Lupa Sandi?

Mengapa Masjid-masjid Tua di Minang Selalu Ada Kolamnya?

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Mengapa Masjid-masjid Tua di Minang Selalu Ada Kolamnya?
By Akhyari Hananto

Pagi pagi murai bakicau Tasintak lalok bagai diimbau Ambiak aia ka laman surau Itu karajo gadih Minangkabau

(Syair minang yang disampaikan kembali oleh Datuk Rinof Burhan) Mengunjungi Minangkabau, adalah mengunjungi saksi sejarah panjang kawasan dengan budaya islam yang begitu mengakar, yang telah menjadi darah daging dan way of life bagi masyarakatnya. Kearifan adat dan budaya Minangkabau yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman tersebut telah menjadi ciri khas negeri ini. Maka salah satu falsafah yang dikenal dari masyarakat Minangkabau adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ mangato, Adat mamakaiFalsafah ini seolah telah mengukuhkan eksistensi Islam dalam kehidupan sosial bermasyarakatnya, dan menjadi hal yang tak terpisahkan dalam keseharian orang Minang.
12193762_10154345893977729_1650607102397394041_n Masjid Asasi Padang Panjang. Masjid tua saksi sejarah

Rumah-rumah tua yang dijaga tak berubah hingga masa kini, dan tak ketinggalan masjid-masjid dan surau tua yang mampu mengarungi zaman, menjadi pemandangan umum dan menjadi ciri khas yang sangat menarik di Minangkabau.  Masjid-masjid dan surau ini begitu dijaga oleh masyarakat setempat untuk sebisa mungkin tidak berubah bentuk. Kalau kita mengenal surau pada umumnya adalah sebagai tempat beribadah (sholat) semata, ternyata bagi masyarakat Minangkabau surau tak hanya sebagai tempat ibadah saja. Namun Surau waktu dulunya telah menjadi tempat tinggal bagi anak laki-laki yang mulai beranjak remaja. Di suraulah dulunya anak laki-laki yang mulai menginjak masa remajanya lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari. Di surau jugalah mereka ditempa dan dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang siap menanggung beban dan amanah di kemudian harinya.
12189542_10154345893917729_2394945119260590732_n Detail indah masjid Asasi Padang panjang

Okay, mungkin kita akan membahas lebih dalam mengenai hal tersebut di tulisan yang lain. Selama menjelajahi ranah Minang beberapa waktu lalu, saya mencermati betapa masjid-masjid dan surau-surau tua di sana selalu mempunyai...kolam. Sepanjang jalan dari Solok, Sawahlunto, Batusangkar, Padang Panjang, Bukittinggi, saya menemukan hal itu..Surau atau masjid dengan kolam luas di sampingnya. Rupanya kolam-kolam tersebut memang dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid di masa lalu.
Kolam di samping Masjid Asasi Padang Panjang. Sentra Aktifitas Masyarakat Kolam di samping Masjid Asasi Padang Panjang. Sentra Aktifitas Masyarakat

Menurut seorang pengamat sosial dan budaya Minang, Datuk Rinof Burhan, dulunya kawasan Masjid juga tempat kegiatan mandi, mencuci dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Menyesuaikan letak kolam, maka agar air mengalir cukup deras untuk berwudhu maupun untuk pancuran untuk mandi, maka tempat wudhu dan tempat mandi terletak berada menjorok ke bawah permukaan tanah.
Tempat wudhu di "bawah tanah" Tempat wudhu di "bawah tanah"

Salah satu masjid yang saya kunjungi adalah masjid Asasi di Sigando, Padang Panjang. Berdiri di antara permukiman penduduk dan pada ketinggian 600 meter, masjid ini didirikan pada tahun 1775, dan merupakan masjid tertua di Padang Panjang, dan salah satu yang tertua dan masih aktif di Sumatera Barat.  Masjid kayu ini begitu indah, dengan lantai yang juga terbuat dari kayu. Dan...kolam pun terdapat tak jauh dari masjid ini, dan dibuatkan tempat wudhu yang terpisah dari bangunan masjid. Untuk mengambil wudhu, saya harus turun melalui tangga ke bawah tanah, dan air wudhu dialirkan ke bawah dari kolam tersebut. Sangat unik dan khas. Masyarakat setempatpun hingga kini tetap memanfaatkan air dari kolam tua tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah kekhasan Minangkabau, surau adalah sentra dari berbagai aktifitas sosial maupun penghidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai tempat ibadah kepada Yang di Atas, namun juga bersosialisasi secara horizontal antar anggota masyarakat. Tak hanya masjidnya, namun juga...kolamnya. Dan di surau lah ...para cerdik cendikia para pemikir dan pendiri bangsa dari Ranah Minang ditempa .

Pagi murai berkicau Terbangun tidur bagaikan dipanggil Ambil air ke halaman surau Itulah kerja gadis Minangkabau

 

Pilih BanggaBangga84%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau5%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie