Lupa Sandi?

"Dekade yg Saya Lewatkan (bag II) : Boleh Hilang Kesabaran, Tak Boleh Hilang Harapan"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

cg

by Joaquin Monserrate*

Catatan 10 tahun Transformasi Indonesia

(sambungan dari bagian I)

Baca Juga

Mantan CEO Jawa Pos yang kini menjabat Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah menyampaikan pada malam penganugerahan Otonomi Award  yang lalu, bahwa orang Indonesia kini mulai hilang kesabaran terhadap pejabat yang tidak kompeten. Kebutuhan akan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) telah mendorong munculnya para pemimpin yang bagus. Ketika saya meninggalkan Indonesia tahun 2002, Walikota Bambang DH sedang menjalankan gaya kepimpinan barunya yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.  Hari ini, penggantinya bu Risma memiliki sikap yang hampir sama, dan keduanya dikenal telah memberikan ke Surabaya kombinasi yang baik antara good governance, dimana bisa kita lihat sampah dikelola dengan lebih baik, penghijauan di mana-mana, serta pelayanan-pelayanan public yang memadai. Kemanapun saya pergi, bahkan di kabupaten-kabupaten dan kota-kota yang kecil dan miskin, saya bisa menemukan pejabat pemerintahan yang begitu serius dengan tanggung jawab mereka terhadap masyarakat.

Makin sedikit orang yang punya minat pada gerakan radikal, populis, penghasutan, dan sektarian. Saat ini masyarakat Indonesia modern tidak lagi punya keinginan untuk ikut dalam ideologi yang memecah belah ini. Tentu saja, selalu ada sedikit suara nyaring yang menyuarakan agenda-agenda yang bisa membangkitkan kebencian satu sama lain; hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengabaikan mereka dan memastikan bahwa ajakan mereka tidak sampai mengarah kepada kekerasan. Indonesia mememiliki berbagai pandangan akan banyak hal ,tapi ada satu pandangan yang diamini oleh hampir semua orang, yakni zero tolerance (taka da toleransi) terhadap kekerasan.

Saya juga sering dikagetkan dengan banyaknya anak muda, dari semua lapisan kehidupan, yang aktif dalam banyak kegiatan sosial, entah mereka tergabung dalam LSM, di media, atau di organisasi politik. Masyarakat menjadi lebih terbuka dan cair, begitupun sistem politik di Indonesia.

 Saya takjub dengan bagaimana ekspresi keanekaragaman dalam agama ditampilkan secara terbuka, dimulai dari upacara yang dimulai dengan doa (Muslim in Jawa Timur, Kristen di NTT), sampai tampilnya imam dari berbagai agama di TV, dan begitu populernya jilbab. Kita bisa mendengar suara adzan di Flores, dan ucapan selamat natal dari pemerintah di Jawa Timur, dan hal tersebut menggambarkan betapa kebebasan untuk mengekspresikan agama seseorang yang dibarengi dengan meningkatnya penghargaan terhadap agama dan keyakinan orang lain. Jelas sekali jika enam agama sudah menemukan cara untuk hidup berdampingan, dan gesekan jarang terjadi antar mereka.

Bahkan kelompok marjinal seperti Syiah dan Ahmadiyah bisa hidup aman dan dihargai di sebagian besar Indonesia Timur, dan saya berharap ditempat dimana mereka sedang menghadapi kesulitan , seperti di Sampang, kalangan masyarakat mayoritas akan mengambil untuk melindungi saudara-saudara mereka yang rentan terhadap ancaman, sebagaimana yang kita harapkan dilakukan kelompok mayoritas di negara dimana Sunni adalah minoritas.

Saat ini, masyarakat tidak memberikan toleransi terhadap tindak korupsi, khususnya para anak muda. Hanya sedikit sekali orang yang tidak peduli dengan korupsi. Setiap orang yang saya kenal memuji apa yang sudah dilakukan oleh KPK, satu-satunya komplain yang saya dengar adalah mereka tidak mempunyai sumber daya yang cukup untuk menangkap semua koruptor. Jelas sudah, budaya impunitas sudah berakhir.

Saya tahu bahwa masih banyak yang harus di selesaikan, dan banyak teman serta kenalan saya seringkali tidak sabar akan  tahap-tahapan perubahan. Saya selalu mengatakan kepada mereka; usahakan untuk mulai terbiasa  dengan hal ini. Terbiasa untuk tidak sabar melihat suatu kenyataan tidak selalu seperti harapan kita. Ini terjadi di semua negara. Suatu negara tidak pernah selesai untuk memperbaiki diri. Demokrasi tidak pernah selesai. Kita semua perlu melakukan “pemeliharaan berkala” terhadap sistem kita. Kami di Amerika Serikat sudah mengalami hal ini selama 237 tahun, dan kami belum selesai.

Ini tidak pernah berhenti. Negara kita perlu terus berproses untuk menyempurnakan demokrasi kita, dan ketidaksabaran adalah mesin terbesar untuk perubahan. Kehilangan kesabaran tidaklah menjadi masalah, tetapi yang penting jangan pernah kehilangan harapan. Anda semua di Indonesia sudah mencapai banyak hal, dan Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Percayalah pada diri sendiri, Indonesia, akan sampai ke tujuan.

*Konsul Jenderal AS di Surabaya

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata