Sekitar 1300 anak-anak mengikuti Festival Egrang di Kota Batu, Jawa Timur. Para peserta yang terdiri dari para siswa dan siswi Sekolah Dasar (SD) berjalan dari Alun Alun Kota menuju Balai Kota Batu dengan menggunakan alat permainan tradisional tersebut. Egrang sendiri adalah permainan tradisional yang sudah turun-temurun dengan berbahan dari bambu. Namun seiring waktu, banyak egrang dibuat dari aneka kayu dan papan, termasuk besi. Cara permainannya dengan memanjat dan menggunakannya untuk berjalan.
Festival Egrang di Kota Batu (Foto: Darmadi Sasongko/merdeka.com) Festival Egrang di Kota Batu (Foto: Darmadi Sasongko/merdeka.com)

Para peserta menggunakan aneka kostum sesuai dengan kreativitas masing-masing. Tampak di antaranya tampil dengan dandanan punokawan Semar, pejuang, zombie dan menggunakan karung goni sebagai kostum. Setiap regu diberi kebebasan unjuk kebolehan dengan melakukan berbagai formasi. Baik dengan berputar-putar, berjalan mengelilingi teman maupun berjalan dengan mundur. "Paling sulit belajarnya saat menjaga keseimbangan, harus melatih keseimbangan," kata Abdul Aril, salah satu peserta yang ujuk kebolehan berjalan mundur, Rabu (19/8). Sebelumnya Aril mengaku sudah terbiasa memainkan Egrang, namun untuk persiapan Festival Egrang guru di sekolahnya mengajaknya untuk berlatih. Sekitar dua minggu, seluruh siswa diajak untuk belajar agar bisa menjaga keseimbangan saat melakukan formasi. Permana Rizky Saputa mengaku butuh waktu tiga hari untuk memperlancar jalannya. Baginya tidak terlalu sulit untuk berjalan sepanjang rute yang ditentukan oleh panitia. "Susahnya keseimbangan, tidak pernah jatuh sih cuma capek jalannya jauh," kata siswa kelas 5 SD Kelurahan Sisir, Kota Batu. Guru sekaligus pendamping di SD Kelurahan Sisir, Eni Susiloasih mengaku selama sekitar dua minggu menyiapkan anak-anak mengikuti Festival Egrang. Saat pulang sekolah anak-anak diajak bermain di halaman sekolah. "Rata-rata anak-anak senang, karena diajak bermain," katanya. Festival Egrang digagas oleh Pemerintah Kota Batu dalam rangka memperingati HUT Ke-70 Republik Indonesia. Acara ini digelar sekaligus untuk menumbuhkan rasa nasionalisme melalui permainan tradisional. "Salah satu upaya penguatan kembali pada nilai-nilai nasionalisme," kata Eny Wahyuningsing, selaku Ketua Panitia. merdeka.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu