Lima Dekade Es Krim Domino - Jember

Lima Dekade Es Krim Domino - Jember

Lima Dekade Es Krim Domino - Jember

Torus Tri Sanghana adalah kakek berbadan tegap dengan sorot mata tajam. Dia sedang menikmati beberapa coklat hitam dengan teh hangat saat beberapa pelanggan datang di kedai miliknya. Pria bernama asli Tee San Hiong ini merupakan pemilik kedai Es Krim Domino. Sebuah kedai makanan yang memfokuskan diri dalam panganan eskrim. Kedai ini sendiri sudah ada sejak 57 tahun lalu. “Warung ini mama saya yang bikin. Saya hanya meneruskan saja,” kata Torus, begitu dia disapa, sambil menyesap segelas teh pahit. Jember, Jawa Timur, sepanjang hari itu diterpa hujan sedari pagi. Namun menjelang malam hujan melimpah berganti rintik yang lelah. Torus duduk sendirian sambil menjaga kedai es krim Domino. Meski sudah berusia 90 tahun kakek ini tak mau diam dan membebani anak-anaknya. Setiap hari dia masih mengolah susu untuk dibuat es krim. Dia bercanda, bahwa meski usianya sudah menginjak sembilan puluh tahun, tapi jiwanya masih dua puluh tahun. Kedai yang dibangun oleh Un Hwa Nio ini awalnya dibangun di toko Robinson yang kini menjadi toko karpet. Seiring berjalannya waktu, Torus memutuskan untuk memindahkan kedai miliknya di dekat warung soto Dahlok. “Selain jual es krim, mama juga bikin roti untuk Belanda dulu. Kini yang warisi adik saya (Tee San Tiong) di toko dekat Robinson itu,” jelas Torus. Tee San Tiong atau Santoso Tirtawidjaja merupakan adik kandung Torus. Di usianya yang menginjak 75 tahun, dia masih turun tangan dalam pembuatan roti secara tradisional. “Kami masih jaga kualitas dari dulu. Tidak pakai pengawet buatan dan tak pakai bahan kimia,” jelas Santoso. Hal yang sama juga dilakukan oleh Torus dalam pembuatan eskrim sehingga memiliki reputasi yang sangat terjaga. Untuk membuat adonan es krim, dia mengolah susu telur dengan kualitas terjamin. Susu yang dipilih harus susu yang benar-benar segar dan baru diperas hari itu. Susu memang menjadi bahan utama es krim yang akan mempengaruhi kualitas rasa. Dan bagi Torus, lebih baik kedainya tutup dan tak membuat es krim kalau susu segar tak ada. Dia tak mau ambil resiko atas turunnya kualitas. Konsistensi Torus ini membuahkan hasil yang membanggakan. Pada 1990, warung es krim Domino mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Jember saat itu, R. AM Goenawan, sebagai restoran terbersih tahun itu. Juga mendapatkan penghargaan sebagai restoran dengan sanitasi yang memuaskan. “Kalau warung kita kotor, pelanggan akan kabur. Kalau bersih dan nyaman, pelanggan pasti puas,” jelas Torus. Kualitas dan kenikmatan es krim Domino tak berarti membuat warung ini menjadi ekslusif dan mahal. Malahan, untuk ukuran sebuah warung yang legendaris dan bertahan lebih dari lima abad, es krim Domino terbilang sangat murah – meski tidak murahan. Harga es krim yang dijual oleh Torus berkisar antara empat ribu rupiah sampai lima belas ribu rupiah. Harga ini membuat es krimnya dapat dinikmati oleh siapa saja. Banyak keluarga di Jember memiliki kenangan dengan es krim Domino. Rentang waktu buka es krim Domino memang sudah melewati banyak generasi. Salah satunya adalah Fatatati Nurdiana, gadis kelahiran Jember yang menjadi desainer di Jakarta. “Es krim Domino ini punya kenangan personal dengan keluarga saya, dengan almarhum ayah saya. Rasanya dari dulu sampai sekarang tetap enak,” kata Fatatati. Berkembangnya zaman telah membuat es krim domino melakukan perubahan dan modifikasi dalam proses rasa dan kreatif. Telah dibuat macam-macam rasa es krim baru dan bentuk es krim baru, seperti es krim bentuk cake dan campuran dengan buah. “Ada masukan dari anak dan mantu. Saya kira itu baik jadinya saya kembangkan sesuai zaman,” kata Torus. Di Jember ada perusahaan perkebunan negara yang mengembangkan cokelat. Dari situ Torus mendapatkan bahan baku utama cokelat. Dan salah satu es krim favorit di Es Krim Domino adalah es krim cokelat batang. Rasa es krim yang dihasilkan benar-bebar orisinil dan sehat. Dia mengaku tak mau pakai bahan buatan kimia. Baginya, semua harus asli, baik itu cokelat atau stroberi. Hari itu pemilik es krim Domino mengenang masa lalu. Mengenang bagaimana warung itu menjadi idola para remaja untuk menghabiskan waktu bercengkrama. “Sekarang anak saya juga bikin cabang di dekat Matahari (Pasar Tanjung). Saya ingin Domino tetap ada,” kata Torus pelan. Tertangkap sebuah ragu yang tertahan di sana. Sebuah kekawatiran jika eskrim legendaris yang banyak di kenal di mana-mana ini akan hilang ditelan zaman. Ditulis oleh Arman Dhani | Lenteratimur.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BlumbangReksa dari Jogja Wakili Indonesia di  Kompetisi Teknologi Dunia Sebelummnya

BlumbangReksa dari Jogja Wakili Indonesia di Kompetisi Teknologi Dunia

Goride Instan Bentuk Inovasi dan Tanggung Jawab dari Gojek Selanjutnya

Goride Instan Bentuk Inovasi dan Tanggung Jawab dari Gojek

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.