Belajar Cinta dari Pasangan ODHA

Belajar Cinta dari Pasangan ODHA

Belajar Cinta dari Pasangan ODHA

Mungkin bagi sebagian orang hidup dengan terjangkit HIV & Aids adalah akhir dari kehidupan, namun tidak dengan mereka. Hagest dan Samsu Budiman pasangan satu ini telah membuktikan status HIV positif yang dideritanya tidak mengurangi semangat, cinta dan perjuangan dalam menajalani hidup.
Nada untuk asa

Hagest dan suaminya Samsu Budiman sama-sama di vonis terinfeksi HIV sejak tahun 2006, Hages, sang istri bercerita bahwa dirinya terinfeksi HIV dari almarhum suami nya yang pertama yakni mantan pecandu narkoba suntik. Sedangkan Budiman sang suami, mengaku terinfeksi HIV karena semasa muda dulu dia adalah pengguna narkotika suntik jenis putaw dan menggunakan jarum suntik yang tidak steril. Sebelum akhirnya menikah, Hagest dan Budiman sudah pernah menikah dan memiliki anak dari pernikahan mereka yang pertama. Saat mengetahui suaminya terinfeksi HIV, Hagest mengaku sudah siap dan pasrah, Hagest menyadari betul bahwa kemungkinan dirinya tidak terinfeksi itu sangat kecil sekali, tapi Tuhan maha adil, ternyata doa, harapan, usaha dan rasa penasarannya terjawab saat tahu bahwa putra pertamanya tidak tertular HIV, sejak saat itu Hagest memutuskan untuk tetap bertahan hidup demi anak dan ibu nya yang selalu memberikan dukungan yang sangat luar biasa. Lain dengan Hagest, Budiman saat mengetahui memiliki HIV berfikir bahwa sebentar lagi dirinya akan mati, ditambah lagi efek samping di awal terapi Anti Retroviral khususnya gatal gatal pada kulit, sangat menganggu. Namun walaupun begitu ada hal yang menguatkan dirinya yaitu saat mengetahui istri pertamanya tidak tertular HIV dari dirinya, sehingga putrinya yang kini sudah beranjak remaja juga otomatis tidak terinfeksi HIV. Meskipun kini putri serta mantan istrinya sudah tidak bersamanya lagi, komunikasi yang terjalin sangatlah baik, tali silaturahmi juga tetap terjaga. Hagest juga bercerita pernah menghadapi persoalan stigma dan diskriminasi beberapa tahun silam, di dalam keluarganya Hagest sempat dipisahkan alat-alat makan dan peralatan yang lain. Keluarga yang saat itu belum memahami informasi, akhirnya mendapatkan penjelasan dari Hagest, dengan cara membaca buku informasi yang dimilikinya. “Alhamdulillah setelah mereka membacanya tidak ada lagi diskriminasi yang saya terima.” ungkap Hagest. Budiman juga bercerita bahwa dia sangat menjaga jangan sampai masyarakat disekitar dan pergaulan sosial nya mengetahuinya status HIV yang dimilikinya, karena dirinya sangat menjaga nama baik keluarga besar yang notabene sesepuh dan tokoh masyarakat. Hingga akhirnya kini Budiman dan Hagest memutuskan untuk membuka status HIV kepada masyarakat dan ternyata tanggapan dari masyarakat dan lingkungan pergaulannya sangat baik, mereka menanggapinya dengan bijak serta memberikan support dan semangat. Dibalik perjuangan keduanya menghadapi kehidupan, Tuhan akhirnya mempertemukan Hagest dan Budiman. “Yang membuat saya jatuh cinta pada suami saya adalah ketika saya melihat perjuangan cintanya kepada saya, meskipun sudah beberapa kali dulu dia saya kecewakan. Dan saya melihat ketulusan dan tanggungjawab itu ada di dalam dirinya untuk putra saya, karena jujur saja saya mencari sosok ayah untuk anak saya, bukan suami untuk saya, karna bagi saya jika dia bisa menjadi ayah yg baik untuk anak saya maka otomatis dia juga bisa menjadi suami yang baik untuk saya, tapi jika dia hanya bisa menjadi seorang suami yg baik untuk saya belum tentu dia bisa menjadi sosok ayah yg baik untuk putra saya. Dan bagi saya itu percuma… Perjuangan saya hidup untuk putra saya akan sia-sia belaka, karna saya tidak bisa membahagiakan putra saya… Selain itu ternyata kita mempunyai visi dan misi yg sama dalam membina sebuah rumah tangga”. papar Hagest. Budiman pun mengungkapkan “Banyak cita-cita dalam berumah tangga yang belum terlaksana dalam hidup, persamaan status kesehatan dan belajar dari kegagalan rumah tangga yang terdahulu, sekarang ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah & warrahmah serta ingin menambah lagi keturunan”. Pasangan yang sejak pacaran sama-sama menyukai lagu Spirit Carries On dari grup band Dream Theater ini berpesan kepada teman ODHA lainnya. Bahwa walaupun hidup dengan HIV, jangan pernah takut untuk bermimpi, dan mewujudkannya. Hagest juga berpesan tidak ada yang mustahil selama kita percaya dengan kekuatan do’a kita kepada Tuhan. Untuk tetap bertahan hidup kita harus memiliki alasan untuk kuat, karna itu adalah awal sebuah semangat kebangkitan diri kita, dan jangan pernah mendiskriminasi diri sendiri, karna itulah yg membuat kita semakin terpuruk dan cepat mati. Disadur dari : http://www.odhaberhaksehat.org/

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

"Lost in Laos" Sebelummnya

"Lost in Laos"

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu Selanjutnya

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu

Asrari Puadi
@asraripuadi

Asrari Puadi

http://www.asraripuadi.net

Mamut Menteng Ureh Utusku.-- Anak Kalteng yang Sedang Ikut Nyantri di Pasca UGM

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.