segan naik saat harga bahan-bahan naik. Tapi kurasa itu bukan masalah karena kualitas dan kepercayaan konsumen lah yang mereka jaga. Terbukti dari selama bertahun-tahun keluargaku menjadi langganan, rasa dan kualitasnya tidak pernah berubah.

wajik dan krasikannya manisnya enak (gula asli) dan juga lembut

Catatan tambahan: tulisan ini aku buat dalam rangka mempopulerkan kembali kuliner Nusantara yang kaya ragam dan lezat. Juga dalam rangka mengurangi konsumsi jajanan berbahan dasar terigu yang tidak bisa kita produksi sendiri.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara