Pemuda asal Medan, Petinggi di Situs Pekerja Lepas di Australia

Pemuda asal Medan, Petinggi di Situs Pekerja Lepas di Australia
info gambar utama
Talenta-talenta muda Indonesia mulai bermunculan dibidang teknologi komputer dan digital internasional. Beberapa telah menjadi eksekutif penting di perusahaan internet besar di Amerika Serikat, beberapa lainnya berada di Australia. Salah satunya adalah Willix Halim. Willix adalah pemuda asal Medan kelahiran 27 tahun lalu, yang saat ini menjadi petinggi di perusahaan internet yang berbasis di Sydney Australia, Freelancer.com. Sebuah perusahaan yang menjadi 'pasar' bertemunya para pekerja lepas dari seluruh dunia dengan para kliennya. Perusahaan ini telah menjadi penyambung hidup bagi jutaan pekerja lepas yang dinaunginya. Willix yang sudah pindah ke Australia sejak usia 16 tahun tersebut melanjutkan kuliah di bidang robotika Universitas Melbourne. Kemudian Sekitar 4 tahun lalu dirinya bergabung dengan freelancer.com kala perusahaan itu masih berusia 2 tahun. "Founder dan CEO-nya Matt (Matta Barrie), saya gabung setelah itu. Awalnya kecil, di Kingstreet Wolfe about 20 people, 4 tahun lalu pas aku joint tumbuh terus, tumbuh terus," ujar Willix seperti dikutip dari radioaustralia.net.au
Willix Halim di kantornya. (Foto: Hany Koesumawardani / radioaustralia.net.au) Willix Halim di kantornya. (Foto: Hany Koesumawardani / radioaustralia.net.au)

Saat ini pria yang juga lulusan Standford University Graduate School of Business ini telah mencapai posisi yang tinggi sejak pertemuannya dengan Matt di suatu konferensi. "Sekarang posisi saya Vice President of Growth, tujuannya supaya tanggung jawab untuk pertumbuhan freelancer." Situs freelancer.com adalah situs yang mempertemukan perusahaan dan profesional dengan proyek-proyek lepas alias freelance. Di situs ini, perusahaan memposting proyek lepas beserta plafon nilai proyeknya. Nah profesional lepas kemudian menyodorkan proposal portofolio beserta nilai proyeknya. Seperti lelang, perusahaan kemudian memilih profesional lepas terbaik dari portofolio dan nilai proyek yang ditawarkan. "Freelancer, job kita matchmaking employer dan freelancer. Employer posting job. Kita sebagai platform supaya employer sama freelancer bisa kerjakan project dengan murah," imbuh Willix. Sampai saat ini, menurut data yang diungkapkan Willix, dalam satu bulan situsnya telah memuat 200 ribu proyek yang akan diperebutkan para freelancer. Nilai proyek-proyek tersebut per tahun bisa mencapai AU$ 1 juta. "Freelancer project-nya banyak. Nggak bisa pilih negara supaya bisa lebih adil dan fair," papar dia. Pasar freelancer sendiri, baik pemberi proyek maupun pekerja lepas, per September 2015, Willix menjelaskan telah terdaftar sekitar 16 juta orang. Di Indonesia sendiri berjumlah 1 juta orang. "User Indonesia, 1 juta, target naik. Sebelumnya, 2 tahun lalu, 60 ribu doang. Sekarang 1 juta, banyak," jelasnya. Untuk tiap nilai project yang didapatkan oleh freelancer, pihak freelancer.com mengenakan komisi 3-10%. Makin seorang freelancer loyal, komisi yang dibayarkan makin rendah. Kini, perusahaan yang didirikan sejak 2009 lalu dan bermula dengan 20 karyawan tersebut telah memberdayakan 470 karyawan. Masing-masing 100 karyawan di Indonesia, 200 karyawan di Filipina dan sisanya tersebar di Kanada dan Inggris. "Rencananya kami mau buka kantor dan melakukan engineering something there (di negara-negara tersebut-red). Mungkin kami mencari sekitar 100 karyawan lagi tahun depan," imbuhnya. Di kantor pusat freelancer.com yang terletak di Sydney, NSW, Australia ini, juga terdapat beberapa karyawan Indonesia. "Karyawan Indonesia dulu 5 orang, sekarang cuma tinggal 2 orang, di mana saya mengangkat mereka dari Melbourne University. Kebanyakan IT," ungkapnya. Selain itu, freelancer.com sudah menjadi perusahaan terbuka dan melantai di bursa saham sejak dua tahun lalu. Sekarang, valuasinya telah mencapai nilai Rp 7 triliun dari nilai awal perusahaan yang sejak pendiriannya hanya bernilai Rp 30 miliar. freelancer Sebelum go public 2 tahun lalu, Willix mengatakan banyak perusahaan yang menyatakan minat untuk mengakuisisi freelancer.com. Namun kini, freelancer.com juga telah mengakuisisi beberapa perusahaan. "Kita banyak (yang berminat mengakuisisi) sebelum go public. recruit.co mau akuisisi kita AU$500 juta (Rp5 triliun), ada IB yang approach kita. On the mid term kita juga banyak akuisisi company, sekitar 11-12 perusahaan start up yang masih kecil," jelasnya. Dicecar apakah tidak tergoda dengan tawaran akuisisi dari pihak lain, Willix menjawab, "Kita udah public ya company-nya, kalau mau jual bisa jual langsung. Cuma kita, nunggu yang nge-bid ten times," tuturnya. Ke depan, Willix yang bertanggung jawab atas pertumbuhan freelancer memiliki visi meraih miliaran pengguna dan menjadikan pencarian pekerjaan online sebagai penghasilan utama. "Kami mau mikir supaya kami lebih besar, tujuan visi kita ada 1 billion (miliar) users by the end of 2020. Itu goal kita, mikirnya harus banyak supaya company bertumbuh lebih besar lagi," ungkapnya. Ditanya tentang proyek selanjutnya, Willix mengatakan akan membuat situsnya lebih terjangkau komunitas lokal di tiap negara. "Buat online job itu cash cow kita istilahnya, karena mayoritas pendapatan kita datang dari sana. Inisiatif kita local job di mana hire freelancer lingkungannya, supaya bisa melakukan sesuatu yang local-local job gitu. Ya lebih mirip ke Go-Jek atau Grab Bike," tuturnya. Meski sudah menjadi petinggi perusahaan internet yang telah mengglobal di Sydney dan memiliki status permanent residence di Australia, Willix menginginkan kembali ke Indonesia suatu saat nanti. "Saya masih mau kembali, iyalah saya masih cinta Indonesia," tegasnya mantab.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini