Surabaya Raih "The Best of The Best Indonesia Digital Society Award 2015"

Surabaya Raih "The Best of The Best Indonesia Digital Society Award  2015"

Surabaya Raih "The Best of The Best Indonesia Digital Society Award 2015"

Kota Surabaya meraih kategori tertinggi dalam Indonesia Digital Society Award  2015 (IDSA 2015). Penghargaan ini langsung diberikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan diterima oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Penghargaan yang sama juga diterima oleh Kota Yogyakarta.
Seperti tahun 2013 dan 2014, penghargaan IDSA 2015 dilakukan pada hari pembukaan Jakarta Marketing Week 2015 di Jakarta. Ada empat kategori penghargaan yaitu E-Health, E-Education, E-Tourism, dan E-Government, serta Best of The Best untuk yang mendapatkan penghargaan berturut-turut sejak IDSA 2013 dan IDSA 2014.
"Kami sangat peduli pada pemanfaatan teknologi karena urusan pemerintahan cukup banyak masalahnya dan harus diselesaikan dengan efektif. Teknologi menjadi jawabannya," kata Risma kepada Marketeers.
Risma mengatakan, dengan teknologi, pemerintah kota Surabaya bisa menekan bujet untuk mengatasi masalah pemerintahan, membuat pemerintahan lebih efektif dan transparan, sekaligus meningkatkan layanan masyarakat dengan jangkauan lebih luas.
Pengembangan teknologi in, sambung Risma, juga menjadi modal untuk menjadikan Surabaya memiliki daya saing dengan negara-negara lain. Secara khusus, menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN. "Era ini tidak hanya bicara soal negara dengan negara, tetapi juga masyarakat dengan masyarakat negara lain. Sebab itu, kami harus menyiapkan hal ini. Semua masyarakat Surabaya harus menyadari era tersebut. Kami siapkan mereka dengan pendidikan dan aneka pelatihan," katanya.

Selain itu, teknologi juga membantu pemkot Surabaya dalam mendongkrak pelayanan. Salah satu yang sedang digencarkan adalah membangun ekosistem broadband di Surabaya. Menurutnya, saat ini sudah ada 23 broadband learning center di sana. "Di center ini, semua warga, baik anak-anak maupun orang dewasa bisa belajar teknologi informasi untuk mengembangkan kehidupan mereka. Center ini buka dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam," katanya.
Risma menambahkan, pemerintah kota Surabaya saat ini sedang mengembangkan layanan di industri kesehatan. Salah satunya dengan program e-health. Pemkot dalam hal ini berkolaborasi dengan lembaga-lembaga terkait seperti rumah sakit, hotel, perusahaan transportasi, dan sebagainya.
"Surabaya tidak memiliki kekayaan apa-apa. Kalau daerah punya kekayaan alam, Surabaya tidak. Yang penting, bagi Surabaya, masyarakatnya bisa mencukupi kebutuhan mereka dan oleh mereka sendiri," katanya.
Selain itu, edukasi ke internal birokrasi menjadi penting. Terkait teknologi, birokrasi diajari untuk melakukan pelayanan yang efektif dan efisien. Dan, yang jauh lebih penting, kinerja mereka lebih transparan dan akuntabel. "Di Surabaya, relatif tidak ada lagi korupsi karena semua sistem sudah online. Inilah yang disebut dengan e-government," tandasnya.

marketeers.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Corak Indonesia di La Biennale Venezia Sebelummnya

Corak Indonesia di La Biennale Venezia

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti Selanjutnya

Rasakan Sensasi Pedas Inovasi Cabai Carvi Agrihorti

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.