Lupa Sandi?

Lontong Balap, kuliner nikmat khas kota Pahlawan

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Lontong Balap, kuliner nikmat khas kota Pahlawan
Surabaya sudah lama dikenal sebagai kota pahlawan semenjak terjadinya perang dahsyat antara arek-arek Suroboyo dengan pasukan Inggris - Belanda yang pada tanggal 10 November 1945. Semangat juang yang tinggi dan bermodal nekad sangat kental dengan budaya di Surabaya. Tapi siapa sangka kalau semangat juang itu juga mempengaruhi kuliner di kota Pahlawan, yaitu Lontong Balap. Bila dilihat dari namanya, sedikit terdengar unik. Lontong dengan balap, memangnya lontong bisa balapan? Sangat tidak masuk akal bukan? Namun ternyata terdapat cerita dibalik penamaan kuliner yang mirip seperti lontong sayur ini.
Lontong Balap Bakul Lontong Balap (foto: tahutempetiaphari.blogspot.com)

Dahulu ketika kota Surabaya masih memiliki tram atau kereta transportasi dalam kota, masih banyak terdapat pedagang lontong di beberapa tempat. Pada umumnya pedagang lontong ini adalah penduduk pinggiran kota atau kota tetangga seperti Sidoarjo atau Gresik. Perjalanan yang jauh dan sedikitnya tempat dan ketatnya persaingan, membuat para pedagang itu berlomba untuk mendapatkan tempat yang ramai di sekitar pasar. Mereka bukan berlari namun harus berjalan cepat sebab saat itu mereka membawa masakan lontong dan bahan-bahannya menggunakan semacam wadah seperti gentong kecil terbuat dari tanah liat yang berat. Kesan yang terlihat dari berjalan cepat inilah yang konon dipercaya asal muasal dari nama lontong balap. Racikan lontong balap terdiri dari lontong, taoge, tahu goreng, lento, bawang goreng, kecap dan sambal. Semua racikan bahan di campur diatas lontong yang dipotong-potong dengan taoge sebagai sayurnya. Taoge dan lento iniliah ciri khas dari lontong balap. Lento sendiri adalah sejenis perkedel yang terbuat dari kacang tolo merah. Beberapa penjual lontong balap saat ini juga menambahkan sate kerang sebagai tambahan lauknya. Tampaknya Surabaya bukan hanya menjadi kota perjuangan namun juga kota yang sangat kompetitif. Bahkan lontong pun harus balapan agar mendapatkan pelanggan. Ya, siapa tahu, mungkin para pahlawan itu juga sering makan lontong balap ya?

Label:
lontong
Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau9%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Puncak Dunia

Yufi Eko Firmansyah7 bulan yang lalu

Tahukah Anda, Seberapa Luas Indonesia ?

Yufi Eko Firmansyah8 bulan yang lalu

Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Menjadi Penguasa Telekomunikasi Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Internet Gahar, 1 GB Per Detik

Asrari Puadisatu tahun yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie