Lupa Sandi?
/ Tren

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Museum

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Museum
Hari ini, tepat 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dengan nama yang sama, suatu museum di Jakarta Pusat menyimpan arti dari makna kebangkitan nasional. Fase potongan sejarah Indonesia yang tak boleh terlupa. Rencana demonstrasi besar-besaran di Jakarta justru lebih ramai dibicarakan oleh orang-orang di Hari Kebangkitan Nasional Ini. Padahal, ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk memperingati hari bersejarah tersebut. Misalnya saja, mendatangi Museum Kebangkitan Nasional di Jl Abdul Rahman Saleh No 26, Jakarta Pusat. Bangunan bergaya peninggalan Belanda, jadi tampak depan Museum Kebangkitan Nasional. Berdiri tegak walau sudah jadi gedung tua, tapi jadi pembeda dengan bangunan-bangunan di sekelilingnya. Dahulu di tahun 1902, Museum Kebangkitan Nasional merupakan komplek sekolah kedokteran Belanda bernama STOVIA. Singkatan dari School Tot Opleiding Van Inlands Artsen. Suatu komplek sekolah yang hanya boleh didatangi anggota keluarga orang-orang Belanda dan pribumi yang terpandang. Beruntung, pribumi yang sekolah di sana tidaklah tamak. Di kala bisa menikmati fasilitas 'wah' pada zamannya, mereka justru memikirkan rakyat Indonesia lainnya. Yang masih dijajah dan disiksa, jauh dari kata sejahtera. Muncullah Dr Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji dan Dr Wahidin Sudirohusodo yang jadi pentolan di sana untuk membentuk suatu organisasi. Organisasi yang terlepas dari politik dan berpihak pada rakyat. Organisasi yang bertujuan menjadikan kehidupan rakyat lebih baik, dengan menitikberatkan pada bidang pendidikan, perternakan, perdagangan dan industri. Organisasi yang bernama Boedi Oetomo.
Diorama di dalam Ruang Memorial Boedi Oetomo (Afif/detikTravel)

Boedi Oetomo tercatat berdiri pada tahun 1908 dan menjadi organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Jika sebelumnya rakyat Indonesia berperang dengan kolonial Belanda (penjajah) dengan angkat senjata, maka Budi Oetomo berperang dengan organisasi. Setelah Boedi Oetomo, lahirlah organisasi-organisasi serupa. Sebut saja, Sarekat Islam (SI), Indische Partij (IP), Muhammadiyah, Gerakan pemuda, Taman Siswa dan lain-lain. Itu membuktikan, Budi Oetomo sudah berhasil membangkitkan Indonesia. Membuat para pejuang makin membuka mata, makin berani untuk menggapai kemerdekaan. Agar lebih jelasnya, sejarah Boedi Oetomo bisa Anda baca dan pelajari di Museum Kebangkitan Nasional. Bangunan Museum Kebangkitan Nasional masih seperti aslinya. Perjalanan akan dimulai dari sisi kiri museum, yang ruangan-ruangannya diubah menjadi bagian-bagian sejarah dari Stovia termasuk perjalanan Boedi Oetomo. Karena dulunya sekolah kedokteran, sejarah kedokteran Indonesia pun tersimpan lengkap. Dari alat-alat dokter zaman dulu yang terlihat menyeramkan sampai yang mulai modern, terjejer lengkap! Sedangkan di sisi kanan museum, terdapat diorama perjuangan bangsa Indonesia dari masa RA Kartini sampai Soekarno membacakan proklamasi. Masih tersimpan bambu runcing yang jadi khas senjata Indonesia. Serta, meriam VOC yang dulu dipakai untuk meluluhlantahkan para pejuang. Tiket masuk ke Museum Kebangkitan Nasional tak lebih dari Rp 5.000. Harga yang sangat murah, walau isi museumnya ada sejarah yang tak ternilai harganya untuk negeri ini. Oh ya, ada foto-foto asli wajah dari Dr Soetomo lho di sana! Selamat datang di Museum kebangkitan Nasional dan memasuki 'mesin waktu' untuk meresapi sejarah perjuangan Indonesia. Di sinilah saksi bisu jiwa Indonesia yang mulai bangkit dan bersatu! disadur dari DETIK

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata