Penemu Kromosom 23, Pria Kelahiran Pekalongan

Penemu Kromosom 23, Pria Kelahiran Pekalongan
info gambar utama

Ilmu genetika modern saat ini dianggap sebagai salah satu bidang eksplorasi sains yang masih penuh misteri. Berbagai penyakit baru dapat teridentifikasi melalui penelitian genetika yang rumit. Namun siapa sangka ternyata ilmuwan yang lahir di Indonesia memiliki peran besar dalam perkembangan genetika. Dia adalah Joe Hin Tjio.

Ilmuwan yang lahir di Pekalongan 2 November 1919 ini menemukan jumlah sebenarnya dari kromoson manusia pada tahun 1955 yang lalu di Swedia, ketika dirinya hanya menjadi ilmuwan tamu. Penemuannya saat itu membuat gempar dunia ilmu pengetahuan karena saat itu para ilmuwan sangat mempercayai bahwa kromosom yang dimiliki manusia adalah berjumlah 24 bukan 23 seperti yang ditemukan oleh Joe Hin Tjio bersama dengan Albert Levan yang berasal dari Spanyol. Lalu siapa sebenarnya Joe Hin Tjio?

Menurut ensiklopedia Britannica Tjio kecil yang lahir dari keluarga Cina, bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional. Namun Tjio memutuskan untuk kembali bersekolah di bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida yang tahan terhadap penyakit.

Sejak berkuliah itulah Tjio mendapatkan pondasi ilmu genetika. Sempat dipenjara selama tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman. Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya yang menghebohkan itu ia lakukan.

Pada tahun 1955, Tjio menemukan teknik yang baru untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel, karena itu dirinya digelari sebagai bapak dari ilmu cytogenetik modern –ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas– yang merupakan sebuah cabang utama ilmu genetika.

Penelitiannya yang lain di tahun 1959 menemukan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome ternyata memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka. Di sisa 37 tahun terakhir karirnya, Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) Washington. Di sana Tjio mengkompilasi koleksi-koleksi foto-foto ilmiah yang mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH.

Prestasi Tjio pun tak bisa dipandang remeh, bahkan sangat membanggakan, terbukti dengan anugerah Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962. 25 hari setelah ultahnya yang ke-82 Tjio tutup usia tanggal 27 November 2001, di Gaithersburg, Maryland, Amerika.

sumber: IndonesiaProud

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini