Suku Titisan Dewa di Tanah Papua

Suku Titisan Dewa di Tanah Papua

Suku Titisan Dewa di Tanah Papua

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Pada jaman dahulu kala, satu Dewa bernama Fumeripitsy turun ke bumi. Ia menjelajah bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa dan mengalahkannya. Walaupun menang, sang Dewa terluka parah dan terdampar di sebuah tepian sungai.

( Tarian Perang suku Asmat | foto : merdeka.com)

Dengan kesakitan sang Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu seekor burung Flaminggo yang berhati mulia dan merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah. Ia juga membuat sebuah genderang yang sangat nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti.

Gerakan sang Dewa sungguh dahsyat hingga membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup. Tak lama kemudian, kedua patung itu pun ikut menari dan bergerak mengikuti sang Dewa. Kedua patung tersebut adalah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.

( Tikiroom.com )


Penggalan mitologi di atas adalah sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh Suku Asmat, salah satu suku yang terbesar di Papua. Mitos ini membuat suku Asmat masih mempercayai bahwa mereka adalah titisan dewa hingga kini. Tidaklah berlebihan, karena Asmat memang memiliki kebudayaan yang sangat dihormati. Bahkan, suku ini sudah dikenal hingga ke mancanegara, sehingga tidak asing bila ada peneliti-peneliti dari seluruh penjuru dunia sering berkunjung ke kampung suku Asmat. Mereka umumnya tertarik untuk mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaannya, serta adat istiadat yang begitu unik dari suku Asmat. Suku Asmat sendiri sebenarnya terbagi lagi menjadi dua, yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di wilayah pedalaman.

( Kesenian Asmat | foto" viva.co.id )


Pola hidup, cara berpikir, struktur sosial dan keseharian kedua kategori Asmat ini sangatlah berbeda. Sebagai contoh, dari sisi mata pencaharian mereka misalnya, suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan sebagai mata pencaharian. Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.

Walaupun kedua populasi ini punya banyak perbedaan, namun keduanya memiliki karakteristik yang sama. Misalnya, dari segi ciri-ciri fisik. Suku Asmat memiliki rata-rata ketinggian sekitar 172 cm untuk pria dan 162 cm untuk wanita. Kulit mereka umumnya hitam dengan rambut yang keriting. Ciri fisik ini disebabkan karena suku Asmat masih satu keturunan dengan warga Polynesia. Wilayah persebaran suku Asmat dimulai dari pesisir pantai laut arafuru hingga pegunungan Jayawijaya.

Secara keseluruhan mereka menempati wilayah kabupaten Asmat yang punya kurang lebih 7 kecamatan. Walau nampaknya dekat, namun jarak antar kampung dan kampung dengan kota kecamatan sangat jauh, bahkan perjalanannya dapat memakan 1 hingga 2 hari dengan berjalan kaki. Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak bisa memasukkan kendaraan ke Asmat, namun wilayah Asmat yang berawa-rawa hanya bisa dilewati dengan perahu atau berjalan kaki.

Suku Asmat sangat terkenal dengan tradisi dan keseniannya. Mereka dikenal sebagai pengukir handal dan diakui secara internasional. Ukiran asmat sangat banyak jenisnya dan beragam. Namun, biasanya ukiran yang dihasilkan bercerita tentang sesuatu, seperti kisah leluhur, kehidupan sehari-hari dan rasa cinta mereka terhadap alam. Keunikan ukirannya inilah yang membuat nama suku Asmat begitu mendunia hingga kini.

Jalan kayu di Agats[Foto Wikipedia]

Selain kesenian, salah satu tradisi yang sangat menarik untuk disimak adalah rumah Bujang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Jew. Rumah ini adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada. Begitu pentingnya, hingga dalam mendirikan Jew pun ada upacara khusus yang harus dilakukan.

Jew, hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah. Sesekali kaum wanita boleh masuk tetapi harus dalam situasi pertemuan besar. Suku Asmat banyak memiliki kesenian tari dan nyanyian. Mereka menampilkan tari-tarian berikut nyanyian ini ketika menyambut tamu, masa panen, dan penghormatan kepada roh para leluhur. Mereka sangat hormat kepada para leluhurnya, hal ini terlihat dari setiap tradisi yang mereka miliki.

Walaupun kini kebudayaan modern sudah banyak berpengaruh pada kehidupan mereka, namun tradisi dan adat Asmat akan sulit untuk dihilangkan. Suku Asmat memiki kebudayaan yang luar biasa dan layak untuk menjadi objek utama yang patut dipelajari lebih jauh saat berkunjung ke Papua. [@phosphone/IndonesiaKaya]

gambar utama : tribalart.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mantan CEO di Jepang, Merubah Bantaeng menjadi Destinasi Wisata. Sebelummnya

Mantan CEO di Jepang, Merubah Bantaeng menjadi Destinasi Wisata.

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Akhyari Hananto

1 Komentar

  • Mau tau rahasia dan jurus cerdas cepat kaya lewat internet??? Diklik aja langsung http://zeiclick.com/?id=Nahl2010 Pahami dan baca sampai tuntas ya... Ini benar2 terbukti dan bukan penipuan dan bukan pula bisnis MLM. Ini murni bisnis yang harus dijalankan dengan penuh kerja keras. Anda hanya bermodalkan koneksi internet. Ya, anda hanya cukup terkoneksi ke internet.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.