Di Indonesia, listrik yang menyala 24 jam sehari bisa dibilang adalah kemewahan milik kita yang tinggal di kota besar di Jawa saja. Secara nasional, masih ada 16% wilayah di Indonesia yang masih belum mendapatkan jatah listrik sampai tahun ini. Perbedaan itu bakal makin kelihatan kalau dilihat di Indonesia bagian timur. Di Nusa Tenggara Timur, baru 43% yang kebagian dan di Papua baru 59%. image Proses pemerataan akses listrik memang tidak seperti komoditas lain macam beras atau bensin, dua barang ini bisa disimpan dalam karung atau drum terus diangkut pakai kapal sampai Sorong atau Kupang. Solusinya hanyalah bikin pembangkit listrik di sudut-sudut Indonesia yang belum terjangkau itu. Sayangnya, selalu terbentur kendala biaya yang besar kalau pemerintah mau bikin pembangkit listrik di tempat-tempat terjauh. Melihat kondisi ini, Tri Mumpuni dan Iskandar Kuntoadji dari Inkubasi Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) punya solusi membuat pembangkit listrik skala mikro di desa terpencil yang sumber tenaganya dari sumber air setempat. Mereka mengajak masyarakat untuk ikut terlibat membangun dan mengelola pembangkit listrik mikro di desa masing-masing. Mereka nggak dapat listrik gratis, tetapi mereka harus membayar ke koperasi bentukan mereka sendiri. Masyarakat memakai uang yang terkumpul untuk pemeliharaan pembangkit listrik dan kegiatan desa. Kerennya lagi, masyarakat jadi aktif menjaga hutan karena ingin sumber tenaga listrik mereka tetap lestari. Hingga saat ini, IBEKA sudah bekerja membangun pembangkit listrik mikro bersama komunitas di lebih dari 60 desa di Indonesia. Pencapaian ini membuat Tri Mumpuni dianugerahi sejumlah penghargaan seperti Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature dan Magsaysay Award tahun 2011. Presiden AS Barack Obama, dalam pidatonya di Presidential Summit on Entrepreneurship 2011, secara khusus mengapresiasi pencapaian Tri Mumpuni sebagai wirausahawan sosial yang menginspirasi.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu