Lupa Sandi?

Gelombang Intelektual Ranah Minang

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Gelombang Intelektual Ranah Minang
Akhyari Hananto Dalam perjalanan sejarah, masyarakat Minangkabau mempunyai peran yang sangat penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Sederet intelektual yang berasal dari rahim Minang berkontribusi besar dalam transformasi menuju Indonesia merdeka. Sebut saja seperti Hatta, Sjahrir, Tan  Malaka, Agus Salim, M Yamin, Syafruddin Prawiranegara, dan tentu masih banyak lagi. Pun pasca kemerdekaan, tak terhitung tokoh-tokoh yang berkontribusi besar dalam membangun dan membesarkan Indonesia. Apa yang membuat para cerdik cendikia, para tokoh bangsa, lahir dari tanah Minangkabau? Saya sudah beberapa kali ke Minangkabau, dan saya tak pernah berhenti terpukau karenanya. Salah satunya karena betapa besarnya gelombang intelektualisme di sana, setidaknya di masa lalu. Menurut saya, kombinasi budaya minang, sosial masyarakatnya, sekaligus keteguhan masyarakat Minang menjalankan perintah agamanya, berkontribusi besar mengapa cerdik pandai tumbuh subur. Dan mungkin, Koto Gadang (sebuah desa di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat) adalah salah satu yang patut kita pelajari. Sepintas, Koto Gadang tak jauh beda dengan desa lain di Ranah Minang. Rumah Gadang yang megah di gerbang masuk desa seakan menunjukkan eksistensi yang kuat sebuah nagari atau desa dengan ciri khas Minang yang kental. Belum lagi dari sudut alamnya yang menggambarkan kesan romantis sebuah desa, seperti sering digambarkan dalam cerita-cerita dan syair Minang yang kental akan integrasi budaya dan alam. Daerah perbukitan yang hijau dan sejuk dengan hamparan sawah menjadi pembatas dengan nagari tetangganya.
Rumah adat Raja Mengkulu di Koto Gadang (sekitar tahun 1870)

Boleh dibilang, Koto Gadang memang menjadi gambaran sempurna sebuah desa yang indah di Sumatra Barat. Tak cuma itu, Koto Gadang juga sebuah desa bersejarah yang tak bisa dilepaskan dari sejarah orang penting Indonesia. Dari nagari di lereng Gunung Singgalang inilah lahir sejumlah tokoh nasional dan internasional. Mereka turut berperan besar memberi warna sejarah kebangkitan sebuah bangsa. Dari nagari ini pula lahir Perdana Menteri pertama Sutan Syahrir. Belum lagi, politisi legendaris yang juga Menteri Luar Negeri pertama H. Agus Salim. Tokoh pejuang hak-hak wanita yang juga wartawan wanita pertama di republik ini, Rohana Kudus, juga lahir di sana. Beberapa orang juga pernah menjadi menteri di pemerintahan-pemerintahan Indonesia sejak kemerdekaan. Puluhan di antaranya menjadi pejabat tinggi negara di berbagai bidang. Prof. Dr. Emil Salim adalah salah satunya.  Tercatat sembilan putra Koto Gadang pernah menjadi Duta Besar RI di berbagai belahan dunia.
Rohanna Kudus, jurnalis wanita pertama Indonesia

Koto Gadang juga melahirkan 10 jenderal dalam ketentaraan nasional. Tak terhitung lagi mereka yang menjadi pejabat lokal, pemimpin di berbagai perusahaan terkenal, intelektual, dan seniman. Sebut saja, pelukis Usman Effendi yang turut mendirikan Taman Ismail Marzuki. Puluhan arsitek, ahli hukum, dokter, ahli-ahli kemasyarakatan juga lahir dari desa yang terletak di ujung jalan dari arah Kabupaten Agam ini. Nagari seluas 268 hektare yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, ini memiliki tradisi intelektualitas yang kuat. Sangat tepat jika kawasan ini disebut sebagai gudang kaum intelektual. Bersekolah dan mengenal huruf telah mencuat sejak awal abad 20. Pendidikan menjadi elemen sangat penting bagi masyarakat Koto Gadang sejak masa lalu. Di sebuah gedung yang kini telah dirombak menjadi sekolah madrasah, Agus Salim dan Sutan Syahrir menempuh pendidikan. Awalnya, sejarah pendidikan di Koto Gadang mendapat cibiran dari para tokoh pejuang anti-Belanda di Tanah Minang. Maklum, suasana di Ranah Minang pada awal abad 20 masih diliputi dengan kebencian masyarakat terhadap Belanda akibat kekalahan dalam Perang Padri. Dalam suasana seperti itu sikap kooperatif keluarga para tokoh dengan pemerintah Belanda mengundang kontroversi. Namun, ternyata sikap ramah itu tak lain sebuah strategi untuk berjuang dengan cara lain. Kedekatan para tokoh masyarakat Koto Gadang dengan Belanda membuat pemerintah kolonial akhirnya memberi izin pendirian Kinder Julies Vereneging, sebuah sekolah persiapan untuk memasuki sekolah Belanda. Kurikulum utama sekolah itu yakni mengajarkan bahasa Belanda. Tak lama kemudian sekolah persiapan ini menjadi sebuah sekolah resmi bernama Studenfond, sekolah yang menjadi cikal bakal lahirnya para intelektual dari Koto Gadang. Sejak Studenfond itulah, intelektualitas para pemuda setempat pun berkembang hingga dapat menempuh pendidikan di Belanda, atau di sekolah sekolah tinggi di Jawa.
Yayasan Amay Setia yang masih tegak berdiri

Sejarah pendidikan di Koto Gadang bukan sekadar dominasi kaum lelaki. Yayasan Amay Setia, misalnya, menjadi bukti sejarah kaum ibu turut berjuang untuk kemajuan desa. Yayasan ini didirikan 1911 oleh Rohana Kudus yang juga kakak kandung Sutan Syahrir. Melalui kepemimpinannya, para ibu berkumpul untuk mengembangkan berbagai kerajinan di desa agar bisa dipasarkan ke daerah luar. Mulai dari tenun sulam dan bordir serta kerajinan perak yang hingga kini masih dikenal luas sebagai produk-produk kerajinan berkualitas tinggi di seantero Ranah Minang. Sejarah gemilang di masa silam membuat Koto Gadang sempat menjadi sebuah desa yang sangat populer di masa lalu, meski kini  sisa-sisa kegemilangan itu tak lagi terlihat dengan jelas.  seakan tinggal kenangan. Saya sempat bertemu dengan seorang penduduk yang telah berpuluh tahun tinggal di desa tersebut, beliau mengatakan bahwa banyak orang-orang pandai yang merantau ke luar untuk mencari penghidupan. Suasana desa memang terasa sepi dan lengang. Rumah-rumah tua yang besar dan megah, saksi bisu kegemilangan masa lalu, terlihat tak berpenghuni. Namun sejarah takkan bisa dihapuskan. Koto Gadang, dan Minangkabau adalah tanah para 'pendiri' bangsa ini. Tentu kita berharap, sejarah ini menjadi bahan pelajaran, kebanggaan, dan jalan setapak menuju kecermelangan di masa depan. Semoga, dari Ranah Minang, kelak muncul tokoh-tokoh baru sekelas Moh Hatta, Sutan Sjahrir, Moh Yamin, Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, dan tokoh-tokoh besar lain. Amien (Wikipedia | Liputan6.com)

Pilih BanggaBangga70%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau10%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata