Lupa Sandi?

Perang Khas Manggarai, Penentu Kesuburan Lahan

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Perang Khas Manggarai, Penentu Kesuburan Lahan
Pukulan pertama pada tameng salah seorang prajurit menandakan permainan dimulai. Begitulah tradisi yang dilakukan oleh para pelestari Seni Perang Caci yang khas Manggarai Nusa Tenggara Timur. Tabuh-tabuhan mengiri sejak para wisatawan yang datang ke lokasi penyambutan oleh para tetua adat Manggarai. Sebelum 'perang' dimulai, para pendatang disuguhkan sedikit makanan dan minuman penyambut dan dijelaskan sekilas tentang adat Manggarai. Di luar, tampak para prajurit bersiap-siap dengan senjata dan perisai koret (bambu kecil sepanjang 2 meter diikat menjadi satu) nya masing-masing. Muka yang tertutup kain sappu (kain destar) lengkap dengan semacam topeng pelindung tempurung kepala digunakan.
Prajurit menyabetkan Wadoq yang diarahkan ke Koret (Foto: BagusDR) Prajurit menyabetkan Wadoq yang diarahkan ke Koret (Foto: BagusDR)

'Lawan' di hadapannya mengayun-ayunkan wadoq (pecut) dan bersiap-siap seirama dengan iringan tabuhan gendang dan gong yang dipukul para mama tak jauh dari pintu masuk pekarangan. Giring-giring dan lonceng yang dipasang di pinggangnya mengeluarkan bunyi-bunyian yang terus membuat penonton waspada. Suaranya semakin nyaring seiring dirinya bersiap untuk memecut. Tidak lama kemudian wadoq dipecutkan tepat ke arah perisai lawannya yang sudah bersiap dalam posisi bertahan. Begitu seterusnya bergantian hingga tetabuhan berhenti. Itulah perang caci, penyambutan yang disuguhkan bagi para wisatawan yang datang ke Labuhan Bajo. Meski dalam prosesnya Caci menampilkan fase-fase peperangan secara lengkap seperti perang, perundingan dan perdamaian, pertarungan Caci sejatinya tidak lagi dilakukan untuk peperangan secara murni namun lebih sebagai seni perang yang ditujukan untuk hiburan dan tradisi. Inilah seni beladiri yang dijumpai hampir di seluruh kawasan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Caci berasal dari kata "ca" (satu) dan "ci" (satu) dalam bahasa Manggarai, sehingga arti caci adalah "satu lawan satu". Sebagai atraksi, caci menggabungkan tarian, nyanyian, dan kemampuan teknis khusus dalam menyerang lawan secara artistik. Atraksi ini selalu dimulai dengan penjelasan dari seorang tetua tentang sportivitas, pengorbanan, dan solidaritas yang membangun filosofi caci, kemudian dilanjutkan dengan menyerahkan wadoq ke perwakilan tamu yang ingin melakukan pecutan pertama. Dalam seni ini terdapat dua pihak caci, penyerang dan penantang. Penyerang hanya boleh memukul tubuh lawan di bagian pinggang ke atas, termasuk muka. Itu sebabnya penantang membebat kepalanya hingga menyisakan segaris untuk mata, mencegah luka yang berbahaya. Sebab, menurut kepercayaan kalau sampai kena muka artinya si pemain mendapat sial besar. Bukan hanya sebagai seni beladiri, dahulu caci juga sempat dimainkan sebagai tradisi membuka lahan berpindah. Jika pemain terluka akibat pecut, tandanya tanah yang dipijak subur dan akan memberi panen melimpah. Namun seiring perkembangan zaman, caci dimainkan kapan saja untuk berbagai perayaan, seperti menyambut tamu, pesta panen, pemberkatan rumah baru, hingga perayaan Kemerdekaan RI. Salah satu kampung yang menampilkan caci adalah Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, kira-kira 20 kilometer ke arah timur dari Labuan Bajo. Desa ini berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, berudara sejuk dan pemandangan indah. Panggung pertunjukan cacinya terbilang cukup indah sebab bertepi tebing dengan latar belakang birunya langit dan hijau perbukitan. Terdapat Tiga atribut utama dalam caci, yakni perisai melambangkan ibu, penangkis melambangkan ayah, dan pecut lambang percobaan hidup. Rupayanya, juga terdapat pantangan utama bagi para prajurit caci, yakni semalam sebelum tampil dilarang menyentuh istri. Jika aturan ini dilarang, dipercaya si pemain akan mengalami sial dalam bentuk mendapat luka berat di badan atau malah di muka. Dua bersaudara juga dilarang berpasangan dalam satu permainan caci dengan tujuan mencegah hubungan persaudaraan mereka rusak.
Seorang Prajurit dalam Perang Caci (Foto: BagusDR) Seorang Prajurit dalam Perang Caci (Foto: BagusDR)

Selain di Kampung Cecer, caci ditampilkan juga di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat; Desa Tado, Manggarai Barat; Ruteng, Kabupaten Manggarai; dan di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Penampilan para prajurit caci memang sedap dipandang. Artribut-atribut pakaiannya bahkan memiliki banyak nilai filosofi mulai dari kekuatan untuk diri sendiri hingga penghormatan pada alam. Berikut atribut pemain caci, seni bela diri khas Manggarai: 1. Todah, perisai dari kulit kerbau yang dilingkari rotan, melambangkan ibu. 2. Koret, penangkis dari beberapa bambu kecil sepanjang 2 meter yang diikat jadi satu, melambangkan ayah. 3. Wadoq, pecut dari rotan dan kulit kerbau, lambang percobaan dalam hidup. 4. Panggal, semacam topeng dari kulit kerbau, melambangkan lima dasar kepercayaan orang Manggarai yang tercakup dalam sudut-sudutnya. Lima dasar itu adalah pah (pintu gerbang) yang menandakan tamu diterima dengan baik, rumah sebagai tempat perlindungan, air sebagai sumber kehidupan, compang (altar) sebagai pusat persatuan, dan uma (kebun) sebagai tempat kesejahteraan. 5. Sappu, destar batik Jawa yang dirancang khusus untuk Manggarai. Segiempat putih di pucuk kepala bermakna masih ada di atas kita yang harus dihormati. 6. Tugerapah yang menjuntai di dagu bermakna masih ada di sekitar kita yang harus dijaga, dipelihara, dan dilindungi. Makhluk hidup di dalam maupun di atas tanah punya hak yang sama untuk hidup. 7. Lalong Ndeki, terbuat dari rotan, diselipkan di pinggang belakang,melambangkan kekuatan seorang pemain caci. Sebagai pemain caci dia harus punya keyakinan kalau dia kuat. 8. Pejojong, seperti buntut topi, adalah pusat kesabaran pemain caci. 9. Nggorong, giring-giring yang berbunyi kala pemain menggerakkan kakinya. 10. Kain songke yang mengandung beberapa warna, termasuk tiga warna dasar khas Manggarai: putih lambang keikhlasan dan ketulusan, merah lambang keberanian, dan hitam lambang kerja keras.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara