Pulau Emas, Mummi Ramses, dan Bandara Kebanggaan Thailand

Pulau Emas, Mummi Ramses, dan Bandara Kebanggaan Thailand

Pulau Emas, Mummi Ramses, dan Bandara Kebanggaan Thailand

by Akhyari Hananto Ketika saya ke Bangkok pertama kali pada 2007, otoritas penerbangan Thailand baru saja membuka bandara baru yang modern, Suvarnabhumi Airport yang letaknya sedikit di luar kota Bangkok.  Bandara besar ini terlihat gemerlapan saat malam dari kejauhan..dan memang sangat keren. Jalan-jalan layang yang tumpang tindih rapi, parkiran yang rapi bahkan terlihat sebagai salah satu titik perhatian, pencahayaan yang bagus, serta manajemen yang baik...membuat saya terpesona pada bandara kebanggan Thailand ini. Tadi malam saya transit di bandara ini...dan sepertinya bertambah makin modern. Namun ada yang sedikit aneh. Di telinga saya, karena kata “Suvarnabhumi” bukanlah bahasa Thailand, karena justru mirip-mirip bahasa Jawa kuno atau mungkin Sansekerta. Saya justru kaget ketika bertemu dengan seorang teman saya yang bekerja di perpustakaan kerajaan Thailand, menurutnya diambil dari sebuah pulau utama di Indonesia, yakni Sumatera. Hah? Ketika saya kejar lagi untuk menggali lebih dalam, dia hanya menjawab bahwa semua orang Thailand juga tahu bahwa Suvarnabhumi adalah Sumatera. Jawaban yang tidak seperti harapan saya.

Bandara kebanggaan Thailand. Suvarnabhumi

Menarik. Mungkin saja karena hubungan dekat kerajaan Siam (Thailand masa lalu), dengan kerajaan Sriwijaya yang menguasai Sumatera dan sebagian Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga abad ke-11 , sehingga Suvarnabhumi dianggap sebagai “aset” bersama. Namun ternyata, istilah Suvarnabhumi mulai disebut-sebut jauh sebelum era Sriwijaya. Dalam berbagai naskah kuno yang ditemukan di India, pulau Sumatera yang kita kenal sekarang ini dulunya disebut dengan nama Sansekerta: “Suwarnadwipa” yang berarti pulau emas atau “Suwarnabhumi”  yang berarti tanah emas. Aha! Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah literatur India sebelum Masehi. Nama-nama sayangnya ini tidak pernah saya temukan dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah saya dulu, pun sejarah nusantara sebelum masehi. Saya pernah membaca bahwa di suatu tempat yang sekarang kita sebut Tapanuli, dulunya terdapat sebuah kota pelabuhan yang sibuk bernama Kota Barus. Kota yang bagi banyak dari kita masih misterius ini menjadi kota perdagangan yang penting di timur pada masa Dinasti ke-18 Kerajaan Mesir (sekitar 1.567 SM- 1.339 SM) , dan diyakini bahwa Barus sudah berdiri sejak 3000 SM. 
Interior bandara yang keren

BARUS barangkali adalah satu-satunya kota di Nusantara yang namanya telah banyak disebut-sebut sejak sebelum masehi oleh literatur-literatur dalam bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, dan China. Kejayaan kota Barus sebagai pelabuhan internasional sejak dulu tercermin dalam sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolemaus, seorang gubernur dari Kerajaan Yunani yang ditempatkan di pos Alexandria, Mesir, pada awal Masehi. Di peta itu disebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang menghasilkan wewangian dari kapur barus. Diceritakan pula, bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari Barousai itu merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk pembalseman mayat (mumi) pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II, jauh sebelum Masehi.

Herodhotus

Dinyatakan oleh Herodotus dalam bagian ”Catatan dan Hikayat Raja-Raja Mesir” bahwa orang Mesir pernah mencapai suatu pulau melalui jalan menuju timur dan dilanjutkan ke tenggara dimana tempatnya terdapat kapur barus dan emas yang melimpah. Lalu dalam sebuah manuskrip Yahudi kuno yang menyebutkan bahwa selain Barus, di dalam Injil Perjanjian Lama disebutkan (semoga saya tidak salah), bahwa Raja Solomon (dalam Islam disebut Raja Sulaiman) mengirimkan kapal-kapal ke Ophir untuk mencari emas dan kayu cendana terbaik untuk membangun kuil-kuil pertamanya. Diceritakan bahwa perjalanan kapal-kapal itu memakan waktu 3 tahun. Cukup masuk akal jika Ophir yang disebut di atas bisa jadi adalah Gunung Ophir atau disebut juga gunung Talamau, sebuah gunung yang terletak di Pasaman, Sumatera Barat, yang letaknya jauh dari pusat kerajaan Sulaiman di ujung barat Timur Tengah (Palestina dan Israel masa sekarang) Benarkah? Wallahu’alam. Karena, orang Malaysia juga meyakini bahwa Gunung Ophir adalah Gunung Ledang, sebuah gunung yang dipercaya menyimpan banyak sejarah, yang terletak di Johor. Tapi diluar pendapat bahwa Ophir adalah gunung di Sumatera atau di Malaysia, yang jelas bahwa keuntungan geografis Nusantara sudah diketahui dan dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai peradaban dunia jauh sebelum masa sekarang. Indonesia sejak dulu dikenal karena kesuburan tanahnya, kekayaan kandungan alamnya, dan orang-orangnya yang pekerja keras. Di luar benar tidaknya temuan-temuan sejarah di atas, saya sangat meyakini bahwa hampir tidak mungkin bahwa Nusantara tidak mengambil banyak berperan dalam perkembangan peradaban-peradaban dunia sejak masa lampau. Ketika saya meninggalkan Thailand setelah hampir sebulan tinggal di negeri indah tersebut, tanpa sadar saya mengucapkan terima kasih pada bandara Suvarnabhumi, karena telah membuat saya menggali dan menemukan sejarah kejayaan si Pulau Emas, sambil membayangkan, kenapa tidak ada bandara di Sumatera diberi nama Suvarnabhumi atau SuvarnaDwipa?

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Taman Nasional ini Wajib dikunjungi Untuk Kamu Para Pecinta Kupu-kupu Sebelummnya

Taman Nasional ini Wajib dikunjungi Untuk Kamu Para Pecinta Kupu-kupu

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler Selanjutnya

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.