Japan Credit Rating Agency, Ltd (JCR), lembaga pemeringkat kredit asal Jepang memberi nilai BBB- dengan outlook stable terhadap Indonesia.

Hal tersebut memperkuat afirmasi peringkat Indonesia pada level layak investasi seperti yang sebelumnya diberikan oleh Moody's Investors Service.

JRC dalam keterangan resminya menjelaskan, rating BBB- diberikan kepada Indonesia karena keberhasilan pemerintah mempertahankan pertumbuhan ekonomi secara solid sepanjang tahun lalu. Hal tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, defisit fiskal yang terkendali, dan pengelolaan utang pemerintah yang sehat.

“Selain itu kondisi sektor perbankan yang relatif kuat, serta ketahanan terhadap tekanan eksternal membuat Indonesia layak investasi,” ujar Koichi Fujimoto, General Manager of International Rating Department JRC, dikutip Selasa (2/2).

Fujimoto mengatakan, paket kebijakan ekonomi baik dari sisi fiskal dan moneter yang dirilis pemerintah sepanjang 2015 lalu telah berhasil menopang pertumbuhan ekonomi. Padahal sepanjang tahun lalu, ekonomi Indonesia diterpa masalah anjloknya harga komoditas, perlambatan ekonomi China, serta ketidakpastian suku bunga acuan bank sentral Amerika (The Federal Reserves Rate).

“Akan lebih baik bagi pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, memperbaiki iklim investasi, memangkas prosedur birokrasi, dan mempermudah investasi masuk dengan beragam insentif tahun ini,” kata Fujimoto.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo menyatakan afirmasi JCR menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi perlambatan ekonomi dan volatilitas pasar keuangan global. 

“Di saat beberapa negara menghadapi penurunan peringkat, Indonesia justru mampu mempertahankan peringkat layak investasi. Hal ini menunjukkan Indonesia melakukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas sekaligus mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan struktur yang lebih sehat,” kata Agus.

Sebelumnya lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service kembali menempatkan Indonesia sebagai negara layak investasi (investment grade) dengan rating Baa3 atau stable outlook.
Dalam rilis resminya dikutip Jumat (29/1), Moody's menjelaskan yang menentukan peringkat setiap negara antara lain pengelolaan keuangan pemerintah yang kuat di tengah peningkatan defisit fiskal dan respons kebijakan otoritas yang efektif dalam mengelola risiko penurunan harga komoditas dan pelemahan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,7 persen tahun lalu. Sementara rupiah telah anjlok 11 persen terhadap dolar Amerika sepanjang 2015.

Di sisi lain, Moody's menilai para pengambil kebijakan sejauh ini efektif dalam mengelola risiko sehingga membuat kondisi ekonomi stabil.

Menanggapi hal itu Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro meyakinkan Indonesia masih menjadi pilihan negara tujuan investasi apabila dibandingkan dengan negara-negara ekonomi berkembang lainnya
"Pokoknya kita mendapat masukan dari investor luar negeri, pertama Indonesia dianggap save haven diantara emerging market lainnya . Itu good news-nya. Kedua, Indonesia termasuk emerging market yang istilahnya tidak membuat investor khawatir," jelas Bambang beberapa waktu lalu.

Selain itu aksi teror di Thamrin Jakarta yang terjadi 14 Januari lalu dianggap tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap iklim investasi di Indonesia.

"Saya pikir ada concern, tapi ya tidak mengganggu penilaian mereka terhadap Indonesia," jelasnya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu