Lupa Sandi?

Wakil Indonesia Raih Predikat Finalis di Ajang Michelin Challenge Design 2016

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Wakil Indonesia Raih Predikat Finalis di Ajang Michelin Challenge Design 2016
Anak-anak bangsa kembali menelurkan karya-karya yang diakui dunia Internasional. Kali ini dua pemuda asal Malang Agri Bisono dan rekannya Yoma Alief Samboro meraih predikat finalis dalam Michelin Challenge Design 2016 yang bertajuk Mobility for All – Designing for the Next Frontier dengan desain bernama LOGon. Michelin Challenge Design 2016 “Mobility For All – Designing for the Next Frontier” adalah ajang tantangan untuk mendesain kendaraan personal, keluarga atau komersial yang memberikan mobilitas sederhana, fungsional dan murah untuk daerah-daerah terpencil di Asia Tenggara, Amerika Tengah, Afrika Tengah atau lokasi terpencil lainnya. Kompetisi yang melibatkan pendaftar sebanyak 875 peserta dari 68 negara ini akhirnya memilih 14 desain terbaik dari seluruh desain yang masuk dan diumumkan awal September lalu. Desain-desain otomotif terbaik yang terpilih dari seleksi para ahli desain otomotif dan ahli industri otomotif dunia tersebut berasal dari berbagai negara seperti Albania, Bahrain, Kanada, Kolombia, India, Indonesia, Italia, Meksiko, Polandia, Korea Selatan, Taiwan, Inggris dan Amerika Serikat.
LOGon LOGon

"Para pemenang dari Michelin Challenge Design 2016 yang kami adakan tersebut telah menunjukkan bahwa para peserta memiliki kreatifitas dan inovasi yang hebat, serta memiliki fokus dalam memberikan mobilitas dalam berbagai macam aplikasi," kata Thom Roach, wakil presiden dari original equipment marketing untuk Michelin Amerika Utara. "Kami mengucapkan selamat untuk para pemenang yang telah mendesain solusi mobilitas yang mengejutkan yang berpotensi menyediakan sumber transportasi di berbagai tempat di dunia." tambahnya. Tiga pemenang terbaik dalam ajang kompetisi ini akan diundang untuk hadir dalam North American International Auto Show (NAIAS) sebagai tamu dari Michelin dan akan diberi kehormatan oleh Michelin untuk hadir di pertemuan tahunan para desainer Michelin. Sedangkan hasil desain 11 finalis lainnya akan di tampilkan di 2016 NAIAS di Detroit, Januari mendatang sekaligus diundang untuk mengikuti komunitas online ekslusif yang diadakan oleh Michelin untuk pemenang dan juri Michelin Challenge Design. Stewart Reed, kepala juri dari Michelin Challenge Design mengungkapkan bahwa para juri sangat terkesan dengan solusi-solusi yang jenius, simpel dan kreatif yang dikirimkan oleh peserta untuk kompetisi Michelin Challenge Design tahun ini. "Mendesain kendaraan dengan mobilitas tinggi adalah sebuah topik yang penting dalam industri otomotif. Menerima peserta dari hampir 70 negara, memperlihatkan betapa pentingnya Michelin Challenge Design." imbuh pria yang juga kepala dari Departemen Desain Transportasi, Art Center College of Design, Pasadena ini. LOGon Indonesia yang menjadi finalis diwakili oleh karya LOGon karya dari Agri Bisono dan Yoma Alief Samboro merupakan sebuah desain yang mencoba memanfaatkan kayu-kayu gelondongan dan memadukannya dengan struktur besi sebagai badan dan rangka kendaraan. Kendaraan ini menggunakan mesin motor sederhana yang diletakkan pada rangka LOGon sebagai penggerak. Agri Bisono ketika diwawancara GNFI beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa LOGon adalah ide dari rekannya Yoma Alief Samboro. LOGon secara konsep adalah sebuah kendaraan desa yang difungsikan sebagai alat angkut barang yang simpel, murah dan mampu melewati berbagai medan. Melihat yang kegunaannya untuk transportasi desa, mereka bermaksud untuk memberikan desain kendaraan yang mudah untuk dibangun, termasuk tidak sulit untuk mencari mesinnya. Sehingga mereka membuat desain yang mampu digerakkan dengan mesin motor. "Sejujurnya kami sedikit agak sedih karena hanya menjadi finalis, namun kami juga merasa bangga karena dengan menjadi finalis adalah sesuatu yang juga tidak mudah," ujar Agri, pemuda lulusan Desain Produk Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang memiliki keseharian mendesain mobil ini. LOGon Menariknya desain dari LOGon juga berusaha untuk memberikan sensasi berkendara menggunakan kuda yang biasanya familiar di daerah desa. "Kami mencoba memberikan fungsi emosional seperti menunggangi kuda meskipun sejatinya itu adalah sebuah kayu gelondongan," jelasnya. Sebagai seorang desainer Agri berujar bahwa adalah sebuah keharusan bila konsep-konsep yang dihasilkannya dapat diwujudkan secara nyata, bukan hanya digambar dan diwujudkan secara fisik terlebih juga diapresiasi. Dirinya dan Yoma juga mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki banyak talenta kreatif yang hebat. "Kalo masalah talenta desain, ya memang indonesia punya itu, lihat aja bukti sejarah budaya indonesia yg beragam dari berbagai suku, batik ukiran candi dan artefak lain kreatifnya kerasa disitu, tiap tiap daerah punya ciri desain yg khas dan itu bukti kalo indonesia sebenarnya kreatif," kata Yoma Alief Samboro, pemuda asal Malang yang juga lulusan Desain Produk ITS tersebut. "Hanya saja bila mereka (para desainer, -red.) dihubungkan dengan industri itu yg jadi masalah. Industri berbicara soal laku atau tidaknya produk dengan hitungan ekonomis, sehingga desain yg bagus itu desain yg bisa dijual. Makanya banyak desainer yang kurang bisa mengeksplor kemampuan desainnya, karena hanya memodifikasi apa yg laku di pasar." imbuh Yoma. Yoma juga berharap bahwa suatu saat terdapat semacam Indonesia Transportation Design Showcase, semacam pameran akbar dimana kita pajang desain kendaraan yg dirancang oleh anak anak negeri. Mulai dari concept, facelift, sketch, sampai dengan model. "Pamerkan karya tunjukkan ke dunia kalo Indonesia itu bisa," pungkas Yoma.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie