Lupa Sandi?

Kain Tradisional dan Kecintaan Terhadap Indonesia

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Kain Tradisional dan Kecintaan Terhadap Indonesia
Indonesia memiliki ragam kebudayaan, yang salah satunya adalah kain tradisional. Melalui motif di kain-kain tradisional, kita bisa belajar mencintai Indonesia. Minggu (26/4/2015) sore rumah bergaya betawi milik BI Heritage di Jalan Prapatan, Jakarta Pusat ramai dikunjungi orang-orang. Seluruh bagian rumah dihiasi dengan puluhan lembar kain nusantara dengan berbagai corak. Mulai dari batik bermotif kawung, songket, rangrang, hingga kain sutra sengkang, Sulawesi Selatan dipajang dan membuat ruangan lebih berwarna. Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan corak kain terbanyak di dunia. Jumlahnya bisa ribuan mulai corak kain asal Aceh hingga Papua. Setiap kain bak lukisan yang memiliki cerita, ciri khas dan pesan yang ingin disampaikan pembuatnya pada orang-orang. Kain-kain ini juga sangat beragam dan mewakili daerah asalnya. Jika dulu kain tradisional dinilai kuno dan ketinggalan zaman, kini citra kain tradisional dibuat sebagai identitas seorang warga Indonesia. "Berkain harus menjadi identitas bangsa. Berkain akan menguatkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia supaya kita tidak kalah dengan Malaysia dan India. Mereka sudah melekatkan identitas sejak dulu. Dengan berkain akan lebih kelihatan," kata Ketua Komunitas Berkain Indonesia, Sita Hany Mastuti saat berbincang dengan detikcom usai acara Woman Inspiring 2015 yang diadakan oleh Lions Club Indonesia. Melalui komunitas ini, Sita ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai Indonesia melalui kain tradisional. Berkain sendiri adalah menggunakan kain tradisional dalam berbagai kegiatan. Tak hanya sekedar di acara resepsi pernikahan atau acara resmi lainnya namun juga ke mal. Harapannya sederhana, ia ingin agar masyarakat tak lagi kaku melihat kain di tempat-tempat publik dalam suasana santai. Kesan tua pun ingin ia tanggalkan. "Bagus tidaknya kain sangat tergantung pada selera berbusana dan cara seseorang memadu padankan kainnya dengan atasannya. Bisa dengan kemeja biasa, baju kaos atau blazer," ucap ibu 1 anak ini. KCB ini memang menggiatkan kecintaan pada kain tradisional pada seluruh kalangan. Berkaca pada pengalaman pribadinya saat kecil, Sita menjelaskan ia sengaja menggaet ibu-ibu untuk menjadi anggota forum ini dengan harapan dapat menularkan cinta berkain pada anak-anaknya. Ia senang generasi muda saat ini sudah mulai menunjukkan ketertarikannya pada kain tradisional Indonesia. Dengan adaptasi sesuai perkembangan mode, kain-kain tradisional menjadi semakin elok dan akan membuat mereka 'kecanduan' dan mencari tahu lebih banyak soal hasil tenun nusantara. "?Anak muda kan lebih banyak bergerak sehingga akan lebih banyak terekspose dan modifikasi. Silakan bereksperimen. Mau dibuat dan dibentuk model rok mini atau model lainnya, silahkan. Pakai dulu, nanti perlahan akan mecintai dan mencari tahu soal kain," sambungnya. Menurut mantan arsitek ini, corak kain bak lukisan yang menyampaikan pesan hati sang pembuat. Karena itu, ia tak heran jika banyak orang yang mengatakan banyak kain yang membantu seseorang mengeluarkan aura positifnya. Waktu pengerjaannya pun lama, ada yang 2 bulan hingga 1 tahun. Ia ingin masyarakat Indonesia bersama-sama menjaga kelestarian kain nusantara. ?Soal harga yang mahal, menurutnya mengoleksi kain tradisional bisa menjadi investasi. Ia memberi contoh kain batik sogan Solo yang dipakainya malam itu. Batik itu dibelinya di Yogyakarta dengan harga Rp 17.000 di tahun 1985. Kain yang bercerita soal kekayaan laut itu jika dijual kini harganya bisa mencapai Rp 5 juta. Alasannya, karena termasuk batik lawasan yang sudah lama dengan bahan dasar sutera. Adanya kain-kain bermotif batik buatan Tiongkok dengan harga murah dinilai benar-benar mengancam keberlangsungan hidup penenun. Tidak akan bertahan jika seluruh kalangan bersama-sama tidak memberi 'pasar' untuk produk mereka. Penenun kain tradisional disebutnya semakin berkurang menyusul semakin menyusutnya pangsa pasar mereka. "Kalau kita nggak beli, kain printing buatan luar nggak akan punya pasar. Jangan sampai kekayaan milik kita tapi yang memanfaatkan secara ekonomi bangsa lain. Kalau bu?kan kita yang menghargai hasil para penenun kain kita, maka bangsa lain yang akan menghargainya," terang wanita penyuka warna hitam ini. Ia menceritakan bahwa tak sedikit peminat kain tradisional Indonesia berasal dari negara-negara benua Eropa. Corak yang atraktif, bernilai sejarah serta warna yang beragam disebutnya menjadi daya tarik utama kain-kain tersebut. Sita berharap generasi muda bisa belajar mencintai Indonesia? melalui kain tradisional. Hal ini bisa dimulai dengan ibu-ibu yang menurunkan kecintaanya dengan berkain dalam berbagai kesempatan pada anak-anaknya "Cinta dulu deh nanti pasti akan cari tahu soal kain-kain tradisional. Kalau sudah sering memakai, pasti akan jatuh cinta untuk terus berkain," pungkas sambil tersenyum. disadur dari DETIK

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas