Lupa Sandi?

Kepak Sayap Industri Dirgantara Indonesia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kepak Sayap Industri Dirgantara Indonesia
Kepak Sayap Industri Dirgantara Indonesia

PT Dirgantara Indonesia telah mengepakkan sayapnya ke luar negeri. Sejumlah pesawat produk Dirgantara Indonesia (DI) telah mulai diakui kualitas dan keunggulannya. Melalui kerjasama dengan perusahaan pesawat dunia, Indonesia terus mengembangkan industri pesawat komersial maupun pesawat militer.

Pesanan pesawat dari luar negeri terus mengalir. Bahkan, PT DI kini tengah menggarap proyek pembuatan pesawat yang 100 persen ditangani anak negeri. Inilah saatnya industri penerbangan Indonesia bangkit dan didukung pemerintah.

Dudi Sudibyo, pengamat penerbangan, menyatakan PT DI mulai kebanjiran order pesawat baik itu dari Kementerian Pertahanan RI, juga dari negara-negara Asia, seperti Malaysia, Pakistan, dan Korsel yang memakai Pesawat CN 235-220 buatannya. Pesawat tersebut dikenal sebagai pesawat PIV kepresidenan, PT. Dirgantara Indonesia juga menandatangani kontrak kerja sama dengan Airbus Defence and Space untuk pesawat CN-235, CN-295, dan NC 212. Tak hanya itu, ada pula kerjasama dengan Korsel untuk membuat pesawat tempur sendiri. "Sudah lama kerjasama dengan airbus, sekarang sedang tahap kerjasama dengan Casa Spanyol," katanya kepada gresnews.com, belum lama ini.

Pesawat CN-235 ini diketahui bermesin 2 dan berkapasitas hingga 35 penumpang. Pesawat CN235 diberi nama Tetuko, tokoh dalam pewayangan. Kerjasama dengan Casa nantinya berguna untuk memproduksi pesawat komersial yang lebih besar.

"Sejak dulu PT DI memang sudah dikenal, kita kerjasama itu perbandingannya 50:50. Pesawat kita bukan lagi prototype tapi sudah digunakan," katanya.

Kini, PT DI sedang mengembangkan tipe N 219, dan bulan depan akan siap dikeluarkan dari pabrik untuk pertama kalinya. Jenis N 219 ini merupakan pesawat kelas kecil berpenumpang 19 orang dengan proses pembuatan 100 persen tanpa campur tangan asing. Teknologi sistem pesawat ini merupakan yang paling modern dan canggih, memiliki volume kabin terbesar di kelasnya, dan pintu fleksibel efisiensi sistem yang akan digunakan dalam misi multitransportasi penumpang dan kargo. N-219 merupakan pengembangan dari NC-212 dan mulai ditekuni PT DI pada tahun 2006, pada tahun 2010 lalu telah dilakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin.

Ke depannya, PT DI akan membuat pesawat ini berdasarkan order. Targetnya, penjualan pertama akan menghabiskan sekitar 25 pesawat yang akan dibeli oleh pemerintah daerah.

Spesifikasi pesawat N219 dirancang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia karena mampu mendarat di landasan yang pendek sehingga bisa diaplikasikan di wilayah terpencil dengan lahan terbatas. Tak hanya itu, pesawat juga dirancang membawa bahan bakar tambahan karena tidak setiap daerah memiliki tempat pengisian bahan bakar.

Banyak wilayah Indonesia yang tak mudah dijangkau dengan transportasi darat, kehadiran N 219 sebagai pesawat perintis pun menjadi solusi. Oleh karenanya, N219 memiliki potensi besar dipasarkan ke daerah-daerah seperti Sumatera dan Papua juga luar negeri misalnya negara-negara di Afrika. Walaupun track record PT DI begitu membanggakan, Dudi menyatakan Indonesia memang masih membutuhkan waktu untuk memproduksi sendiri secara 100 persen pesawat-pesawat berkapasitas besar. Ketergantungan terhadap luar negeri ini paling utama disebabkan oleh kurangnya anggaran dan teknologi untuk meriset.

"Tapi kita berharap nantinya akan ada lompatan besar, pasti ada, tapi butuh waktu memproduksi yang 100 penumpang ke atas," katanya.

Diketahui versi militer CN 235 pun sudah banyak diminati dan diekspor ke negara lain, yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab, Botswana, Brunei, Chile, Ekuador, Irlandia, Columbia, Korea Selatan, Malaysia, Maroko, Pakistan, Papua New Guinea, Panama, Perancis, Spanyol, Turki, dan Yordania.

Pengamat penerbangan lainnya, Saman Parthaonan, juga sependapat, dengan adanya kerjasama dengan perusahaan asal Spanyol, Airbus, maka memungkinkan didorongnya pembuatan pesawat di dalam negeri secara penuh. Langkah ini berdampak positif, salah satunya penyerapan tenaga kerja Indonesia.

"Kenapa tak direalisasikan membuat pesawat transport sendiri? Assembly di sini saja, juga jauh lebih murah," ujarnya. Lantaran konddisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau, maka transportasi pesawat amat diperlukan untuk mengefisienkan waktu. Walaupun tak cepat, tapi produksi 100 persen pesawat kapasitas besar tetap akan dapat terealisasi.

Ia pun mendukung adanya pembatasan waktu pakai pesawat, khususnya yang dipergunakan dalam militer. "Minimal 20 tahun, nanti diganti dengan seri kedua CN tersebut, lebih dari itu jangan dipakai agar tak mengulang kecelakaan," ujarnya.

Anggota Komisi V DPR Fauzi Amro pun menyatakan dukungan penuh terhadap berdikarinya industri pesawat terbang Indonesia. Ia berharap PT DI dapat didukung oleh pemerintah sehingga ilmu yang didapat dari kerjasama dengan luar negeri selama ini dapat ditransfer dan digunakan 100 persen untuk industri dalam negeri.

"Jika pintar maka kita tak akan impor lagi, karena dalam impor ada calo sebagai pihak ke tiga, lebih mahal juga," katanya. Saat ini PT DI juga tengah menjalani kerjasama dengan Korea Selatan semenjak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 15 Juli 2010 lalu untuk membuat jet tempur KFX. Pesawat ini, diproyeksikan untuk memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic yang lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth).

Pemerintah Korea Selatan menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sejumlah industri dirgantara di negara tersebut, diantaranya Korean Aerospace Industry menanggung 20 persen lagi, dan sisanya sebanyak 20 persen ditanggung pemerintah Indonesia. Indonesia akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebihi F-16 dan untuk Korea dengan jumlah lebih banyak yaitu 100 pesawat. Total biaya pengembangan selama 10 tahun untuk membuat prototype pesawat itu diperkirakan menghabiskan dana US$6 miliar dan pemerintah akan menyiapkan dana US$1,2 miliar. Diharapkan pada tahun 2020 sudah ada regenerasi pesawat tempur untuk kedua pihak.

"Jika didukung anggaran dan teknologi canggih, PT DI dapat menyuplai sendiri kebutuhan pesawat dalam negeri," tutupnya. - Gresnews.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata