Indonesia Raih Juara 1 di Kompetisi Wirausaha Sosial Spanyol

Indonesia Raih Juara 1 di Kompetisi Wirausaha Sosial Spanyol

Indonesia Raih Juara 1 di Kompetisi Wirausaha Sosial Spanyol

Indonesia berhasil menjuarai kompetisi ‘What Is Out There’ (WIOT) yang diselenggarakan oleh Saudi-Spanish Center for Islamic Economic and Finances (SCIEF) di Spanyol, 9 Juni 2015. Taufik Hidayat, perwakilan Indonesia berhak membawa pulang uang sebesar 2,000 Euro dan sertifikat tanda kemenangannya.
Taufik Hidayat (kanan bawah) beserta juara dua dan tiga WIOT 2015, Taufik Hidayat (kanan bawah) beserta juara dua dan tiga WIOT 2015,

Dilansir dari web resmi SCIEF.es, SCIEF merupakan pusat pembelajaran dan penelitian system ekonomi dan financial Islam di Eropa. SCIEF berdiri berkat kerja sama Universitas King Abdul Aziz di Arab Saudi dan IE Business School di Madrid, Spanyol. Kompetisi WIOT tahun 2015 merupakan kompetisi WIOT kedua yang diselenggarakan oleh SCIEF. Kompetisi ini mencari model wirausaha sosial yang baru dan menginspirasi dunia. Setiap peserta dari seluruh dunia wajib mengunggah video konsep bisnis wirausaha social yang dimiliki. Pada kompetisi WIOT tahun 2015 ini, sekitar 80 peserta dari berbagai negara telah menjadi peserta dan mengunggah video konsep masing-masing. Setelah melalui berbagai penilaian, hanya 7 peserta yang dapat diundang ke Madrid untuk mempresentasikan konsep wirausaha social mereka. Ketujuh peserta beruntung ini berasal dari Pakistan, Arab Saudi, Australia dan Indonesia. Taufik yang merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia dan Asia Tenggara, mempresentasikan model wirausaha social yang telah dijalankan yayasan keluarganya sejak lama. Bertajuk Genteng Healthy Market (Pasar Genteng) di Garut, wirausaha ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran di Garut. Masyarakat yang tidak mampu dapat membuka kios di Pasar Genteng dengan harga yang sangat murah (sewa kios kurang dari 1 juta pertahunnya). “jadi petani serta pengrajin dapat menjual langsung produk tanpa harus lewat tengkulak yang biasa membeli dengan harga murah.” ujar Taufik saat dihubungi oleh @GNFI via pesan singkat selasa malam. Dengan sewa yang murah dan jualan tanpa melalui tengkulak, penjual dapat menikmati sendiri hasil mereka dengan harga yang sesuai. Selain itu, pasar swasta yang dikelola oleh Yayasan Setia Bhakti ini juga senantiasa menyediakan pelatihan untuk para penjual agar dapat belajar menjadi pengusaha yang mandiri. “Pembayaran sewa kios dicicil perhari dengan kisaran tagihan 2,000 – 3,000 rupiah,” Lanjut lelaki berumur 25 tahun, yang ketika dihubungi @GNFI masih berada di Madrid ini. Pasar yang sangat menarik, bukan? lihat video konsep Genteng Healthy Market di sini. Usaha Taufik dan keluarganya membuahkan hasil. Tidak hanya berhasil membantu masyarakat sekitar, model wirausaha Pasar Genteng telah menorehkan berbagai prestasi di bidang kewirausahaan, baik nasional maupun internasional. Pasar Genteng juga telah diakui oleh dinas Pasar pemerintahan daerah Garut. Kini, Pasar Genteng menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Garut untuk berbelanja karena komoditas menarik yang tersedia disana. Kemenangan Taufik di SCIEF mengalahkan puluhan peserta lain sukses mengharumkan nama Indonesia di bidang wirausaha social dan ekonomi Islam. Selamat! ditulis oleh @farafit untuk @gnfi. lihat pengumuman resmi kemenangan Taufik disini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

10 Makanan Khas Indonesia yang Paling Nikmat Dimakan Langsung di Tempatnya Sebelummnya

10 Makanan Khas Indonesia yang Paling Nikmat Dimakan Langsung di Tempatnya

Rimba Baca, Perpustakaan yang ‘Lebat’ Ilmunya Selanjutnya

Rimba Baca, Perpustakaan yang ‘Lebat’ Ilmunya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.