Lupa Sandi?

Misteri di Kaki Gamalama

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Misteri di Kaki Gamalama

Saya akan mengunjungi kota ini lagi untuk keempat kalinya bulan depan. Saya selalu tidak sabar setiap kali tahu bahwa saya akan menginjakkan kaki di salah satu tempat favorit saya di seluruh dunia (setelah Jogja, kota kelahiran saya hahahaha) ini. Ternate. Saya pernah menulis cukup panjang lebar akan kecintaan saya pada kota kecil ini, di tulisan lama saya "Terima kasih, Ternate". Pembaca akan faham, mengapa saya terpesona akannya.

Kali ini, saya akan menulis dari sisi yang lebih ringan, salah satu yang membuat saya ingin selalu kembali. Namanya danau Tolire, danau unik di kaki gunung Gamalama yang menjulang melatarbelakangi seluruh kota.

Pemandangan Gunung Gamalam via youtube.com
Pemandangan Gunung Gamalam via youtube.com

Tak banyak dari kita yang mendengar nama danau misterius ini. Selain letaknya yang jauh di timur laut nusantara, danau itu juga tidak tergolong besar. Saya sendiri baru mendengar nama danau ini saat kunjungan saya yang ke-dua ke Ternate sekitar 3 tahun lalu. Dibekap rasa penasaran yang besar, saya sempatkan ke danau ini di suatu siang. Penasaran, karena banyak legenda yang melatarbelakanginya.

Konon, di dasar Danau Tolire ini terdapat harta karun Kesultanan Ternate saat Portugis menjajah pada abad ke-15. Mereka berpikir, daripada hartanya jatuh ke tangan penjajah, lebih baik diceburkan ke dasar danau. Meskipun cerita ini begitu melegenda, beluam ada satu orang pun yang berniat mencari tahu kebenarannya dengan menyelam ke dasar danau tersebut. Selain memang kedalaman danaunya tidak diketahui sampai sekarang, penduduk juga takut dengan siluman buaya putih yang kabarnya, menghuni danau tersebut. Jangankan mengambil harta karun, menangkap ikan pun penduduk setempat tidak berani.

Baca Juga
Danau Tolire via blogger
Danau Tolire via blogger

Ada pula legenda yang mengisahkan bahwa Danau Tolire dulunya adalah sebuah desa yang makmur dan sejahtera. Di desa tersebut terdapat seorang ayah yang menodai anaknya sendiri. Hal tersebut mengundang murka Tuhan. Desa tersebut kemudian dikutuk sehingga tanah tempat mereka berpijak anjlok dan menjadi danau. Entahlah..

Bagi saya, yang terpenting adalah saya berkesempatan mengunjunginya. Unik...danau ini berlatang belakang Gunung Gamalama yang megah, dan di depannya..terhampar laut biru luas...dengan pulau-pulau dan gunung yang nampak samar di kejauhan.

Karena letaknya yang berada di atas bukit, danau ini seperti sebuah kawah yang dikelilingi tebing curam dan rimbunnya pepohonan. Kalau kita melihat ke bawah, maka tampaknya permukaan danau begitu jauh. Setidaknya jarak dari tebing sekitar dua ratus meter. Permukaannya yang kehijauan sangat tenang, hanya sekali-sekali beriak karena embusan angin.  Saya mencoba melemparkan batu (yang dijual oleh anak-anak setempat) ke arah danau...dan saya tak mendengar bunyi air yang terkena lemparan batu. Hmm...aneh juga.

Menuju danau ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Karena hanya ada satu jalur darat untuk bisa sampai ke kawasan Tolire. Dari pelabuhan Dufa Dufa yang sibuk, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan roda empat sekitar 15 menit. Kita akan melewati jalanan berkelok yang diapit perbukitan dan tubir pantai Ternate. Tepat di lereng gunung api tertinggi di Maluku Utara, Gunung Gamalama, Tolire tampak menyerupai sebuah loyang raksasa. Warga setempat menyebutnya Tolire Besar. Asal muasal nama ini karena sekitar 200 meter dari Tolire Besar terdapat danau serupa yang ukurannya lebih kecil dan disebut Tolire Kecil. Berbeda dengan Tolire besar yang berair tawar, Tolire Kecil yang hanya berjarak kurang 50 meter dari pantai berair payau.

Dari tepian danau, puncak Gamalama membusung angkuh namun penuh pesona. Membalikkan badan, terlihat jejeran pohon kelapa, an reruntuhan benteng-benteng saksi bisu perang memerdekakan Ternate dari penjajah portugis.  Menuju ke arah danau,  kita akan melihat deretan nisan pejuang Ternate yang gugur saat mengusir penjajah Portugis. Nisan-nisan itu terbuat dari batu pegunungan yang masih tampak terawat. Kita berhutang banyak pada ternate.

sumber foto sampul: andabelumtahu.wordpress.com

editor yf/gnfi 14-04-2016

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas