Lupa Sandi?

Kuliner Semarang: Lunpia Mbak Lien

Dian Isnawati
Dian Isnawati
0 Komentar
Kuliner Semarang: Lunpia Mbak Lien

Semarang adalah kota pelabuhan yang sangat terkenal sejak jaman dahulu kala. Begitu tersohornya hingga banyak orang-orang dari negara manca berdatangan bahkan menetap di sini. Orang-orang manca ini akhirnya tidak hanya berdagang dari Arab, Eropa maupun Tiongkok namun juga membawa serta budayanya ke Semarang. Jika sudah sampai pada budaya, tentu tidak bisa lepas dari kuliner.

Kuliner yang akan aku ulas kali ini adalah lunpia. Lunpia atau lumpia adalah salah satu menu khas Tiongkok yang sudah mendunia. Begitu pula di Semarang. Di sini, kudapan yang berisi rebung ini menjadi favorit bahkan jadi jajanan khas yang diburu para pelancong.

Lunpia, icon kuliner Kota Semarang

Banyak teman-teman di Semarang bilang, lunpia paling enak itu di Gang Lombok. Namun mereka juga memberi tahu kalau di sana non-halal. Jika mencari lunpia yang juga enak tapi tidak mengandung babi, maka pilihannya adalah Lunpia Mbak Lien.

Sudah lama aku ingin mencicipi Lunpia Mbak Lien ini tapi tidak juga segera berjodoh. Kemarin minggu saat jalan-jalan keliling kota, kebetulan kami lewat jalan Pemuda dan melihat bannernya. Langsung saja aku minta mampir dan Mojo setuju. Lokasinya di utaranya Toko/Restoran Oen.

Baca Juga

Ternyata tempatnya masuk gang. Untungnya ada tulisan besar di depan tokonya jadi sangat mudah dicari. Eh, sebenarnya ngga toko sih. Bentuknya seperti rumah kuno di daerah Kauman Jogja atau Laweyan Solo. Hanya saja interior rumah ini sudah diperbarui dengan wallpaper cantik dan cat yang baru.

Aku selalu suka penjual yang ramah, dan untukku, itu bisa jadi pertimbangan yang lebih utama daripada rasa yang enak tapi dilayani dengan ketus. Di sini, staffnya ramah-ramah. Padahal biasanya kalau tempat tujuan turis yang sudah legendaris selalu identik dengan penjual yang kurang ramah.

Harga lunpianya cukup terjangkau, mulai 11ribu untuk isi udang sampai 13ribu untuk isi spesial. Yang bikin aku makin suka adalah saus, daun bawang, saus bawang putih, dan cabe rawitnya disediakan di meja dan kita bebas mau ambil sesuka hati.

Satu porsi cukup besar sehingga cukup mengenyangkan untuk camilan ringan. Tapi kalau dua juga masi bisa sih hihihi.. Isinya juga padat. Untuk makan disediakan garpu, tapi aku langsung pakai jurus tangan kosong. Pake garpu malah syusyeh.. Langsung aja, samber pake tangan, cocol sana cocol sini, terus hap! Yummyy..

lunpia isi rebung dan udang

Sumber : http://dianisnawati.blogspot.co.id/2015/10/kuliner-semarang-lumpia-mbak-lien.html


Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIAN ISNAWATI

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara