Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya ini Sukses Mengarungi 3000 km di Belantara Australia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya ini Sukses Mengarungi 3000 km di Belantara Australia
Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya ini Sukses Mengarungi 3000 km di Belantara Australia
Mobil Widya Wahana V rancangan Tim Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) berhasil menyelesaikan lomba tahunan mobil bertenaga surya Darwin-Adelaide pada hari Sabtu (24/10/2015). Ini adalah kali kedua tim asal Indonesia ikut lomba tahunan bergengsi tersebut. Mobil Widya Wahana V tersebut ikut dalam lomba kategori cruiser, dan menduduki peringkat 7 dari 12 peserta yang ikut. Mobil pertama yang masuk finish adalah Nuna 8 milik tim asal Belanda Nuon yang masuk finish di Victoria Square di pusat kota Adelaide pada hari Kamis. "Kami ikut kategori cruiser, yaitu mobil yang bisa ditumpangi oleh 2 sampai 4 orang, dan sampai sementara kami menduduki peringkat ke-7." kata Aufar Nugraha manajer tim ITS ini kepada wartawan ABC Australia Plus L. Sastra Wijaya hari Senin (26/10/2015). Tim Widya Wahana V tiba di Victoria Square Adelaide hari Sabtu.( Foto: Anthony Cramp) Tim Widya Wahana V tiba di Victoria Square Adelaide hari Sabtu.( Foto: Anthony Cramp) Bila tim ITS mengikuti lomba di nomor cruiser, mobil Nuna 8 bertanding di kategori challenger, dimana mobil hanya bisa diisi oleh satu orang saja. Ini adalah kali kedua tim ITS mengikuti lomba serupa dimana di tahun 2013 mobil Widya Wahana 4 juga ikut namun tidak berhasil menyelesaikan lomba sejauh 3000 km tersebut. "Pencapaian kami tahun ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kami mampu menyelesaikan lomba walau harus diangkut trailer sebanyak dua kali." tambah Aufar. Lomba dibagi dalam berbagai tahapan, dan masing-masing tahapan memiliki batas waktu, dan karenanya ketika sebuah mobil tidak mencapai batas waktu yang ditentukan, mobil tersebut kemudian diangkut dengan trailer ke awal start tahapan selanjutnya. "Secara keseluruhan mobil Widya Wahana V ini berhasil menjalani rute sepanjang 1600 km dari 3000 km lomba keseluruhan." kata Aufar Nugraha lagi. Menurutnya, tim ITS banyak belajar sepanjang lomba karena sebelumnya di Indonesia mereka tidak memiliki kesempatan yang memadai untuk melakukan uji coba kendaraan mereka. "Dari evaluasi kami, kami sebenarnya mampu menyelesaikan lomba sejauh 3000 km ini. Namun di Indonesia kami kesulitan menemukan jalan sepanjang ini. Jadi ketika kami di Australia kami masih meraba-raba karakteristik mobil, dan baru setengah jalan, kami bisa memahaminya." tambah Aufar. "Dari sisi teknologi, kami tidak merasa kalah. Beban mobil juga lebih enteng. Ada mobil lain yang beratnya lebih dari 300 kg, sedangkan mobil kami beratnya adalah 280 kg, jadi lebih efisien." Ini adalah penampilan kedua tim ITS dalam lomba tahunan Darwin-Adelaide tersebut.(Foto: PPIA Unisa) Ini adalah penampilan kedua tim ITS dalam lomba tahunan Darwin-Adelaide tersebut.(Foto: PPIA Unisa) Mengapa mobil ini dinamakan Widya Wahana V? "Beberapa tahun lalu, ITS sudah mengembangkan mobil tenaga surya ini yang dinamakan Widya Wahana 1 sampai 3. Jadi untuk menghormati mereka, kami melanjutkan nama tersebut. Di tahun 2013, saya bertindak sebagai pengendara Widya Wahana IV.' kata Aufar yang juga masih menjadi mahasiswa ITS sekarang ini. Menurutnya perhatian besar dari ITS dalam lomba mobil bertenaga surya membuat mereka bisa mengirimkan tim untuk berlomba dan Aufar Nugraha mengharapkan ITS masih akan berpartisipasi di tahun-tahun mendatang. (nwk/nwk) Detik.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie