Lupa Sandi?

Ini Nih Para Pemuda Kreatif Indonesia dibawah Umur 28 Tahun (Part II-habis)

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Ini Nih Para Pemuda Kreatif Indonesia dibawah Umur 28 Tahun (Part II-habis)
Ini Nih Para Pemuda Kreatif Indonesia dibawah Umur 28 Tahun (Part II-habis)

Kreatif sampai mati. Mungkin itu prinsip dari para pemuda-pemuda Indonesia yang terdaftar di jajaran pemuda kreatif Indonesia dibawah umur 28 tahun ini. Sebagaimana dirilis Kreavi.com dan Ziliun.com mereka adalah pemuda-pemuda yang berperan dalam dunia kreatif di Indonesia dengan dengan berbagai macam bidang keahlian. Berikut adalah lanjutan dari daftar nama anak-anak bangsa yang bertalenta dalam usia muda tersebut. Pemuda 28

Gilang Purnama

Dirinya mengaku tertarik sejak kecil pada hal yang berhubungan dengan lettering dan typography, Gilang Purnama kini dikenal sebagai typographer Indonesia yang karyanya telah dipakai di negara lain.

Di tahun 2006, saat distro sedang booming di Bandung, Gilang bekerja dari satu clothing company ke clothing companyl ain. Hingga kemudian di awal 2008 ia mulai fokus pada typography. Salah satu font buatannya, Bandung Hardcore, sempat menjadi salah satu font favorit di salah satu website penyedia rupa huruf, dafont.com. Menurut Gilang, saat ini masih sedikit orang Indonesia yang menggeluti bidang seni typograhy, padahal nilai peluangnya terbilang besar.

Baca Juga

Gladys Angelina

Perempuan lulusan Universitas Pelita Harapan ini merupakan seorang desainer produk dan interior. Di tahun 2011, ia mendirikan firma konsultan dan workshop di bawah label GA, yang merupakan singkatan dari namanya.

Selain memberikan konsultasi dan melayani pembuatan furnitur dan interior customized, melalui GA, Gladys juga mengembangkan berbagai produk ritel seperti table lamp, chandelier, kursi, meja, dan furnitur lainnya. Gaya produknya banyak dipengaruhi oleh desain beraliran Scandinavian.

Keenan Pearce

Keenan Leonard Pearce, atau lebih dikenal dengan nama Keenan Pearce adalah salah satu ikon kreatif generasi muda Indonesia saat ini. Pria lulusan Manajemen Universitas Pelita Harapan (UPH) ini memulai Jakarta Euphoria Project di tahun 2013.

Bersama temannya, Aristyo Kamil, Keenan berusaha membuat suatu wadah kreatif berupa event berkonsep baru untuk perkembangan lifestyle generasi muda, yaitu perpaduan antara fashion dan art. Di tahun yang sama, Keenan bersama dengan Ernanda Putra mendirikan Makna Creative Studio.

Mariska Adriana

Perempuan kelahiran Jakarta, 9 Maret 1990 ini mendirikan studio desain, tem(u)an, pada Juli 2012 bersama rekannya, Hans. Melalui studionya itu, dirinya ingin membuktikan bahwa profesi kratif, terutama desain produk, juga memiliki potensi di Indonesia.

Mariska yang merupakan lulusan Desain Produk Universitas Pelita Harapan (UPH) ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai desainer terfavorit di ajang Jakarta’s Souvenir Design Award, di mana ia dan timnya merancang kue kembang goyang yang dikemas dengan toples hektogram bergaya oriental.

Marshall Utoyo

Lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB ini merupakan otak kreatif di balik Conclave Coworking Space, salah satu coworking space di Jakarta yang bernuansa New York.

Kecintaannya terhadap desain produk dan furnitur tidak menghentikannya sampai di situ, Marshall kemudian juga mendirikan Fabelio.com, sebuah furniture e-commerce yang ingin merombak pasar furnitur Asia melalui jual beli furnitur berkualitas tinggi dan berdesain indah, tapi di sisi lain tetap memiliki harga yang terjangkau. Marshall juga merupakan co-founder FASA, sebuah award-winning furniture design house.

Mochamad Takdis

Setelah mengaku gagal mewujudkan impiannya untuk menjadi General Manager termuda dari Indonesia, Mochmad Takdis atau akrab disapa Adis membuktikan diri di bidang lain. Hobi jalan-jalan membawanya menjadi seorang travel blogger di situs whateverbackpaker.com.

Whatever Backpacker ini kemudian ia kembangkannya menjadi brand extension lain, mulai dari kafe / food truck bernama Whatever Combi, hingga toko gear bernama Whatever Restore. Tulisan dalam blognya juga pernah dibukukan dalam Koar-koar Backpacker Gembel.

Nidia Noviana

Perempuan yang hobi bercerita ini memiliki mimpi mendidik generasi muda bangsa dalam membangun imajinasi melalui fiksi ilmiah dan semangat kepahlawanan superhero Indonesia.

Bersama temannya, Nawa, ia mendirikan JTOKU di tahun 2005. JTOKU yang merupakan singkatan dari Jogja Tokusatsu (berarti “efek spesial”, diambil dari Bahasa Jepang) ini pada awal berdirinya menciptakan karakter-karakter IP lokal yang kemudian diperkenalkan ke audiens dalam bentuk web series.

Melalui JTOKU Nidia mengembangkan bisnis edutainment dengan mengembangkan SDM lokal daerah. Kini cakupan market JTOKU meluas hingga ke beberapa benua dan juga memiliki lini produk yang lain, seperti IP merchandise service, kostum SFX dan properti film.

Nixia Shaw

Perempuan seperti yang satu ini memang tidak umum dijumpai. Monica Carolina atau yang lebih dikenal di dunia gaming dengan nama Nixia Shaw adalah seorang gamer profesional.

Dirinya mengaku sudah mulai bermain game sejak kecil. Karirnya dimulai ketika mengikuti turnamen Guitar Hero dan Battlefield 4 sejak SMA. Di banyak turnamen, ia menjadi satu-satunya peserta perempuan, sehingga menarik perhatian. Pada tahun 2011, Nixia meluncurkan portal web sendiri yaitu nixiagamer.com.

Prestasinya sebagai pro gamer perempuan pertama di Indonesia membuatnya dapat hidup dari game. Nixia juga membentuk NXA Ladies, tim pro gamer khusus perempuan yang menjuarai berbagai turnamen seperti Counter Strike Ladies Tournament tahun 2012 dan Counter Strike GO di Taiwan.

Peggy Hartanto

Perempuan kelahiran 1988 ini merupakan salah satu lulusan fashion design terbaik dari Raffles College of Design and Commerce di Sydney tahun 2009. Tak lama setelah lulus, ia bekerja di label prestisius Australia, Collette Dinnigan. Saat bekerja di Sydney inilah Peggy terdorong untuk membuat labelnya sendiri–terutama saat diberikan kesempatan mengadakan runway showcase koleksinya di Rosemount Australian Fashion Week 2011 yang menampilkan koleksi non-komersil bertajuk CONSOLATION.

2012 menjadi tahun debut Peggy dengan koleksi UNSEEN yang merebut perhatian industri mode.

Putri Tanjung

Saat sedang mencoba berbisnis event organizer, Putri Tanjung melihat bahwa ada gap di pasar, yaitu belum adanya EO yang benar-benar fokus untuk menginspirasi masyarakat Indonesia dengan kombinasi entertainment dan inspirasi yang tepat.

Insight inilah yang melahirkan Creativepreneur Event Creator, sebuah EO yang sangat nasionalis dan ingin mempromosikan talenta-talenta lokal. Lewat Creativepreneur Event Creator, Putri Tanjung ingin membangun anak bangsa, sekaligus memberikan warna baru di entertainment industry.

Renata Owen

Renata Owen adalah seorang ilustrator yang berbasis di Surabaya. Ia telah menjadi freelancer sejak 2011. Renata Owen telah menangani berbagai proyek ilustrasi, salah satu yang terbilang noteworthy adalah ilustrasi label botol yang dibuat untuk Aqua bertajuk Temukan Indonesiamu.

Selain itu, ia juga menggarap ilustrasi untuk sampul novel Dru and Tale of The Five Kingdoms karangan Clara Ng. Renata juga menggap proyek buku ilustrasi sendiri, berjudul The Nonsense Tail.

Roger Fatah

Berkat kepemimpinan Roger Fatah sebagai Creative Director, AR&Co–perusahaan Indonesia yang berfokus pada teknologi augmented reality–berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah i40 atau Innovation 40. Penghargaan ini diberikan untuk perusahaan yang mampu berprestasi di bidang teknologi pentas global.

Roger Fatah juga mengantarkan AR&Co sebagai Asia’s Technology Company of The Year oleh The European. Aplikasi yang dibuat oleh AR&Co untuk kampanye presidensial Nigeria, bertajuk Next for Nigeria, berhasil mendapatkan terpilih menjadi Best Augmented Reality Campaign oleh Auggie Award 2015.

Sandy Lee

Siapa sih yang tidak tahu tentang National Geographic? Sandy Lee atau lebih akrab dikenal dengan nama @ashiong ini adalah salah satu freelance illustrator di salah satu media nirlaba terbesar tersebut. Pria lulusan DKV ITB ini juga merupakan co-founder dan Art Director di Aruline Studio, sebuah studio game di Bandung.

Sandy pernah menggarap beberapa ilustrasi untuk museum berupa peta dan brosur untuk Museum Geologi Bandung dan Pracimantoro Karst Museum. Selain membuat ilustrasi, Sandy juga kerap bereksperimen dengan seni kertas.

Wregas Bhanuteja

Riri Riza menyebutnya sebagai sutradara yang patut diperhitungkan ke depannya. Wregas Bhanuteja, tercatat sebagai sutradara termuda yang karyanya dikompetisikan dalam ajang Berlinale Shorts 2015. Film pendek berjudul Lembu Sura karyanya menjadi satu di antara 443 film dari 75 negara yang terpilih menjadi nominator.

Uniknya, Wregas yang menempuh studi di Institut Kesenian Jakarta itu mengaku, saat memproduksi Lembu Sura dirinya hanya mengeluarkan biaya 30 ribu rupiah. Dua bulan berselang Berlinale, ia kemudian diundang untuk berpartisipasi di Hongkong International Film Festival.

Sumber: ziliun.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas