Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Mencicipi Durian Merah Bocking, Durian Merah Pelangi dan Durian Grafika Khas Banyuwangi

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Mencicipi Durian Merah Bocking, Durian Merah Pelangi dan Durian Grafika Khas Banyuwangi
Mencicipi Durian Merah Bocking, Durian Merah Pelangi dan Durian Grafika Khas Banyuwangi

Siapa sih yang tidak suka dengan durian? Pastinya, penikmat buah ini sangat banyak. Umumnya, buah tropis yang mempunyai bau khas yang harum dan berkulit tajam ini, daging buahnya berwarna kuning atau putih. Diantara berbagai jenis buah durian yang kita kenal, ada salah satu buah durian yang aneh, yaituDurianMerah. Berbeda dengan dengan buah durian lainnya, durian merah memiliki daging buah yang berwarna merah. Dan surganya durian merah ini terdapat di Banyuwangi.

Buah durian merah (via kanal3.wordpress.com)
Buah durian merah (via kanal3.wordpress.com)

Durian merah atau Duren Abang ini bisa kita jumpai di Desa Kamiren Banyuwangi, Jawa Timur. Ternyata durian ini merupakan salah satu buah durian yang menjadi unggulan di daerah Jawa Timur, khususnya Banyuwangi. Oleh karena itu banyak para penggemar buah durian baik dari Jawa Timur maupun dari luar daerah Jawa Timur rela datang hanya untuk menikmati buah durian merah ini.

Durian yang nama latinnya Durio graveolens memiliki ciri daging buah yang berwarna merah. Berbeda dengan durian pada umumnya, biji durian merah lebih kecil dan daging buahnya pun lebih tebal dan lebih manis. Kadar alkoholnya pun lebih rendah dan aroma buah lebih menyengat. Untuk ukuran, buah ini berukuran sedang atau sedikit lebih kecil dibanding durian lain. Warna kulit buah tidak berbeda dengan buah durian lainnya yaitu berwarna kuning.

Daging buah durian merah (via pegipegi.com)
Daging buah durian merah (via pegipegi.com)

Cara hidup durian ini sama seperti buah durian lainnya yaitu tumbuh di daerah tropis pada ketinggian kurang lebih 800 meter diatas permukaan laut. Akan tetapi waktunya berbuahdurian merah tidak menentu, tidak bisa dipastikan kapan durian ini berbuah. Yang pasti adalah durian merah hanya berbuah sekali dalam setahun.

Baca Juga

Menurut Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi, Eko Mulyanto, dari waktu ke waktu mulai banyak ditemukan pohon lainnya. Awalnya memang ditemukan satu pohon di Desa Kemiren.

“Memang awal dari temuan durian merah dari Kemiren, namun rupanya di Banyuwangi ada beberapa jenis durian merah yang tumbuh. Ada di Kecamatan Songgon dan Desa Kampung Anyar Kecamatan Glagah,” ujar Eko Mulyanto.

Awal pengembangan durian merah, menurut Eko, telah dilakukan sejak tahun 2007 dan hanya 3 pohon yang produktif. Namun tahun 2014 sudah ada 200 pohon durian merah yang bisa dipanen tiap tahun. “Penyebaran pohon durian merah ada di 5 kecamatan yaitu Songgon, Glagah, Kalipuro, Licin dan Giri. Untuk durian merah ini juga dikembangkan di Blitar Selatan, Bogor dan Bandung. Selain itu pengembangan teknologi durian merah juga dilakukan di Thailand, Malaysia dan Korea,” jelasnya.

Untuk menjaga agar durian merah Banyuwangi tidak kehilangan identtiasnya sebagai ikon daerah, setiap pengiriman bibit keluar daerah dilakukan pencatatan dihadapan notaris.

Ada 62 varian durian merah asli Banyuwangi (via blogger)
Ada 62 varian durian merah asli Banyuwangi (via blogger)

Seiring perkembangan penyebarannya, dari 200 pohon itu ada 62 varian durian merah asli Banyuwangi yang berhasil dikembangkan yang tersebar di 5 kecamatan. Namun yang sudah diumumkan ke publik baru 32 jenis dan yang bisa dikonsumsi buahnya hanya 25 jenis. Yang lain dagingnya masih tipis jadi masih dikembangkan. Sedangkan jenis yang layak masuk dalam kategori internasional ada 11 jenis varian.

Ada beberapa syarat untuk masuk kategori internasional, yaitu beratnya yang standar antara 1,5 sampai 2 kg, tahan antara 2 sampai 3 minggu dan masih dalam kondisi baik saat difrozen.

Dari 62 varian tersebut, durian merah Banyuwangi dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan warna daging buahnya. Yaitu Durian Merah Bocking yang seluruh dagingnya berwarna merah, Durian Merah Pelangi yang dagingnya berwarna merah dan kuning, sertaDurian Grafika yang dagingnya berwarna kuning, putih dan merah. Ketiganya bisa dibedakan dari pohonnya, dimana daunnya memiliki kekhasan masing-masing.

Budidaya durian membutuhkan waktu antara 7 sampai 12 tahun sampai bisa dipanen buahnya. Untuk pelestarian durian merah Banyuwangi dilakukan dengan cara penanaman bibit baru durian, sedangkan untuk pengembangan bibit durian merah dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya melakukan penelitian untuk percepatan bibit durian merah Banyuwangi.

Percepatan bibit durian merah itu menurut Eko dilakukan dengan cara menyambung batang induk durian biasa dengan batang durian merah. Cara ini bisa mempercepat pohon durian berbuah dari 12 tahun menjadi hanya 5 tahun.

Selain itu percepatan juga dilakukan dengan cara “Top Working”. Caranya adalah pohon durian besar disisipi dengan bibit durian merah. Dengan cara seperti ini, maksimal 3 tahun kemudian sudah bisa dipanen. Harganya juga lumayan paling murah Rp 120.000 sampai Rp 300.000 per buah.

Bagi peminat durian merah, Eko juga melayani penjualan bibit. Ada beberapa jenis bibit durian merah sesuai dengan tinggi bibit. Untuk bibit durian merah yang tingginya sekitar 30 cm, harganya berkisar Rp 75 ribu, sedangkan bibit yang tingginya diatas 60 cm sampai 1meter dibandrol Rp 200 ribu. Untuk yang tingginya lebih dari 1,5 meter harganya Rp 1,5 juta.

ASAL USUL DURIAN MERAH

Mengenai asal dari durian merah ini, kata Eko, masih simpang siur. Menurutnya, banyak alasan munculnya durian merah di Banyuwangi. Warna merah dari daging buah durian ada dugaan disebabkan perkawinan silang antar varietas dan termasuk faktor genetis.

“Dan ada pula yang bilang jika durian ini di masa lalu adalah makanan raja-raja. Sehingga mereka saling bertukar buah dan ditanam di sini dan ada perkawinan silang yang terjadi sehingga ada warna merah di daging durian,” tambahnya.

Namun menurut Eko, dirinya tidak mempermasalahkan darimana asal durian merah Banyuwangi itu, tapi yang terpenting adalah durian merah Banyuwangi lebih enak dibandingkan dengan durian merah dari Kalimantan, Malaysia maupun Papua.

Jenis durian merah Kalimantan berjenis Durio Kutejensis, sedangkan durian merah Malaysia jenisnya Durio Graveolens. Sementara durian merah Banyuwangi adalah Durio Zighetinus. Sedangkan durian merah di Papua, menurut Eko sumber bibitnya juga dari Banyuwangi, dibawa warga yang akhirnya tinggal di sana.

Dari segi geografi, durian merah yang ada di wilayah Banyuwangi mempunyai rasa yang lebih enak. Karena cukup mendapatkan sulfur dan juga nutrisi garam dari air laut. “Sulfur dibawa dari arah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Sedangkan nutrisi garam air laut juga dari arah timur dan itu setiap hari gantian mendapatkan nutrisi yang cukup. Inilah salah satu penyebab rasa khas yang muncul di durian merah yang ada di Banyuwangi,” kata Eko.

SIWAYUT, DURIAN MERAH WARISAN BUYUT

Salah satu durian merah yang terkenal di Banyuwangi berasal dari pohon durian merah yang tumbuh di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Bahkan begitu sohornya, salah satu gang di desa itu dinamakan Gang Duren Abang alias Gang Durian Merah.

Adalah Mbah Serad, begitu warga Desa Kemiren menyebutnya, yang mempunyai pohon durian berbuah merah. Tak heran bila musim durian tiba rumah Mbah Serad tak pernah sepi pengunjung. Apalagi durian merah sudah menjadi buah primadona warga. 

Mbah Serad merupakan generasi keenam yang memelihara indukan Durian merah. “Usianya sudah ratusan tahun. Awalnya ya cuma ini. Tempat ini dulunya hutan dan durian ini warisan dari buyut saya,” jelasnya.

Ia menjelaskan durian merah miliknya panen mulai bulan Desember, Januari, Februari, dan Maret.

Menurut Mbah Serad jika pada musim panen, banyak pedagang buah yang menginap di rumahnya untuk mendapatkan durian merah yang jatuh. “Rebutan beli. Sampai nginep-nginep. Kan jatuhnya buah durian itu jam 2 malam. Saya ndak jual di pinggir jalan,” tambahnya.

Tidak seperti pedagang buah yang selalu meminta biji durian merah untuk dikembalikan, Mbah Serad mempersilahkan pada pedagang untuk membawa dan menanamnya. “Saya malah senang kalau dikembangkan dan bisa ditanam lagi. Pernah ada orang Perancis yang membeli biji buah durian merah Rp 10.000. Katanya mau ditanam di Filipina. Saya mempersilakan saja,” katanya sambil tersenyum.

Biasanya saat panen Mbah Serad akan mendapatkan 300 buah durian yang mendapat julukan “siwayut” atau warisan buyut. Rasanya yang legit, manis, asin dan gurih serta meninggalkan jejak rasa yang khas membuat durian siwayut ini menjadi buruan para penikmat durian.

Sambil tertawa Mbah Serad berkata, “Banyak yang percaya buah merah untuk vitalitas, jadi laki-laki harus coba durian merah.”

Selain dimiliki Mbah Serad, durian merah juga tumbuh di halaman rumah Sulaimi, warga Desa Balak, Kecamatan Songgon. Menurut Sulami, pohon durian merahnya justru lebih unik. Dari dalam tanah, katanya, muncul dua pohon yang mirip percabangan. Satunya berwarna merah, lainnya berwarna putih. “Karena itu saya namain durian merdeka,” tuturnya sambil tertawa. Dalam satu pohon, tambahnya lagi, bisa menghasilkan sedikitnya 150 buah durian merah.

Begitu terkenalnya, peminat durian merah banyak yang datang dari luar Banyuwangi. Pantas saja Mbah Serad hanya menyuguhkan sebuah durian merah untuk dimakan bersama. Alasannya agar semua pengunjung bisa menikmati durian merah. Jadi jangan harap bisa membawanya pulang. Biasanya pengunjung hanya membawa pulang biji durian untuk dijadikan benih.

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2014/05/nikmatnya-durian-merah-khas-banyuwangi.html

editor yf/gnfi pada 13-04-2016

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie