Pelesir itu, rasanya, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Maka, ketika pada suatu siang usai salat Jumat seorang teman mengajak saya dan kawan-kawan untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dimaksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: Air Terjun Dua Warna. Air Terjun Dua Warna terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Timur/Utara.Seperti namanya, di sini terdapat dua macam air terjun. Air terjun pertama setinggi kira lima puluh meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira dua puluh meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.Pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya di sini. *** Dari Medan, tempat saya berdomisili, kami mencapai Air Terjun Dua Warna dengan menyewa angkutan umum sudako. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang. Melewati ngarai.   Tapi, jangan kaget ketika sang sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir sudako di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan, atau tatkala seorang penumpang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan menggas sudako secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, sudako belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.
Di Atas Bus (Foto: A.P. Edi Atmaja.)

Bersama sudako sewaan, kami melewati kawasan Bumi Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami. Kenapa mesti dipandu? Soalnya, untuk mencapai air terjun, kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan. Taman Hutan Raya ini termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 meter), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengertimana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui. Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi. *** Begitu sampai, kami melihat sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah. Puas mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu, kami meninggalkan Air Terjun Dua Warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini. Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya. Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kenek kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan   Sembari berpegangan pada besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami. Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita. LenteraTimur.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu