Pria yang sudah menjelajahi berbagai tempat di dunia termasuk Asia serta mencicipi kekayaan kulinernya, Chef Will Meyrick justru jatuh cinta pada kuliner khas Pulau Dewata.

"Saya merasakan makanan Bali itu asli dan alami sekali, kebanyakan hanya bakar dan rebus. Memang ada pengaruh dari China juga yaitu saat menggoreng," kata chef yang memiliki sertifikat Hospitality Asia Platinum Award Master Chef for Asian Cuisine dari 2012 hingga 2014 ini, sebagaimana dikutip dari CNNIndonesia.com.

Will mengaku jatuh cinta dengan makanan Indonesia dikarenakan pada kuliner Bali khususnya, berkembang berdasarkan tradisi keluarga. Resep makanan tersebut diturunkan dari generasi ke generasi.

"Tapi yang saya suka dari makanan Indonesia itu ia akan menjadi turun temurun dan terus berkembang. Nenek Anda memasak untuk kakek Anda, dan ketika Anda masuk angin maka ia akan mencari dedaunan di hutan. Itulah Bali di tengah segala kemoderenan saat ini, itu sangat khas," katanya.

Will Meyrick tiba di Indonesia pertama kali sesaat setelah terjadi tsunami dahsyat di Aceh pada 2004. Ketika itu, chef yang pertama kali menelusuri kekayaan kuliner Asia dari Thailand pada usia 22 tahun tersebut, merasakan sesuatu yang berbeda dari Pulau Dewata.

Sebelumnya, Meyrick yang memiliki percampuran budaya antara Skotlandia dan Australia ini telah menghabiskan bertahun-tahun karirnya untuk mendalami street food cooking di tempat asalnya di daerah pedalaman. Ia pun rela 'blusukan' ke berbagai tempat untuk mempelajari berbagai makanan daerah.

Chef yang juga pernah malang melintang dari London hingga Sydney ini akhirnya mengikuti kata hatinya untuk mendalami makanan Asia dengan mengunjungi berbagai kedai dan warung di berbagai kota di Asia. Ia pun sempat membuat dokumentasi dari pengalamannya tersebut dengan menulis sebuah buku berjudul 'Sarong Inspirations'.

"Bagi saya, ada sesuatu yang mistis tentang Bali. Saya di sana sudah 14 tahun dan banyak hal yang mengejutkan terjadi. Seperti ada gravitasi spiritual yang menarik saya," kata Meyrick. Pria yang mengaku tidak bisa hidup tanpa makan cabai ini terkesan dengan perilaku orang Indonesia secara umum yang sangat mudah bergaul dan lebih peduli satu sama lain.

"Dan orang Bali sangat ramah seperti orang Indonesia pada umumnya. Ketika bertemu orang Indonesia, mereka akan banyak bercakap hingga ramai dibandingkan orang Australia yang cuek bebek. Walaupun tidak berada di Indonesia, misal saya bertemu orang Indonesia di Hong Kong, mereka pun sama ramah dan ramainya. Saya senang sekali situasi seperti itu."

Khusus dalam hal makanan, Meyrick menyebutkan bahwa kebudayaan yang ada di Bali turut membuat makanan khas Tanah Seribu Pura itu menjadi khas. Chef pemilik Restoran Sarong Bali, sebuah restoran yang menempatkan Indonesia untuk pertama kali dalam daftar Panduan Restoran Miele ini berpendapat bahwa Indonesia dengan masing-masing daerahnya memiliki keunikan dan budayanya sendiri, membuat variasi kuliner Indonesia menjadi begitu beragam.

Will Meyrick (via David Burden)
Will Meyrick (via David Burden)

"Indonesia memiliki beragam agama dan budaya. Jangan hanya melihat makanannya saja, tetapi juga budayanya. Di dalam makanan, dapat terlihat budayanya. Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam mengenal kuliner, yaitu budaya, agama, masyarakatnya, baru kemudian orang akan paham kekayaan kuliner di tempat tersebut," ungkap pria yang mahir berbahasa Indonesia ini.

Meski mencintai kuliner Bali dan budayanya, ia memilih seorang mojang Sunda sebagai pendamping hidup. Kini ia membagi kecintaan terhadap Bali dengan mendirikan restoran di Bali dan Jakarta yang mengangkat berbagai kuliner Asia dengan kemampuan memasak ala chef dunia. Tentu ia tak lupa memasukkan menu Bali di menu restorannya itu.

"Siapa yang tidak suka dengan Bali? Semua suka sinar matahari, bentangan alamnya, dan budayanya yang kaya," kata penyuka ayam betutu itu, sembari tersenyum.

CNN Indonesia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu