Globalisasi memang tidak dapat dihindari seiring dengan kemajuan teknologi. Dampaknya adalah banyak aspek di dunia yang terstandarisasi dan menjadi jamak. Tidak terkecuali dengan bahasa, saat ini dunia sedang di dominasi oleh bahasa Inggris yang digunakan hampir di setiap hal. Bagaimana dengan bahasa pemersatu dari bangsa ini, bahasa Indonesia? Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Prof Mahsun, bahasa Indonesia sejatinya sudah siap untuk bersaing dengan Bahasa Asing. Meskipun jumlah kosa kata bahasa Indonesia lebih rendah dari kosa kata negara lain, namun bahasa Indonesia dianggap memiliki susunan kata dengan imbuhan yang jumlahnya sangat banyak.
Belajar bahasa Indonesia (Foto: youtube.com) Belajar bahasa Indonesia (Foto: youtube.com)

Prof Mahsun mencontohkan kata 'datang'. Jika kata ini ditambahkan imbuhan maka akan bisa menjadi bermacam-macam makna, seperti mendatangi, berdatangan, kedatangan, didatangi, mendatang dan pendatang. Selain itu, bahasa Indonesia juga kaya dengan kata majemuk yang merupakan gabungan kata-kata yang menghasilkan arti baru. Misalnya patah hati, sakit hati dan bisa mencapai lima puluh satu turunan. Menurut Mahsun keragaman ini, menunjukan jika Bahasa Indonesia sangat kuat dan sudah dapat bersaing dengan bahasa internasional. "Bahasa kita sangat kuat untuk bersaing dengan bahasa internasional lainnya, maka sangat disayangkan jika ada generasi muda yang beralih mengunakan bahasa asing dan menggangap bahasanya sendiri kurang modern," kata Mahsun, Jumat (27/11). Melihat persaingan bahasa ini Prof Mahsun mengatakan, perlu adanya perbaharuan pada dunia pendidikan bahasa Indonesia, utamanya di jenjang sekolah. Pendidik jangan hanya menjejali siswa dengan kaidah bahasa Indonesia, tetapi harus dijejali dengan materi -materi kebahasaan yang berubungan dengan peran bahasa dalam menunjukan nasionalisme. "Peran bahasa ini yang tidak kita beri sehingga siswa kita tidak sadar dan paham bahwa bahasa adalah Identitas dan jati diri bangsa," ujar dia. Sementara itu, pengaruh dan fenomena bahasa gaul atau bahasa ABG dikalangan anak muda saat ini tetap dianggap tidak berdampak negatif bila digunakan sesuai tempatnya. Sebab semua bahasa di dunia memiliki varian tersendiri tidak terkecuali bahasa Indonesia, sehingga fenomena kreatifitas bahasa ini dinilai biasa. "Ini terjadi disemua negara, tetapi yang terpenting harus memahami bagaimana ragam dan fungsinya. Ketika situasi resmi kita harus mengunakan bahasa resmi," kata Mahsun. Mahsun menambahkan, permasalahan bangsa dalam penggunaan bahasa saat ini terletak pada kecenderungan untuk mengunakan bahasa asing yang merupakan kekeliruan besar. Akibatnya Bangsa Indonesia akan tercanam menjadi bangsa yang tidak memiliki indentitas diri karena kehilangan bahasa. Sebab bahasa digunakan bukan sekadar untuk berkomunikasi tetapi menunjukan jati diri. Fenomena penggunaan bahasa asing yang masif menunjukan bangsa sedang mengalami kurang percaya diri dengan apa yang dimiliki. Mahsun mencontohkan, negara Jepang dapat dengan cepat bangkit setelah mengalami kehancuran pada 1945. Hal pertama yang mereka lakukan dengan menerjemahkan semua pengetahuan ke dalam bahasa Jepang agar semua masyarakat bisa mendapat pengetahuan. Sedangkan untuk buku asing ataupun terjemahan dilarang masuk dan beredar di Jepang. Dia menambahkan, hal yang sama juga terjadi pada peradaban Islam pada abad ke-9. Pada saat itu semua ilmu pengetahuan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Mahsun menilai, di Indonesia terjadi fenomena yang menempatkan penutur bahasa asing dianggap sebagai orang yang berpengetahuan dan terdidik. "Saya melihat gejala orang Indonesia yang memandang sesuatu yang dari luar lebih tinggi padahal tidak demikian. Hal ini sangat disayangkan," ujarnya. Seharusnya bangsa meniru dan sosok Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto yang selalu berbahasa Indonesia setiap diundang ke negara lain, meski mahir berbagai berbahasa asing seperti bahasa Jerman, Inggris, dan Belanda. Terkait dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan dibuka akhir tahun ini, menurut Mahsun, terjadi kekeliruan pemahaman terkait bahasa. Sebab persaingan MEA sebenarnya tidak mengharuskan kita untuk berbahasa asing. Menurutnya, MEA yang telah di tetapkan dalam piagam kerja sama 20 November 2007 silam seharusnya belajar dari Uni Eropa. Khususnya dari Austria yang ketika di undang untuk menjadi bagian dari Uni Eropa mengajukan persyaratan yakni 23 kosa kata bidang makanan tidak merujuk pada bahasa Jerman harus diakui terlebih dahulu. Mahsun berharap bangsa Indonesia dapat menunjukan Identitas bangsa dan mau berjuang dalam menyikapi MEA. "Saya yakin jika kita memperjuangkan bahasa nasional kita maka banyak bangsa lebih cenderung mau berbahasa Indonesia. Sebab mereka akan dapat berinteraksi dengan lebih banyak daripada belajar bahasa negara Asean lain," pungkasnya. beritasatu.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu