Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Mereka Bukan Atlet Biasa

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Mereka Bukan Atlet Biasa
Mereka Bukan Atlet Biasa
Tanah Air Indonesia kedatangan anak bangsa yang istimewa. Para atlet difabel Indonesia yang tergabung dalam Special Olympics Indonesia (SOIna) telah kembali. Mereka berhasil membawa pulang 19 medali emas, 12 medali perak, dan 5 medali perunggu dari ajang Special Olympics World Summer Games (SOWSG) 2015 di Los Angeles, Amerika Serikat. "Prestasi ini merupakan perolehan medali terbanyak selama Indonesia mengikuti Olimpiade Disabilitas," ujar Nahar, Direktur Orang dengan Kecacatan (ODK), Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial. Ia turut mendampingi Menteri Khofifah menyambut kedatangan para atlet spesial tersebut, awal Agustus lalu. Sekitar dua jam, Menteri Khofifah menunggu kedatangan kontingen SOIna di bandara. Matanya berkaca-kaca saat memberikan pernyataan singkat. "Ini sebuah kesuksesan sinergi antara Kemensos, Kemenpora, dan SOIna. Artinya bahwa kedisiplinan dan proses pengawalan oleh para pelatih, pimpinan SOIna, dan tim asistensi sangat luar biasa," ujar Khofifah. Kontingen Indonesia saat acara pembukaan SWOG 2015 (Foto: dok SWOG 2015) Prestasi ini, lanjut Khofifah, dipersembahkan untuk bangsa dan negara Indonesia pada hari Kemerdekaan yang ke-70 tahun. Ia yakin ke depan para atlet difabel ini akan mengalami peningkatan secara kualitas. Bukan cuma menyambut, Khofifah juga memberikan dukungan langsung dengan mendampingi atlet dan melihat pertandingan pada awal penyelenggaraan di Los Angeles. Nahar menjelaskan, 36 medali tersebut didapat dari enam cabang olahraga, yakni bulu tangkis, sepak bola, renang, atletik, bocce, dan tenis meja. Dalam SOWSG yang digelar di Los Angeles pada 25 Juli hingga 2 Agustus tersebut, Indonesia mengirim 41 atlet dan 13 pelatih untuk mengikuti tujuh cabang olahraga. Dari 41 atlet yang berlaga, 30 orang di antaranya berhasil membawa pulang medali. Para atlet yang telah mengharumkan nama Indonesia itu tampil dalam Special Olympics World Summer Games atau olimpiade khusus bagi para difabel. Tahun ini, olimpiade tersebut diikuti oleh 177 negara, 7.000 atlet, 3.000 pelatih, dan 30 ribu relawan. Dihadiri 500 ribu pengunjung dan suporter dari seluruh dunia. Indonesia telah menjadi peserta dalam kegiatan olahraga khusus bertaraf internasional tersebut sebanyak tujuh kali, yakni lima kali dalam SOWSG dan dua kali SOWWG (Special Olympics World Winter Games). Empat tahun sebelumnya dalam ajang SOWSG XIII tahun 2011 yang dilaksanakan di Athena, Yunani, Indonesia berhasil membawa pulang I5 medali emas, 13 medali perak, dan 11 medali perunggu. Olimpiade khusus dunia tahun ini berlangsung di Kota Los Angeles, Amerika Serikat, sejak 25 Juli hingga 2 Agustus 2015. Para pesertanya adalah para difabel terpelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Walau memiliki keterbatasan, mereka berkompetisi di cabang-cabang olahraga seperti yang dilakukan oleh orang-orang biasa. Mereka memang spesial, tapi bukan berarti tak bisa berprestasi. Tiga medali emas, antara lain, disumbangkan oleh Dhimas Prasetyo dari cabang bulu tangkis. Saat ditanya siapa lawan-lawannya dan dari negara mana, Dhimas tak mampu mengingat kembali peristiwa yang mengharumkan nama bangsa dan negara itu. "Saya, lupa," kata Dhimas, singkat. Bukan cuma Dhimas, anggota kontingen lain pun tidak memiliki memori yang baik untuk mengingat karena keterbatasan yang dimilikinya. Namun, mereka tidak bisa menutupi rasa gembira ketika tiba dengan mengenakan jaket olahraga nuansa merah putih dan topi bertuliskan KJRI Los Angeles. "Indonesia … Indonesia … Indonesia," teriak para atlet yang dipandu ketua delegasi. Los Angeles telah mereka taklukkan, ketika anggota parlemen sibuk berdiskusi membahas Rancangan Undang-Undang Disabilitas yang tak kunjung usai, termasuk hak difabel dalam bidang olahraga yang belum terakomodasi secara penuh akibat berbagai kendala fasilitas. Namun, dengan keterbatasan fasilitas, mereka sudah membawa nama Indonesia sejajar dengan kontingen dari benua Amerika, Eropa, dan Afrika yang secara fisik lebih tinggi dan lebih besar dari ukuran fisik Indonesia. Sungguh mereka bukan atlet biasa, mereka adalah anak-anak bangsa Indonesia. republika.co.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata