"Apa artinya bila memiliki banyak uang tapi merusak lingkungan?" seru seorang pejuang lingkungan asal Aceh. Ungkapan tersebut tidak berlebihan memang bila melihat kenyataan bahwa Indonesia yang saat ini banyak mengandalkan potensi sektor pariwisata untuk pengembangan ekonomi namun dilain sisi tetap banyak terjadi praktik pengerusakan lingkungan. Melihat kenyataan inilah kemudian Rudi Putra, seorang putra Aceh berjuang untuk menyelamatkan Wilayah konservasi lingkungan Leuser di Sumatera dari perusakan lingkungan oleh perusahaan kelapa sawit ilegal. Berkat perjuangannya tersebut Rudi mendapatkan penghargaan Goldmans Environmental Prize pada bulan April 2014 yang lalu. Penghargaan ini diberikan pada orang-orang yang berjasa dalam pelestarian lingkungan di seluruh dunia.
Rudi Putra (Foto: Lucy Wang / Inhabitat.com) Rudi Putra (Foto: Lucy Wang / Inhabitat.com)

Ahli konservasi ini mengaku, awalnya tidak percaya dengan sebuah telepon yang mengatakan dirinya termasuk dalam nominasi yang diberikan oleh Goldman Environmental Foundation tersebut. Dirinya curiga pada telepon itu dan berfikir bahwa mungkin itu hanyalah penipuan. "Saya tidak percaya karena saya tidak mendaftarkan diri untuk penghargaan seperti itu. Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan email khusus dari mereka, namun tetap masih belum percaya," katanya seperti dikutip dari The Jakarta Post. Singkat cerita, Rudi yang memang sudah sedari kecil mencintai alam ini akhirnya percaya dengan berita tersebut ketika bertemu dengan pihak Goldmans dan setelah Erna Witoelar, mantan Ambassador Khusus UN untuk program MDGs di Asia Pasifik berbicara langsung padanya. Perjuangan pria yang mendapat gelar sarjana di jurusan Konservasi Biologi Universitas Syiah Kuala dan meraih master di jurusan yang sama di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini dalam melawan penanaman sawit ilegal yang menyebabkan deforestasi besar-besar di Wilayah konservasi lingkungan Leuser Sumatera ternyata diketahui dan diakui oleh juri. Sehingga dirinya dianggap pantas menjadi seorang pahlawan lingkungan penerima penghargaan Goldman Prize. “Penghargaan ini sangat berarti untuk saya, ini menjadi sebuah dorongan untuk saya dan rekan-tekan untuk terus memperjuangkan perlindungan Leuser," kata Rudi yang terharu. Dirinya juga mengatakan telah menggunakan uangnya untuk membiayai aktifitas Forum Konservasi Leuser yang merupakan tempat dirinya dan timnya untuk membongkar ribuan hektar kebun sawit ilegal dan melindungi satwa liar di Leuser. Rudi mengaku memiliki kecintaan tersendiri terhadap Badak Sumatera, hal tersebut kemudian mendorongnya untuk juga menjadi peneliti ahli dan memimpin tim perlindungan badak pada ekspedisi pencarian pemburu gelap di Ekosistem Leuser, yang luasnya mencapai lebih dari 24 ribu meter persegi. Upaya Rudi untuk melindungi lingkungan Leuser adalah amat penting karena wilayah konservasi ini adalah salah satu habitat dari Badak Sumatera yang sudah sangat terancam punah. Bukan semata karena badak, namun perlindungan Leuser juga penting untuk kelangsungan hidup empat juta warga yang tinggal tidak jauh dari wilayah ini sebab Leuser telah menjadi wilayah sumber air yang digunakan masyarakat. Sampai tahun 2014 ini Rudi telah berhasil membongkar lebih dari 485 hektar kebun sawit ilegal di Leuser, menciptakan ruang bagi kawanan Gajah, Harimau dan orangutan, termasuk berhasil meningkatan populasi Badak Sumatera. “Ini adalah kontribusi saya pada Aceh. Pekerjaan saya mungkin tidak menarik secara finansial dan sangat melelahkan, namun apa artinya bila kita memiliki banyak uang namun tapi tidak melindungi lingkungan? Bencana buatan manusia pasti akan merugikan kita sendiri." Pungkas Rudi

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu