Lupa Sandi?

Berburu Laor (Cacing Laut BeranekaWarna) di Halmahera Utara

Iin Amrullah
Iin Amrullah
0 Komentar
Berburu Laor (Cacing Laut BeranekaWarna) di Halmahera Utara
“Pak guru, so rasa laor kah belong?” tanya salah satu muridku. “Apa itu laor?” tanyaku balik. Laor itu Wao pak guru, jawabnya. “Wao? Apa itu?” tanyaku penuh penasaran. Apa eh? Laor itu seperti cacing yang warnanya ada yang kuning, merah, coklat dan lain-lain pak guru, ungkapnya. Aku pun hanya mengiyakan dan bertanya-tanya tentang si “cacing laor” yang diceritakan oleh muridku ini. Ternyata tak hanya muridku saja yang bercerita tentang Laor, warga masyarakat pesisir Fitako ini pun ramai memperbincangkan cacing tahunan ini. Dengan penuh penasaran, aku pun mencari informasi tentang Laor ini kepada nelayan dan warga setempat. Berdasarkan informasi warga Desa Fitako, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara aku mendapatkan banyak pegetahuan tentang cacing laut ini. Laor atau yang dikenal juga dengan ‘Wao’ adalah cacing laut yang beraneka warna dengan ukuran mulai dari 2 cm hingga 30 cm. Menurut warga setempat, cacing ini hanya muncul 1 tahun sekali tiap bulan Mei. Sebagian juga ada yang mengatakan muncul diantara Mei-Juni, sementara di bulan-bulan lain cacing warna ini susah ditemukan. Sudah menjadi tradisi turun temurun, setiap datangnya bulan Mei warga sudah bersiap-siap untuk berburu mencari Laor. Aku pun ikut serta warga berburu laor pada malam harinya. Saat musim Laor tiba, warga setempat ramai berbondong-bondong menggunakan katinting (perahu kecil untuk melaut). Mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga para nelayan yang lain ramai mendatangi lokasi pantai yang dikenal dengan tempat bersarangnya cacing laut ini. Aku pun ikut dengan rombongan warga yang hendak berburu Laor ini. Di tengah kegelapan malam, nyala pelita lampu petromak dan lampu-lampu jenis lainnya tampak menyinari lautan Loloda Kepulauan. Mereka sudah bersiap siaga untuk menangkap Laor. Cara tangkap Laor ini cukup gampang. Tinggal nyalain lampu atau penerang, maka Laor pun satu per satu akan muncul ke permukaan mendekati sumber cahaya. Laor ini bersembunyi di balik batu karang. Saat lampu menyala terang, ratusan Laor ini pun akan mengerumini sekitar katinting. Saat muncul itulah, para nelayan (pemburu Laor) ini menangkap Laor dengan menggunakan jarring-jaring kecil atau penyaring lainnya. Memang betul penjelasan dari salah satu muridku. Cacing Laor ini ada yang berwarna merah, kuning, hitam, biru dan coklat dengan ukuran beragam. Ada yang berukuran 3 cm, 5 cm hingga sekitar 30 cm bahkan lebih. Saat berada di atas katinting ini, aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya dari manakah asal Laor ini? Dari balik batu karang itu kah? Tapi kenapa hanya muncul 1 tahun sekali, tiap Mei saja? Apakah pada bulan-bulan lain cacing ini berdormansi? Apakah sudah ada penelitian mengenai cacing ini? Apakah hanya ada di lautan Halmahera Utara saja? Beraneka macam pertanyaan ini muncul seketika tatkala aku bersama warga berburu laor. Tidak hanya cukup diburu saja, rupanya cacing laor ini dikonsumsi oleh warga. Tak kalah ketinggalan, aku pun mencoba menikmati cacing laor yang sudah dimasak ini. Olahan laor yang sudah dimasak ini sedap dimakan dengan pisang goreng, dabu-dabu (sambal) dan buat lauk sebagai teman nasi juga enak rasanya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, cacing laor ini merupakan cacing laut (Polychaeta, Annelida). Bahkan juga ada budaya di Maluku yang dikenal dengan budaya timba laor (timba = ambil; laor = cacing wawo), cacing ini juga biasa dikonsumsi oleh sebagian masyarakat di Kepulauan Maluku. Menurut penuturan salah satu guru warga Fitako, laor ini adalah Jelmaan Putri Mandalika. Hikayat Putri Mandalika ini berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mengisahkan tentang seluk beluk Laor atau di Lombok dikenal dengan ‘Nyale’. Tapi apakah benar, Laor ini benar-benar dari jelmaan Putri Mandalika? Setelah searching dan melakukan penelusuran lebih lanjut, cacing laor ini (khususnya di wilayah Maluku) ternyata sudah ada penelitiannya. Salah satu ilmuwan Indonesia yang melakukan penelitian tentang laor di Maluku adalah Joko Pamungkas. Beliau mempublikasikan penelitiannya dengan judul “Species richness and macronutrient content of wawo worms (Polychaeta, Annelida) from Ambonese waters, Maluku, Indonesia”. Bravo ilmuwan Indonesia. Wilayah Indonesia Timur (Maluku hingga Papua) memang sangat kaya akan biodiversitas lautnya. Semoga semakin banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muda yang akan mengeksplorasi, meneliti dan tentunya menjaga potensi bahari yang sangat berpotensi ini. Lautku, lautmu dan laut kita (Indonesia) mari kita jaga dan kelola bersama. Laor adalah salah satu kekayaan laut dari milyaran biota laut yang sangat melimpah ruah ini. Semangat pemuda!

Pilih BanggaBangga43%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang29%
Pilih Tak PeduliTak Peduli14%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau14%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IIN AMRULLAH

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas