Lupa Sandi?

Menyeramkan, Di Desa Ini Mayat-mayat Tidak Pernah Dikuburkan

Asrari Puadi
Asrari Puadi
0 Komentar
Menyeramkan, Di Desa Ini Mayat-mayat Tidak Pernah Dikuburkan
GNFI - Aneh dan menyeramkan, itu mungkin yang terpikir ketika tau ternyata ada daerah yang dimana mayat disana tidak dikubur, namun udaranya tetap semerbak mewangi. Inilah keunikan Desa Trunyan, salah satu desa Kabupaten Bangli, Bali. Desa Trunyan punya tradisi yang unik. Alih-alih dimakamkan, atau dibakar layaknya upacara Ngaben ala Bali, jenazah di Desa Trunyan dibiarkan begitu saja di atas tanah. Mayat-mayat ini hanya ditutup ancak saji yang terbuat dari dedaunan. Desa Trunyan 2 Tapi anehnya, tak ada bau bangkai tercium di sini. Padahal tengkorak dan tulang-belulang berserakan di banyak tempat. Tak ada pula aroma bunga kamboja seperti yang umum tumbuh di pemakaman. Penyebabnya adalah Taru Menyan, pohon raksasa asal nama Trunyan. Menurut legenda, Taru Menyan-lah yang wanginya menghipnosis 4 bersaudara dari Keraton Surakarta untuk mengarungi daratan dan lautan hingga tiba di Desa Trunyan. Singkat cerita, 4 bersaudara itu terdiri dari 4 laki-laki dan si bungsu perempuan. Setibanya di Trunyan sang kakak sulung jatuh cinta kepada Dewi penunggu pohon tersebut. Setelah menikah, jadilah Trunyan sebuah kerajaan kecil. Meski sang Dewi penunggu pohon telah menikah, Taru Menyan masih mengeluarkan wangi. Akibat takut diserang dari luar karena semerbak wanginya, sang Raja memerintahkan warga untuk menghapus wangi itu dengan cara meletakkan jenazah begitu saja di atas tanah. Akar Taru Menyan menjulur ke berbagai tempat, salah satunya tempat deretan ancak saji berisi mayat. Di sekitar ancak saji terdapat benda-benda peninggalan mendiang. Ada foto, piring, sapu tangan, baju, perhiasan, dan lain-lain. Tradisi membiarkan jenazah tanpa dikubur ini sudah ada ratusan tahun lamanya. Namun dengan syarat, mayat harus utuh dan meninggal secara normal. Tak ada luka atau penyakit. Layak atau tidaknya seseorang 'dikubur' di Trunyan juga dilihat dari baik atau buruknya perilaku orang tersebut semasa hidup.
( Ancak Saji, Foto : pasekyuri.wordpress.com

Jumlah jenazah yang ditutup ancak saji hanya 11, tak akan bertambah maupun berkurang. Jika sudah penuh, tulang-tulangnya digeser sehingga tengkorak pun berkumpul di bagian ujungnya. Meski menyeramkan, tak sedikit wisatawan yang penasaran dan ingin melihat sendiri Kuburan Trunyan. Mencapai tempat ini juga tergolong gampang. Kawan GNFI bisa menyewa perahu dari Dermaga Kedisan di salah satu sisi Danau Batur, langsung menuju Kuburan Trunyan. Harga per perahunya mulai Rp 50.000-100.000, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit sekali jalan. Perahu ini bisa membawa sampai 5 wisatawan sekali jalan. (*AP)   Source : Detik Travel

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau80%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASRARI PUADI

Mamut Menteng Ureh Utusku. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata