Lupa Sandi?

Kuatnya Pesan Film SITI Mengalir Sampai Jauh...

Ghofar Ismail
Ghofar Ismail
0 Komentar
Kuatnya Pesan Film SITI Mengalir Sampai Jauh...
Mengangkat kisah perempuan penjual peyek jingking di Pantai Parangtritis, film karya anak bangsa mendapat apresiasi yang sangat positif di Thailand dan mendapatkan penghargaan di level dunia. Beberapa tahun terakhir ini, para pembuat film dari kota Yogyakarta semakin eksis menyumbangkan prestasi perfilman Indonesia ke kancah Internasional. Sebut saja Yosep Anggi Noen yang film pendeknya Laddy Caddie Who Never Saw a Hole in One memenangkan pernghargaan film pendek terbaik di Busan International Film Festival dan Tokyo Short-Short Film Festival Asia 2014. Dan di festival film besar Eropa seperti International Film Festival Rotterdam dan Berlin International Film Festival, film Indonesia yang diputar didominasi oleh pembuat film dari Yogyakarta seperti Loeloe Hendra dengan Onomastika, Yusron Fuadi dengan Pendekar Kesepian, Ismail Basbeth dengan Another Trip To The Moon dan Eddie Cahyono dengan filmnya yeng berjudul SITI. “Ini merupakan hasil dari sebuah budaya. Setelah berproses lebih dari sepuluh tahun, adanya ruang-ruang menonton dan diskusi, juga festival film merangsang terbentuknya budaya film. Tahun-tahun belakangan ini kita mulai merasakan hasilnya “ ungkap Ajish Dibyo yang merupakan penyelenggara Jogja-Netpac Asian Film Festival. siti SITI yang merupakan produksi dari Fourcolours Films terus mewakili Indonesia di beberapa festival film Internasional. Setelah melakukan pemutaran perdananya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, SITI terus berkeliling diputar di banyak festival. Bahkan Sekar Sari yang dengan sangat apik memainkan karakter utama di film SITI berhasil memenangkan penghargaan Best Performance di Singapore Internasional Film Festival 2014. “Saya tidak pernah menyangka pengalaman pertama bermain di film membawa saya meraih pernghargaan yang sangat tinggi ini” kata Sekar yang menghadiri malam puncak penghargaan di Singapura Desember yang lalu. Setelah Singapura, SITI berturut turut diputar di Rotterdam, Amsterdam dan Melbourne, Australia. Perjalanan untuk SITI sepertinya masih panjang, film ini baru saja kembali mendapatkan undangan untuk berkompetisi di ajang bergengsi Udine Far East Film Festival di Italia. Festival ini merupakan festival film terbesar di Italia yang khusus mengapresiasi film-film terbaik Asia. Festival ini persisnya berlangsung mulai 23 April sampai dengan 2 Mei 2015. Kemudian setelah Udine, pada tanggal 26 -18 Juli 2015, SITI juga akan berkompetisi di Taipei International Film Festival 2015 di program New Talent Competition. Eddie Cahyono akan bersaing dengan sutradara-sutradara dari berbagai negara untuk memperebutkan gelar Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. SITI yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini menceritakan kehidupan Siti, seorang penjual peyek jingking di sekitar pantai Parangtritis, Yogyakarta. Semenjak sang suami lumpuh akibat kecelakaan sewaktu melaut, Siti harus berjuang menghidupi Anaknya (Bintang Timur Widodo), Ibu Mertua (Titi Dibyo) dan Suaminya (Ibnu Widodo). Siti harus menambah penghasilan dengan menjadi wanita pemandu karaoke. Pekerjaan Siti yang baru ini mengakibatkan suaminya diam tidak mau bicara pada Siti. Siti menjadi jengkel pada suaminya. Perkenalannya dengan Gatot, seorang polisi (Haydar Saliz), di tempat karaoke membuat hati Siti bimbang. Semakin bimbang ketika Gatot yang menyukai Siti mengajak Siti menikah dan meninggalkan suaminya. “Fourcolours Films selalu ingin memproduksi film di Jogja dengan segala macam permasalahannya dari perspektif kami yang memang tumbuh besar di kota ini. Mungkin itu yang membuat film-film yang kami produksi mempunyai pijakan bertutur yang kuat” kata Ifa Isfansyah. Ifa Isfansyah benar-benar mempercayakan penuh penggarapan ini kepada sutradara Eddie Cahyono karena memang percaya bahwa Eddie paham betul dengan apa yang yang ingin ia sampaikan. “Di film ini saya benar-benar menemukan diri saya kembali. Banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup saya yang saya coba pertanyakan kembali kepada penonton melalui film ini. Untuk siapa kita hidup? Dari situ cerita ini bergulir” Ujar Eddie Cahyono. Setelah film ini diputar di festival film internasional, sebuah Sales Agents yang berbasis di Hongkong bernama Chinese Shadows tertarik untuk mendistribusikan SITI akan bertemu dengan penonton yang lebih luas. “Saya tidak mencari film karena melihat negaranya. Tapi saya mencari film yang bagus, dan menurut saya Siti adalah film yang bagus. Dan saya senang saat Siti berasal dari Indonesia, karena saya tidak begitu tahu tantang perfiman Indonesia, dengan begitu saya memperluas wawasan saya dengan film ini” Ujar Isabelle Glachant dari Chinese Shadows setelah menandatangani kontrak sebagai Agen Penjualan Internasional untuk film SITI. Lain lagi pengalaman yang dirasakan Sutradara Senior Perancis Pierre Rissient saat menonton SITI di Singapura “Saat saya baru menonton film ini selama sepuluh menit, saya langsung ingin bertemu dengan sutradaranya! Buat saya dia telah berhasil menciptakan sinema!” Ujarnya. Rotterdam Film Festival menyebut SITI sebagai adalah film yang yang mengingatkan pada sinema klasik neo-realisme. “Eddie Cahyono telah membuktikan bahwa matanya mempunyai anegerah untuk melihat sesuatu yang kecil-kecil dan kadang terlewatkan” ujar Clarence Tsui dari Hollywood Reporter. Begitu juga Derek Elley dari Film Business Asia yang memberi catatan bahwa Eddie telah berhasil menghadirkan dunia yang nyata sepanjang 88 menit. Setelah beberapa perjalanan internasional tersebut, SITI berencana diputar di beberapa jaringan bioskop di Indonesia agar bertemu dengan penonton film Indonesia yang lebih luas. Kita nantikan segera SITI di bioskop! Pemain sebagai Siti : Sekar Sari, Bagas : Bintang Timur Widodo, Bagus : Ibnu Widodo, Simbok :Titi Dibyo, Sri :Delia Nuswantoro, Wati : Chelsy Bettido. Tim Produksi terdiri dari Director/Scriptwriter : Eddie Cahyono, Producer : Ifa Isfansyah, Producer Executive : Ifa Isfansyah dan Silvia Indah Rini, Line Producer : Yosi Arifianto, DOP : Ujel Bausad, Art Director : Luki Ucok Janarko, Wardrobe : Pradani Ratna, Music & Sound : Krisna Purna, Editor : Greg Arya, Int’l Sales Agent : Chinese Shadows. Link Review: Hollywood Reporter by Clarence Tsui Film Business Asia by Derek Elley CineCola by Matt Micucci Udine Far East Film Festival by Paolo Bertolin International Film Festival Rotterdam by Gertjan Zuilhof Informasi lebih lanjut: Narina Saraswati (publicist), Telp: +62 81328477769, email: publicist@fourcoloursfilms.com
Label:
film
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG GHOFAR ISMAIL

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara