Dalam dunia seni lukis, tentunya kita tak asing dengan Leonardo da Vinci atau pun Picasso. Namun taukah kamu, ternyata diantara seniman legendaris dunia, Indonesia juga memiliki seniman lukis hebat loh!
Siapakah dia??

Sindosoedarsono Soedjojono, atau akrab dipanggil Pak Djon merupakan salah satu pionir seni lukis modern khas Indonesia. Seniman kelahiran 14 Desember 1917 di Kisaran, Sumatera Utara ini menjadi tokoh sekaligus sebagai pendiri komunitas Persagi (persatuan Ahli Gambar indonesia), tepatnya  pada tahun 1937.


Ia lahir dan dibesarkan menjadi seorang maestro lukis modern dari Indonesia. Bakat melukisnya dimulai ketika ia belajar pada pelukis besar R.M Pringadie dan Chioyi Yasaki. Hingga pada puncak kesuksesannya, karya-karya beliau sangat akrab dikehidupan pemerintah. Diantaranya lukisan yang berjudul Mr. UNO and The Golden Princess yang sempat dihadiahkan RI kepada PBB pada tahun 1970. Selain itu juga terdapat lukisan berjudul Pasar Ikan yang diberikan oleh pemerintah DKI Jaya kepada Ratu Elizabeth pda tahun 1973.


‘Bapak seni lukis modern Indonesia’ predikat inilah yang sempat disematkan kepada Pak Djon, selain karena kepiawaiannya melukis, ia juga terbiasa menulis dan memeberikan arahan kepada para  seniaman lukis.  Beberapa karyanya mampu menjadi fenomenal dan terjual dengan harga tinggi, diantaranya ialah lukisan berjudul Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro laku terjual dengan harga Rp. 85,7 milliar pada April 2014 lalu.
 
Idelogi realisme sosial yang telah memberikah ‘Ruh’ pada setiap karyanya, menggambarkan ketertindasan, kesedihan, perjuangan, hingga kemerdekaan yang dialami masyarakat. Tak jarang beliau juga menumpahkan kritikan terhadap para petinggi Negara, seperti  tampak pada kehidupan urban dan pembangunan pada masa orde baru.  Jiwa nasionalismenya juga turut membuat decak kagum kancah asia,  dengan subjek dan warna yang dipilih menjadi ciri khas pelukis legendaris ini.


Selain sebagai Bapak seni lukis modern, beliau juga telah menjadi Kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Eksistensi beliau sebagai seniman seringkali beradu karakter dengan seniman-seniman yang lain, kitikan terhebat yang pernah beliau lontarkan terutama tentang Madzab Mooi Indie, yang  ia anggap hanya menggambarkan keindahan dan kemolekan Indonesia, yang damai, tenang, dan serba enak. Sedangkan menurut beliau, sebuah seni harus mampu mewakili perasaan dan kegelisahan, serta mampu menggambarkan segala keadaan sebagaimana adanya.
 
Perjalanan karir beliau berakhir pada tahun 1985, tepatnya pada tanggal 25 maret di ibu kota Jakarta. Beliau tutup usia dan meninggalkan 14 orang putra-putrinya. Namun uniknya, Beberapa karya beliau masih diminati oleh kalangan seniman, tak jarang lukisan-lukisannya ditampilkan dalam ajang-ajang pameran internasional. Diantaranya : Festival of Indonesia (USA, 1990-1992), Singapore Art Museum (1994), Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993), Center for Strategic and International Sudies  (Jakarta, Indonesia, 1996), Asean Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia 1997-1998).

Sumber: Tempo.com, Jakarta.go.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu