Tangan-tangan Terampil Anak Bangsa Dalam Membuat Kapal Perang Filipina

Tangan-tangan Terampil Anak Bangsa Dalam Membuat Kapal Perang Filipina

Tangan-tangan Terampil Anak Bangsa Dalam Membuat Kapal Perang Filipina

Medium Mei 2016, nama besar bangsa ini akan ditentukan di dunia internasional. Tangan-tangan terampil dan otak-otak cemerlang anak bangsa akan menjawab tantangan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Dari Surabaya, Indonesia dipercaya Filipina membuat kapal perang canggih. Kapal dengan nama Strategic Sealift Vessel (SSV) tersebut saat ini telah dipesan dan ditunggu negara tetangga. Saat ini, pengerjaan kapal perang ini terus dikebut dengan standar dan kualitas kontrol internasional. "Alhamdulillah, pengerjaan kapal perang SSV pertama untuk Filipina sudah 80 persen. Tantangan terberat kami sebebenarnya pada ketepatan waktu kirim ke Filipina. Terus terang kami betul-betul perhatikan khusus mengenai delivery time ini," kata Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo. Namun, doktor kapal lulusan Jepang ini bersyukur karena timnya memiliki semangat yang sama. Membuktikan martabat bangsa di mata internasional. Semuanya bekerja keras tak kenal lelah demi nama bangsa. Untuk kali pertama, Indonesia membuat kapal perang dan dieskpor. Saat ini, tim yang beranggotakan sekitar 400 orang dikerahkan khusus. Mereka bekerja siang malam, lembur, dan bekerja simultan. Turita yang alumnus ITS masih ingat bagaimana dirinya dan sejumlah anggotanya tak mudik demi mewujudkan impian membuat kapal perang yang diakui internasional. "Kapal perang itu bukan kapal barang atau niaga yang dimuati senjata dan pesawat. Tapi ada sistem navigasi dan sistem persenjataan yang dikendalikan dengan komputer. Inilah tantangan yang sesungguhya. Memadukan sistem berjalan baik," tambah Turitan yang asli Babat, Lamongan. Ada setidaknya 40 blok yang harus dikerjakan dalam setiap tim. Sementara kapal dibagi sampai 111 blok. Mulai pengerjaan landing pesawat, cargo, engine room, ruang kemudi, hanggar, dan zona lainnya. Semua dikerjakan paralel. "Saat ini sudah sampai pada pemasangan equipment pada badan kapal. Peralatan dan mesin-mesin canggih itu didatangkan dari Jerman dan Korea. Saat inila dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk memastikan sistem pertahana, pesenjataan, navigasi, semua berkalan sesuai sistem," kata Turitan. Sekarang lah sebenarnya sudah sampai pada persiapan launching. Sebab, saat ini nyaris konstruksi sudah selesai. Tinggal peralatan di dalam kapa yang akan menjadi tantanhan pokok. "Kami terus mendorang semangat tim. Sekecil apa pun tahapan dilalui, tumpengan kecil-kecilan," kata Turitan. Saat ini, semua tim tengah sungguh-sungguh bekerja dengan seluruh kemampuan terbaiknya. Fase curam di depan mata. Bagaimana sistem akan berjalan sesuai fungsinya aka ditentukan dalam hari-hari ini. Memasang seluruj equipment. Bagaimana semua peralatan bisa terintegrasi dengan sistem. Mesin jangkar, mesin kemuidi, elektronika, control, navigasi komunikasi, termasuk bila saat berlayar ada objek sasaran bisa terdeteksi. "Tapi kami yakin, dengan bekerja sungguh-sungguh, kita memiliki keunggulan di dunia internasional," kata Turitan yang sebelumnya sukses membuat kapal rudal.
KRI Banda Aceh

Sebenarnya, Kapal perang yang dibuat khusus untuk Filipina itu merupakan pengembangan dari kepal sejenis yang pernah diproduksi PT PAL. Yakni kapal Landing Platform Dock 125 meter. (KRI Banda Aceh 593 dan KRI Banjarmasin 592). Kapal canggih sepanjang 123 meter tersebut memiliki spesifikasi khusus yang mampu membawa dua helikopter dengan diawaki 121 crew. Kapal perang ini mampu mengangkut 500 pasukan. Kapal peang pesanan Filipina itu sudah harus di launching pada November 2015. Namun saat ini sudah 80 persen diselesaikan. Sampa-sampai demi hasil ini, para tim rela bergantian makan sahur dan takjil di lokasi pengerjaan kapal, di PT PAL Perak Surabaya. Sementara kapasitas angkut bisa membawa bobot hingga 10.300 ton. Kapal ini memiliki draft 6 meter yang dapat melaju delama 30 hari denga jarak 9.360 mile laut. Kecepatan maksimal 16 knot. Mesin kapal perang ini berkapasitas 2 x 2.920 kw. Kapal perang SSV mampu mengangkut dua helikopter, kemudian kapal landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personnel (LCVP). Kapal itu juga mampu mengangkut tank, hingga truk militer. Kapal canggih tersebut mampu mencapai hingga perairan dangkal. Kepala SSV itu memiliki keunggulan khusus di negara kepulauan. Kapal ini bisa untuk perang maupun nonperang. Seperti ketika terjadi bencana. Kapal SSV juga bisa dijadikan sebagai rumah sakit apung dan SAR. Untuk kali pertama, PT PAL Indonesia (Persero) mampu mengekspor kapal perang ke Filipina. Namun, kapal perang SSV1 dan SSV2 yang saat ini dipesan Filipina hampir semua equipment (peralatan termasuk mesin) didatangkan dari Korea dan Jerman. Meski demikian, seluruh tenaga ahli ditangani PT PAL sendiri. Para ahli yang berpengalamanan di bidang pembuatan kapal perang dikerahkan PT PAL. "Sebanyak mungkin bahan baku kami dari lokal. Terutama plat baja," kata General Manager PT PAL Muhammad Firmansyah Arifin. Firmansyah mengakui bahwa untuk alat tertentu, pihaknya masih perlu mendatangkan dari luar negeri. Saat ini, pengerjaan kapal perang SSV pesanan Filipina itu dikerjakan di enam titik di bengkel assembly PT PAL Surabaya. Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo, juga mengakui bahwa sebagian besar bahan kapal perang itu masih impor. Hanya plat baja yang dipasok lokal. Selebihnya, equipment sebagian besar didtangkan dari Korea dan Jerman. Turitan menuturkan bahwa komposisi berkisar Labor 10%, metal baja 20%, Equipment 60%, Lain2 10%. "Sebagian besar, terutama eguipment kami datangkan dari Jerman dan Korea," kata Turitan. Saat ini, dua kapal perang itu tengah dijerjakan. Standar keamanan, kualitas kontrol produk, hingga ketepan waktu kirim. GM PT PAL Firmasyah meminta dua pimpinan proyek kapal perang berkompetisi. Pimpro kedua SSV harus berlomba. "Kapal SSV ini bukan yang pertama kami buat. Kapal SSV sekelas sudah berhasil kami buat. Termasuk kapal Banda Aceh. Jadi kami yakin akan sesuai jadwal," tandas Firmansyah. Tribun News.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pura Lingsar, Cermin Kerukunan Hidup di Lombok Sebelummnya

Pura Lingsar, Cermin Kerukunan Hidup di Lombok

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu Selanjutnya

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.