Lupa Sandi?

Livi Zheng, perempuan asal Blitar Produser film Hollywood

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Livi Zheng, perempuan asal Blitar Produser film Hollywood

Siapa yang pernah menyangka bila perempuan yang dahulunya tidak bercita-cita menjadi produser film ini sekarang telah menjadi salah satu produser film asal Indonesia yang filmnya menjadi nominator penghargaan film bergensi, Piala Oscar. Hanya kerja keraslah yang mengantarkan seorang Livi Zheng, perempuan kelahiran kota Blitar, Jawa Timur menjadi produser yang terus bisa berkreasi di level internasional. Dulunya, perempuan cantik ini bercita-cita sebagai atlet wushu. Meski tampaknya sangat bertolak belakang dengan dunia film, sepertinya dunia Wushu lah yang mengantarkan Livi Zheng memasuki dunia layar lebar. "Memang dari kecil saya hobi bela diri dan bela dirinya Wushu. Wushu tuh sangat masuk ya di film. Saya juga suka buat skrip film. Dari Wushu situlah dapat beasiswa untuk belajar film," ujar Livi. Dirinya banyak menggantungkan hidup dari wushu, mulai dari mengajar wushu hingga menjadi stuntman yang pada akhirnya mendekatkan dirinya dengan lensa kamera. "Aku juga pas sekolah di Beijing cari uang sendiri. Dengan mengajar Wushu untuk anak TK sampai yang sudah kakek dan nenek. Aku juga suka bantuin anak-anak yang kurang mampu," tuturnya. Livi memulai karirnya sebagai stuntwomen di usia 15 tahun. Seorang atlet bela diri yang sudah ditempa dari usia sangat muda, wushu menjadi tiket bagi Livi untuk memulai karirnya di dunia film. “Wushu itu sangat applicable untuk dunia film karena gerakannya indah,”ceritanya. Livi bahkan memperoleh beasiswa ke stunt school dimana dia belajar membakar orang, jatuh dari ketinggian dan menyetir mobil dengan aman.

Livi Zheng

Livi Zheng dan Ken Zheng (foto: tabloidkabarfilm.com)

Menginjak dewasa Livi mencoba menaklukkan dunia barat dengan pindah ke Amerika untuk mengejar gelar Bachelor (sarjana) Ekonomi dan lulus dengan predikat sempurna dalam tiga tahun. Sempat berfikir untuk melanjutkan sampai tingkat doktoral. Namun pertemuannya dengan seorang stunt coordinator mengubah pikirannya. Dirinya memutuskan bahwa dunia perfileman adalah dunia yang ingin ditekuninya. Livi akhirnya mengambil langkah dengan menimba ilmu tingkat master di University of Southern California jurusan perfilman, salah satu sekolah terbaik di Amerika Serikat dengan rasio penerimaan hanya 4 persen. “Untung – untungan juga, tapi kebetulan keterima.” ujarnya lega. Menurut Livi, pendidikan perfileman itu penting namun tidak bisa menentukan segalanya. Kita harus tetap berkemauan kerja keras dari nol. “Kalau di film itu, pendidikan penting tapi bukan segalanya. Walaupun kita lulus dari sekolah penyutradaraan , mulai dari bawah itu penting. Jadi jangan ragu untuk mengerjakan apa pun, ambillah semua oportunity yang ada. Pasti semua skill itu, skill untuk mengerti cost atau kostum akan terpakai. Kita tidak mungkin mendalaminya, tapi semua skill itu pasti akan terpakai.” Livi menuturkan bahwa menjadi sutradara itu juga tidak mudah, karena harus bisa bekerja dalam tim. “Ternyata jadi sutradara itu susah sekali. Saat kita menjadi sutradara, kan tidak mungkin untuk merekam sendiri, mengatur sound sendiri. Aku perlu tim, semua spesialis, dan orang sana (Amerika) merupakan orang yang sangat picky (pilih-pilih). Cari kru itu sangat sulit.”kata Livi. Perjalanannya menjadi produser dimulai ketika dirinya mencari pendanaan untuk skenario yang dia tulis bersama dengan adiknya Ken Zheng. Persaingannya sangat ketat di Amerika, dimana kurang lebih 40.000 film diproduksi setiap tahun, jumlah skenario yang diajukan bisa sampai ratusan ribu banyaknya. Bagi seorang pemula, mendapatkan perhatian jelas bukan hal yang mudah. Setelah berkali – kali merevisi, seorang teman bersedia memperkenalkannya ke seorang produser yang bersedia memproduksi filmnya. Perkenalan itu membuka pintu bagi Livi untuk mewujudkan film yang diimpikannya. Hingga saat ini beberapa film yang sudah diproduksinya antara lain The Empire's Throne, Legend of The Best, Brush with Danger, dan yang akan rilis tahun depan yaitu Untitled Action Thriller. Salah satu film karyanya juga pernah masuk sebagai calon nominasi Oscar berjudul Brush with Danger.

Mimpi Livi tidak berhenti sampai disana saja. Dirinya mengaku ingin berkolaborasi dengan talenta-talenta hebat di Indonesa. “Aku belum kenal banyak musisi, tapi aku ingin bekerja sama dengan musisi untuk mengisi film – filmku, bahkan film keduaku yang akan dirilis tahun depan di Amerika. Aku butuh komposer untuk film – filmku.”kata Livi sambil tersenyum. Livi yang bangga menjadi Diaspora Indonesia ini juga mengatakan bahwa dia positif akan masa depan perfilman Indonesia. Menghabiskan lebih dari separuh usianya di luar negeri tidak mengikis rasa nasionalismenya. Masakan kegemarannya pun tetap rawon. Obat andalannya saat masuk angin tetap jamu tradisional. Pesan Livi Zheng pada talenta-talenta muda di Indonesia hanya satu

It’s okay to be rejected. Sukses  itu… kita hanya perlu satu orang untuk bilang iya. Kita tidak perlu seratus orang. Kita hanya butuh satu orang untuk jadi pintu kita.

Kemlu.go.id

Baca Juga
Label:
film
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Puncak Dunia

Yufi Eko Firmansyah7 bulan yang lalu

Tahukah Anda, Seberapa Luas Indonesia ?

Yufi Eko Firmansyah8 bulan yang lalu

Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Menjadi Penguasa Telekomunikasi Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Internet Gahar, 1 GB Per Detik

Asrari Puadisatu tahun yang lalu
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata