Lupa Sandi?

Karpet Biru Manado

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Karpet Biru Manado
Minggu 03 Mei 2015 pukul 04.30 WITA alarm telepon seluler berdering, saya pun bergegas bangun karena waktu untuk shalat subuh, selesai shalat saya langsung menggunakan pakaian olahraga dan menuju ke ‘karpet buru’ begitu masyarakat menyebutnya, karpet biru, merupakan lintasan atletik yang berokasi di Lahan Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (Balitka) JL. Raya Mapanget, Kelurahan Paniki Dua Manado, untuk mencapai lokasi tersebut pengunjung harus melewati jalan yang berbatu kurang lebih dua kilo meter, tempat ini tidak asing lagi bagi saya karena beberapa teman sekantor saya mengelolah sebagian lahan disana untuk menanam jagung dan ketimun serta beternak sapi, hampir setiap musim panen saya diajak teman ke Balitka, tidak ada yang special disana selain panen jagung atau ketimun. Sejak Pemerintah membuat karpet biru di lahan tersebut, Balitka mendadak berubah menjadi idola baru warga kota Manado, sekitar pukul 05.00 WITA saya dan keluarga tiba di karpet biru, walaupun masih subuh, suara ayam berkokok disubuh hari masih terdengar, namun karpet biru sudah hampir pebuh dengan ratusan warga yang memadati lintasan tersebut, sebelum jogging saya melakukan stretching (peregagangan, red) terlebih duhulu untuk menaikan aliran darah pada otot-otot aktif supaya saat jogging tidak terjadi resiko cedera atau nyeri otot, setelah stretching, kami pun berlari-lari kecil mengelilingi lintasan,  baru lima kali berputar, kami harus menganti lari dengan berjalan cepat karena suasana tidak memungkinkan lagi untuk berlari, lintasan semakin padat dan sesak, kepadatan ini semakin bertambah ketika senam zumba dimulai pukul 06.00 WITA. Pada awalnya saya mengira pengunjung yang ada hanya masyarakat disekitar Kecamatan Mapanget, namun perkiraan saya ternyata salah, karena beberapa orang yang saya temui ada yang dari Kecamatan Tumnting, Malalayang, Tikala, ada juga dari Airmadidi Minut, mereka rela datang jauh-jauh hanya untuk melihat karpet biru yang belakangan menjadi obrolan banyak orang di Manado, pengunjung yang datang tidak semuanya berolaraga, banyak dari mereka yang datang tidak memakai costum olahraga, bahkan ada yang masih menggunakan gaun untuk ibadah namun masih menyempatkan diri untuk mampir berselfie ria di karpet biru, dalam amatan saya, pengunjung pagi ini yang jogging sekitar 50%, sisanya 45% hanya datang selfie dan 5% duduk dipinggir lintasan. Waktu menunjukkan pukul 07.15 WITA, banyak pengunjung yang pulang namun banyak juga yang baru datang, kepadatan belum berkurang walaupun panas matahari sangat terasa karena diareal tersebut Pemerintah hanya membangun lintasan tanpa dilengkapi dengan fasilitas untuk berteduh ketika panas maupun hujan, semakin panas semakin ramai, terik matahari tidak menyurutkan semangat pengunjung untuk narsis, mungkin dalam benak para pengunjung, kalau ke karpet biru lebih baik tidak membawa sepatu olahraga darpada tiddak membawa tongsis, banyak pengunjung yang menenteng tongsis ditangan mereka, setiap sudut lintasan dikelilingi untuk berfoto, walaupun dipinggir lintasan tampak beberapa ekor sapi yang terikat namun sapi-sapi tersebut tidak menjadi masalah yang dapat merusak pemandangan saat narsis. Sore hari saya kembali lagi ke karpet biru untuk olahraga, saya tiba disana sekitar pukul 16.00 WITA, walaupun datang dengan costum olaharga namun saya hanya berjalan cepat mengelilingi lintasan, karena disore ini kepadatan pengunjung dua kali lipat dari kepadatan pada pagi hari, bahkan pengunjung sore kalau saya perhatikan hanya 30% yang berolahraga, selebihnya hanya berfoto bersama, bahkan ada  beberapa pengunjung yang membuka konter foto express di pingir lintasan, ini menjadi solusi bagi yang ingin narsis tapi lupa membawa kamera. Sore ini saya tidak lagi sempat menghitung berapa kali saya berjalan mengelilingi lintasan, yang saya ingat saya mulai berjalan sekitar pukul 16.10 WITA dan berhenti pukul 18.30 WITA, karena pengunjung yang masih banyak saya pun hampir lupa pulang rumah padahal sudah waktu shalat magrib. Sejenak saya termenung dan berfikir apa yang beda antara karpet biru dengan tempat-tempat olahraga lainnya yang sering saya datangi seperti di Lapangan Koni Sario maupun di kawasan Megamas Manado, apa yang special disini?, kenapa masyarakat terus berdatangan padahal tempat tersebut adalah sarana olaharaga yang belum lengkap dan bukan obyek wisata, kalau di Lapangan Koni sario atapun di Kawasan Magamas saya melihat pengunjung yang datang sekitar 95% datang berolaraga, saya hampir tidak pernah melihat orang membawa tongsis kalau ke lapangan Koni Sario, terus ada apa dengan Karpet Biru, mengapa kebanyakan orang datang kesini membawa tongsis bahkan lebih banyak orang narsis dibandingkan yang berolaraga, saya coba perhatikan foto-foto hasil selfie yang diambil saat selesai olahraga, sesuatu yang menarik disini yaitu lokasi dikelilingi pemandangan alam yang cukup indah seperti bukit dan gunung Klabat yang bisa menjadi latar untuk selfie, pada saat senja nampak bulan yang cantik mengintip dari bukit kecil di samping gunung Klabat, pengunjung pun tidak menyianyiakan kesempatan ini untuk mengabadikan dirinya saat berada di karpet biru dengan pemandangan gunung Klabat yang dikelilingi awan tipis dan disampingnya  terdapat rembulan cantik sedang mengintip, hal lain menjadi daya tarik karpet biru yaitu kebersihan lintasan, kalau di Lapangan Koni sebagian pengunjung harus menutup hidung karena debu yang sangat tebal di aera lintasan, namun di karpet biru penggjung bisa duduk bahkan tidur diatas lintasan karena area tersebut tidak terdapat debu seperti di Lapangan Koni Sario. Manado, 03 Mei 2015 Deyidi Mokoginta Mokoginta.web.id

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Puncak Dunia

Yufi Eko Firmansyah7 bulan yang lalu

Tahukah Anda, Seberapa Luas Indonesia ?

Yufi Eko Firmansyah8 bulan yang lalu

Menjadi Penguasa Telekomunikasi Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Internet Gahar, 1 GB Per Detik

Asrari Puadisatu tahun yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara