BlumbangReksa dari Jogja Wakili Indonesia di Kompetisi Teknologi Dunia

BlumbangReksa dari Jogja Wakili Indonesia di  Kompetisi Teknologi Dunia

BlumbangReksa dari Jogja Wakili Indonesia di Kompetisi Teknologi Dunia

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Indonesia termasuk negara  dengan budaya riset yang masih rendah. Rasio ilmuwan atau peneliti Indonesia hanya 205 orang per satu juta penduduk. Bandingkan dengan Jepang 5.573 orang atau Singapura 6.088 orang. Rendahnya kemajuan teknologi Indonesia juga terlihat dari minimnya anggaran pemerintah untuk riset, yakni hanya 0,08 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB) per tahun. Bandingkan dengan negara lain di Asia, dana riset di Jepang 3,40% dan Korea Selatan 4,04%. Di tengah minimnya budaya riset Indonesia ada kabar menyejukkan dari Atnic, sekumpulan mahasiswa jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada menjadi wakil Indonesia dalam Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional ASME IShow 2015. Karya mereka BlumbangReksa menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang bergengsi kompetisi karya-karya inovasi dari seluruh dunia itu. Sejak akhir 2014 Atnic didukung Indmira, sebuah perusahaan berbasis riset dan penelitian untuk mengembangkan piranti cerdas di bidang pertanian dan lingkungan. Permasalahan selama ini perubahan kondisi pada kolam tidak bisa diketahui dini, masalah baru diketahui setelah muncul gejala berupa gangguan atau bahkan kematian pada udang. Kerugian pun tak dapat dihindarkan. Teknologi BlumbangReksa memungkinkan setiap gejala abnormal pada kolam dapat diketahui secepat mungkin, sehingga resiko kegagalan produksi tambak udang dapat diminimalisir. Alat ini berupa perangkat Internet of Thing (IoT) yang memantau kondisi air tambak udang selama 24 jam sehari. Alat ini dilengkapi dengan modul GSM dan internet sehingga data kondisi air dapat diakses kapan saja dan dimana saja melalui gadget nonstop selama 24 jam.Petambak pun bisa melakukan penanganan kualitas air secara optimal, sehingga bertambak udang menjadi lebih ramah lingkungan. Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, founder Atnic melalui surat elektroniknya dari London berkata, “Kami punya mimpi melihat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Sangat miris melihat petani dan petambak kelaparan di lumbung padi dan ikan seperti negeri ini” Semoga hal ini semakin mendekatkan Indonesia menghasilkan inovasi teknologi yang bisa memberikan manfaat untuk masyarakat luas. Jangan lupa dukung Atnic dengan cara vote BlumbangReksa (hanya bisa vote di desktop/komputer) buka link http://bit.ly/blumbangs hingga tanggal 15 April 2015. Jayalah Indonesia!

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bahasa Paling Bahagia di Dunia Sebelummnya

Bahasa Paling Bahagia di Dunia

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.