Lupa Sandi?

Hangat di Kedinginan Celah Pegunungan Jayawijaya

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Hangat di Kedinginan Celah Pegunungan Jayawijaya
  “Amole” sapa seorang warga yang berpapasan dengan saya pagi tadi. Saya hanya tersenyum padanya, selain karena tidak tahu apa arti “amole”, saya juga takut salah jawab kalau asal menyapa. Belakangan saya baru tahu bahwa amole berarti selamat/salam dalam bahasa Amungme, sebuah suku di Papua. Sepagian tadi saya disapa berpuluh orang, baik orang Papua maupun orang luar Papua yang bekerja di perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.  Sapaan yang terasa tulusnya, dan terlihat sekali mereka melakukannya karena sudah terbiasa. Iya, saya sedang di Tembagapura, sebuah distrik yang cukup modern di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut (mdpl) di dataran tinggi di punggung Pegunungan Sudirman. Tembagapura terletak tak begitu jauh dari puncak tertinggi di Indonesia bahkan Oceania, yakni Puncak Cartens yang di barat dikenal dengan nama Cartenz Pyramid yang tegak berdiri di atap Papua setinggi 4.884 mdpl.
tembagapura1 Di celah-celah gunung-gunung inilah, Tembagapura terletak

Tembagapura terletak di lembah yang tidak rata yang diapit oleh dua gunung batu yang besar, yang menjulang tinggi membentengi sisi timur dan barat kota kecil ini. Dari pengamatan sekilas saja, kota ini memang mempesona,  di desain dan dibentuk dengan rapi. Jalan-jalan yang teratur, bangunan-bangunan yang tertata dan vertikal, khas bangunan-bangunan di barat. Dikelilingi oleh hutan alami yang hijau dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Warganya juga terbiasa disiplin dalam kesehariannya. Pejalan kaki sangat dihornati di sini. Misalnya saja, bila kita menyeberang di jalan, mobil (di sini didominasi truk besar dan kendaraan bermesin besar) yang lewat akan serta merta berhenti bermeter jauhnya dari tempat kita menyeberang. Bahkan ketika belum menyeberang pun, mereka selalu berhenti dan mempersilahkan kita untuk menyeberang terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka berjalan dan melambaikan tangannya pada kita. Sambil tersenyum!
tembagapura2 Kabut tebal turun hampir tiap hari. Mirip kota di Eropa ya

Saya sebagai tamu yang sekalipun belum pernah mereka lihat pun, merasa sangat diterima dan seolah langsung menjadi bagian dari kota yang dinginnya menusuk tulang ini. Suasana yang terasa penuh dengan kedisiplinan dan kehangatan tersebut membuat saya berpikir, apa yang membuatnya? Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang warga setempat yang bekerja di tambang Freeport waktu sama sama makan siang. Sebut saja namanya Agus, beliau dari Madiun, Jawa Timur yang sudah tinggal di Tembagapura lebih dari 2 tahun. Beliau mengatakan bahwa etos kerja yang dikembangkan di perusahaannya terbawa waktu para pekerja tersebut pulang ke rumah dan bersosialisasi dengan tetangga yang notabene juga para pekerja di perusahaan yang sama. Tertib, disiplin tinggi, dan penuh tanggung jawab, dan saling membantu sesama.
Pagi di Tembagapura

Meskipun jauh dari mana-mana dan terpencil, Tembagapura mempunyai kelengkapan layaknya sebuah kota kecil modern. Fasilitas olahraga yang sangat memadai, taman bermain bagi anak-anak, supermarket, rumah sakit, sekolah dengan kualitas baik, dan rumah ibadah, dan lainnya.  Dan untuk mengatasi kejenuhan, para warga yang notabene adalah para pekerja tambah di PT Freeport diberi kesempatan   turun ke Kota Timika setiap akhir pekan. Mereka menyebutnya "tujuh dua" dari tujuh hari kerja, dua hari refreshing di Timika. Dua hari tersebut adalah hari Sabtu dan Minggu. Ini adalah kebijakan perusahaan menjaga kesehatan rohani dan jasmani karyawan. Mereka beramai-ramai diantar dengan bus yang disebut "bus kerinduan" dari Tembagapura ke Timika. Saya sempat naik bus ini waktu naik dari Timika ke Tembagapura sejauh kurang lebih 80 km. Bus ini dilengkapi dengan body anti peluru, sehingga saya tak leluasa melihat pemandangan Pegunungan Jayawijaya yang kesohor itu.   Meski saya hanya singkat tinggal bersamanya, kota kecil yang indah ini telah menawan hati saya. Sebuah kota yang selalu berkabut,  dengan warga yang hangat menyambut para tamu, meski ditengah dinginnya yang menusuk tulang. Amole!  

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara