Lupa Sandi?

Inilah Orang Indonesia yang Mampu Merancang, Membuat, dan Menerbangkan Helikopter

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Inilah Orang Indonesia yang Mampu Merancang, Membuat, dan Menerbangkan Helikopter
Sebagai bagian dari keluarga besar TNI Angkatan Udara kita mungkin kurang mengenal nama Letkol (Pur) Yum Sumarsono.   Ya … beliau adalah bapak helikopter Indonesia. Hingga saat ini, di Indonesia baru ada satu orang yang mampu merancang, membuat, sekaligus menerbangkan pesawat helikopter, yaitu Yum  Sumarsono.  Tidak berlebihan kiranya apabila Pak Yum, (demikian panggilan akrabnya) dijuluki sebagai Bapak Helikopter Indonesia. Letkol (Pur) Yum Sumarsono adalah seorang  ilmuwan, dan penerbang TNI Angkatan Udara, bersama dengan Nurtanio Pringgoadisuryo, Wiweko Soepono dan R.J Salatun, mereka adalah perintis kedirgantaraan di Indonesia. Bila Nurtanio melakukan upaya merintis dalam bidang pesawat bersayap tetap, maka Yum Soemarsono adalah perintis dibidang rotary wing/helikopter. Masa kecil dilalui di daerah kelahirannya Purworejo, sekolah MULO di Magelang kemudian  sekolah teknik di Bandung.  Setamat dari MULO, Yum malang melintang mencari pekerjaan dari pelayan hotel di Makassar, pelaut, sopir taksi, hingga masinis.  Dari petualangannya inilah Yum mendapatkan banyak pengalaman berharga dalam membentuk mental dan karakternya.
Yum Sumarsono dengan latar belakang helikopter
Yum Soemarsono adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah mendesain, membuat dan menerbangkan helikopter.  Berbeda dengan penemu dan pengembang helikopter lainnya, dia mengembangkan helikopter sendiri berdasarkan pengalaman dan intuisi serta keterampilannya yang tidak diperoleh dari pendidikan tinggi.  Rancangannya berupa Rotor Stabilizer dibuatnya hanya berdasarkan intuisi Letkol (pur) Yum Soemarsono lahir di Soko, Purworejo, Jawa tengah pada tanggal 10 April 1916.  Beliau adalah anak desa yang mulai tertarik dengan pesawat terbang ketika sering melihat pesawat terbang lalu-lalang di Lapangan Terbang Tidar, Magelang.  Walaupun dikenal sebagai perancang helikopter tapi beliau tidak banyak mengenyam pendidikan tinggi, beliau menekuni dunia helikopter secara mandiri.     Helikopter rancangannya pada saat itu tidak memiliki bentuk seperti helikopter yang dilihat sekarang, namun memiliki dan menerapkan prinsip kerja helikopter. Pada waktu itu informasi tentang perkembangan teknologi heli-kopter sangat sukar diperoleh. Sehingga Beliau hanya mempelajari lembaran stensilan karangan seorang ilmuwan Belanda, Ir. Oyen, tahun 1940 tentang aerodina-mika dan sebuah gambar dari majalah Popular Science bekas pada tahun 1939. Walaupun dengan pengetahuan aerodinamika yang seadanya, pada tahun 1948 Yum Sumarsono dan teman-temannya seperti Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisuryo berhasil merancang helikopter pertama yang diberi nama RI-H di Desa Tarikasem, Batujamus lereng gunung Lawu. Helikopter tersebut merupakan helicopter pertama yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil   orang Indonesia dan khususnya anggota TNI AU (waktu itu AURI). Dengan menggunakan mesin sepeda motor BMW 500 cc yang dapat menghasilkan tenaga 24 daya kuda pada 3000 putaran permenit, pesawat helikopter RI-H menjadi kenyataan.     Pembuatannya cukup lama; ketika terjadi peristiwa Madiun 16 Oktober 1948, RI-H baru 25 persen dan baru dapat diselesaikan pada bulan Desember.Yum merencanakan terbang perdana 24 Desember, tetapi rencana tersebut dibatalkan karena Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember. Untuk menghindari serangan dari Belanda, RI - H disembunyikan disemak-semak disamarkan dengan ditutupi  dedaunan. Tetapi pesawat P-40 Kittyhawk dan P-51 Mustang Belanda yang mendapat tugas menyerang Pangkalan Udara Maospati dapat menemukan lokasi persembunyian RI – H dan menghancurkannya. Beruntung mesin BMW dan rotornya selamat, karena sebelumnya sudah dipreteli terlebih dahulu.
Pesawat RI-H buatan Yum Sumarsono 
Mesin inilah yang menjadi komponen utama helikopter kedua rancangan Yum Sumarsono, yang diberi nama  Helikopter YSH (Yum Soeharto Hatmidji) yang dirancang bersama Soeharto dan Hatmidji, selesai pada tahun 1950 dan dapat melayang setinggi 10 m di lapangan Sekip Yogyakarta.  Namun sayang, tiang rotor YSH ini menyenggol kawat listrik sewaktu diangkut ke Kalijati menggunakan truk. Berkat prestasinya tersebut, pada tahun 1951, Letkol (Pur) Yum Sumarsono mendapat beasiswa dari perusahaan helikopter Hiller untuk belajar terbang di California, AS. Selain belajar menerbangkan helikopter, beliau juga mengambil kursus desain helikopter di Stanford University. Di sini Beliau juga menunjukkan kepiawaian perhitungan desain rotor blade-nya, yang cuma berbeda satu inci dari rotor blade rancangan Wayne Wiesner, kepala biro desain Pabrik Hiller.
Yum Sumarsono
Pada tanggal 22 Maret 1964 Yum Sumarsono mengalami kecelakaan saat melakukan uji terbang helikopternya yang ke-empat yang diberi nama Kepik. Kecelakaan ini menyebabkan beliau kehilangan tangan kirinya dan sekaligus menewaskan asistennya, Dali. Nama kepik sendiri adalah nama pemberian Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno. “Cinta sampai mati”, begitulah pria kelahiran Purworejo 10 Desember 1916 tersebut dengan  helikopter. Lengan kirinya yang patah akibat kecelakaan saat mengemudikan Kepik, helikopter keempat  buatannya,   tak membuatnya kapok berurusan dengan helikopter. Kehilangan tangan kirinya membuatnya menemukan suatu alat yang dinamakan throttle collective device untuk mengganti tangan kirinya yang putus. Alat ini digunakan untuk mengangkat dan memutar collective, salah satu kemudi yang terletak pada sisi kiri penerbang. Alat ini adalah alat satu-satunya di dunia yang dibuat dan digunakannya untuk menerbangkan heli bell 47J2A dan 47G. Pada tahun 1963 Beliau sempat menjadi pilot helikopter pribadi Presiden Soekarno. Dari tahun 1965 sampai tahun 1972 Beliau bekerja sebagai pilot penyemprot hama tebu dan kelapa. Ketika berhasil memperbaiki dan menerbangkan kembali helikopter Bell 47-J-2A yang kemudian diberi nama Si wallet, nama Yum Soemarsono kembali dikenal publik. Pada bulan Juni 1990 Beliau diundang ke Paris untuk mendemonstrasikan throttle collective device, lengan buatannya itu untuk menerbangkan helikopter BELL 47-G. Bahkan pada usia 83 tahun, bulan Februari 1999, sebelum masuk rumah sakit dan akhirnya pergi selama-lamanya tanggal 5 Maret 1999 karena kanker menggerogoti paru-parunya, Pak Yum masih menerbangkan helikopter. Itulah penerbangan terakhir putra Patih  Purworejo Suryodiprojo dan Ibu Surtini.  Yum Soemarsono meninggal pada tanggal 5 Maret 1999 di Bandung. (TNI AU)

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata